preload
Dec 09

*Catatan Kuliah “Il faut défendre la société” oleh M. Foucault, 7 Januari 1975

Sebenarnya eksplorasi ini tidak berhubungan dengan Krisis Cicak vs Buaya. Pembaca bisa memeriksa catatan-catatan sebelumnya, untuk melihat latar belakangnya (Sketsa exposisi… dan Foucault dan Geopolitik). Akan tetapi, beberapa perbincangan dengan berbagai kawan lama membuat saya ingin menempatkan Krisis Cicak vs Buaya (KCB) sebagai pintu masuk eksplorasi ini.

Ada dua hal dalam KCB yang saya amati. Pertama, cepatnya grup Facebook pendukung Bibit-Chandra yang didirikan Usman Yasin meraih 1.200.000 anggota. Angka ini, dengan jumlah hari sejak didirikan, mungkin termasuk grup Facebook yang terbesar dan tercepat dalam perekrutan. Lebih lagi, isu yang diangkat politis, menempatkan 500 orang pertama yang diundang bergabung untuk melakukan tindakan refleks: klik bergabung atau abaikan. Dan jangan lupa, mereka yang pertama bergabung, segera menjadi perekrut gerakan klik. Dalam satu minggu kemudian, setelah didukung pemberitaan media massa, jumlah pendukung grup Facebook ini melampaui satu juta.

Seorang kawan, Puthut EA,  mencatat fenomena ini sebagai gerakan massa yang bahkan lebih besar dari penolakan kenaikan BBM pada masa pemerintahan SBY-JK. Ia menanggapi berbagai rumor dan spekulasi mengenai kejatuhan SBY-Boediyono karena rangkaian skandal Bank Century, Bibit-Chandra, dan tentunya kasus Antasari Azhar. Puthut juga menutup catatannya dengan kesimpulan bahwa SBY-Boediyono tidak akan jatuh kecuali terdapat “terobosan gerakan”.

Hal kedua, saya melihat adanya kecenderungan, yang sebenarnya tidak luar biasa untuk menjadi catatan, perilaku kelembagaan yang mirip pada Kepolisian dan Kejaksaan dalam menghadapi kasus-kasus seperti Prita vs Omni Internasional ataupun Bibit-Chandra. Lembaga-lembaga negara tersebut tampak seperti menantang tekanan publik, yang lagi-lagi berawal dari dunia internet. Dalam kasus Prita vs Omni Internasional, meski terkuak bahwa Kejaksaan Negeri Tanggerang melakukan kesalahan dalam penyidikan dan penyusunan tuntutan, begitu terlihat determinasinya untuk mengadili Prita yang sebenarnya merupakan korban malpraktik yang kini menjadi terdakwa pencemaran nama baik. Perilaku yang sama juga ditunjukkan, kali ini Kejaksaan dan Kepolisian, dalam kasus tuduhan suap dan penyalahgunaan kekuasaan dua pimpinan KPK, Bibit dan Chandra. Mirip dengan Prita, keduanya kini dibebaskan dari sel tahanan akan tetapi kasus mereka tetap berlanjut ke pengadilan.

Eksplorasi ini tidak bermaksud menilai jatuh atau tidaknya pemerintahan sekarang. Pertanyaan tersebut tidak pernah menjadi penting, sebenarnya, karena secara kongkrit hanya bisa membedah sebagian kecil dinamika yang tengah dan akan terjadi, dan beresiko besar terperangkap oleh spekulasi-spekulasi yang sering fantastis. Sebaliknya, eksplorasi ini ingin mencari tahu tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya dinamika politik belakangan ini.

Continue reading »

Sep 28

Sejujurnya, saya temukan nama Foucault cukup lama, tapi sekian lama juga saya mengabaikannya.

Pada satu sore, sekitar 11 tahun silam, di tengah menunggu salah satu sesi kursus politik yang diadakan di tempat kos salah satu peserta, saya menemukan sebuah buku, “Introducing Foucault”. Akan tetapi komik tersebut masih kalah menarik dengan judul lain dalam seri yang sama, Introducing Marx, yang kebetulan salah satu bagian dari karyanya akan kamu bahas sore itu. Saya tidak terlalu ingat apa topik spesifik sore itu, yang pasti mengenai ekonomi politik, dan kami telah berhari-hari mengunyah halaman demi halaman sebuah diktat mengenai kapitalisme. Foucault menjadi tidak menarik, menjadi bagian dari sekelompok intelektual yang dengan cap “posmo”, kami – para peserta kursus- akan menghindari membaca karya-karya mereka.

Kali kedua saya menemukan nama Foucault, adalah ketika di saat mempelajari Geopolitik. Buku Geraroid O Tuathail, Critical Geopolitics, memperkenalkan saya kepada “pengaruh” Foucault ke dalam studi Geopolitik, khususnya kepada perkembangan Institut Français de Géopolitique (IFG) yang dipelopori Yves Lacoste, dan merupakan tempat saya mengikuti studi geopolitik. O Tuathail mencoba memperlihatkan aliran pengaruh ini: Edisi pertama Hérodote, jurnal berkala IFG, memuat secara spesial wawancara dengan Foucault. Relasi lainnya, kelompok akademisi geografi yang di kemudian hari membentuk IFG dan juga Foucault adalah para pengajar dalam sebuah universitas eksperimental (Université de Vincennes, kini Université Paris 8).

Hanya saja saya tidak se-antusias O Tuathail soal Foucault dan IFG. Deleuze, Lacan, Guattari, Badiou juga tercatat sebagai pengajar di sana. Kenapa tidak sekalian membahas mereka? Tanggapan dari akademisi yang terhubung dengan Hérodote, yang diperlihatkan dalam buku Space, Knowledge, and Power; Foucault and Geography oleh J.W Crampton et al juga belum cukup memuaskan. Tapi saya kembali teringatkan, serial ini hanyalah sebuah eksposisi pemikiran. Saya tidak sedang membangun sebuah teori atau mencari suatu teori untuk menjelaskan keseluruhan peristiwa dunia. Saya ingin menempatkan Foucault dan para penerjemahnya sebagai sekumpulan alat yang praktis, meski bukan model tipsani (kutip sana dan sini), dalam berpikir dan melakukan analisa geopolitik.

Continue reading »

Tagged with:
Aug 07

* Sebuah Catatan untuk Pemilu 2009

Majalah Tempo edisi 27 Juli 2008 mengulas tentang tokoh-tokoh yang mengajukan diri sebagai kandidat Presiden RI pada Pemilu 2009. Empat di antaranya adalah pensiunan jenderal Angkatan Darat: Sutiyoso, Wiranto, Prabowo, dan Kivlan Zen. Tampilnya keempat tokoh militer ini akan menantang tentunya SBY yang akan maju kembali. Kehadiran mereka serasa mengingatkan kembali kepada sebuah kategori politik dalam gerakan pro-demokratik pra-kejatuhan Suharto: para kapitalis bersenjata. Penggolongan ini sangatlah kuat dalam desakan anti-militerisme dalam transisi demokratik di Indonesia, karena menyatakan bahwa Dwifungsi ABRI didasari oleh kepentingan bisnis para perwira tinggi dengan Jendral Besar Suharto sebagai puncak simbolisnya. Sorotannya juga tajam, menguak bisnis-bisnis para perwira, baik sebagai perseorangan maupun melalui yayasan/koperasi, yang ternyata memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan ekonomi Indonesia di jaman Suharto.

Continue reading »

Tagged with: