Ekonomi Perang dan Neoliberalisme

“war is peace,
ignorance is strength,
freedom is slavery.”
Slogan Big Brother dalam 1984, karya George Orwell

Sekelumit Sejarah Perang dan Ekspansi Pasar

Perang Dunia I (1914-1918) meletus setelah pembunuhan Prince Ferdinand, putra mahkota Imperium Austria-Hungaria, yang berkuasa di jazirah Balkan dan Eropa Tengah. Tapi yang menjadi bahan bakar perang, yang mengorbankan jutaan nyawa, adalah perebutan koloni-koloni di Timur Jauh (daratan Cina) dan Afrika, yang telah terjadi puluhan tahun sebelumnya, dan daerah-daerah industri yang dipersengketakan di Eropa Barat.

Di daratan Cina, para kapitalis Jerman dan Inggris bersaing memperluas koloni mereka, yang mereka rampok setelah perang candu. Di jazirah Arab dan Mesir, kekuasaan Imperium Turki, yang melemah, membuat daerah yang kaya minyak dan di mana jalur utama perdagangan (Terusan Suez dan bagian timur Laut Mediterania), menjadi incaran kapitalis Inggris. Bahkan Konstantinopel (Ankara), yang menjadi ibukota Turki, dan bagian selatan Balkan (wilayah jajahan Turki), menjadi incaran kapitalis dan monarkis Rusia.

Diawali dengan perlombaan pertumbuhan angkatan laut dan persenjataan yang mengiringi persaingan perluasan pasar, perdagangan, dan sumber-sumber bahan mentah di koloni-koloni, dengan mudah isu pembunuhan Pangeran Austria-Hungaria meletus menjadi Perang Dunia. Perang Dunia tersebut memiliki akhir yang diakibatkan situasi revolusioner pemberontakan para prajurit, kaum tani, dan kelas pekerja di negeri-negeri yang berperang (seperti revolusi Rusia 1917, revolusi Jerman 1918). Kemudian, terjadi pembagian wilayah-wilayah dunia melalui perjanjian Versailles. Tidak heran, jika Perang Dunia I dikatakan oleh banyak sejarawan sebagai perang yang mengakhiri perang-perang (kolonial) lainnya.

Penjatahan dunia, yang dihasilkan perjanjian Versailles, ternyata tak mengakhiri ketegangan politik antar imperialis dunia. Malahan booming ekonomi yang muncul justru melahirkan bencana yang lain: persaingan untuk perluasan pasar. Itu disebabkan kelebihan kapasitas produksi di negeri-negeri imperialis seperti AS dan Inggris. Resesi ekonomi 1929 adalah titik di mana para kapitalis mulai memikirkan perluasan pasar.

Dalam keadaan booming, harga-harga saham jelas meroket, dan membuat kaya para calo saham, kapital finans, dan memungkinkan investasi besar-besaran industri manufaktur. Namun seiring dengan bertambahnya jumlah barang-barang yang diproduksi, tingkat keuntungan menurun karena itu, untuk memenangkan persaingan, para kapitalis menurunkan harga barang-barang mereka. Tapi, persoalannya, kapasitas produksi yang berlebih itu adalah hasil dari investasi yang besar?terutama dalm peningkatan teknologi untuk mengatasi pesaing-pesaing mereka?yang juga mengharapkan keuntungan yang tinggi. Begitu menyadari tingkat keuntungan yang terjadi lebih rendah dari harga saham, para investor beramai-ramai menarik dana mereka, melepas saham-saham mereka di pasar (stockmarket crash).

Kembali, untuk menyalurkan kelebihan kapasitas produksi, para kapitalis merasa perlu memperluas pasar. Bahkan kalau perlu menghancurkan kapasitas produksi saingan mereka. Adolf Hitler berkata Lebensraum (Ruang Hidup) untuk menyatakan kebutuhan kapitalis Jerman memperluas pasar di Eropa. Bahkan banyak kapitalis Amerika, yang terlibat dalam industri-industri Jerman, ikut berinvestasi dalam industri mesin-mesin perang Jerman, karena politik netral dan isolasi Amerika.

Di belahan bumi lainnya, lemahnya kapitalis Perancis dan Belanda di Asia Tenggara membuat Amerika dan Jepang terlibat perang dagang, yang berujung pada embargo minyak bumi atas Jepang. Semua konflik komersial itu berakhir dengan Blitzkrieg (serangan kilat) Jerman untuk merebut Gdansk (kota pelabuhan dan industri Polandia) dan serangan Jepang atas Pangkalan AS di Pearl Harbor.

Tapi, jauh sebelum 1939, kebijakan militerisme dan intervensi militer telah dilakukan oleh negeri-negeri imperialis. Sektor industri yang kapasitasnya berlebih, terutama baja dan mesin-mesin berat, diarahkan oleh Pemerintahan Roosevelt sebagai bagian perbaikan ekonomi setelah resesi untuk mengembangkan industri senjata. Ketika Jepang memperluas imperiumnya ke dataran Manchuria (utara Cina), tak segan-segan AS mengirimkan tentara dan senjata membantu Chiang Kai Sek, Jenderal Kuomintang. Di Eropa, revolusi Spanyol meletus setelah Jenderal Franco mengkudeta pemerintahan aliansi kaum sosialis dan demokrat yang menang melalui pemilu. Pasukan Franco terdiri dari para pendukung jenderal-jenderal kanan, tuan tanah, kapitalis, dan gereja katolik, dengan dukungan alat-alat perang baru dari Jerman dan Italia.

Perang-perang tersebut dengan gamblang memperlihatkan kepentingan perluasan pasar para kapitalis. Kepentingan pasar para kapitalis juga lah yang kemudian menghasilkan perang dingin dan perang-perang terbuka di Alzazair, Vietnam, Kamboja, dan daerah-daerah lainnya. Bahkan, meski mereka menggunakan isu demokrasi untuk menghabisi Jerman, Italia, dan Jepang, para imperialis juga menciptakan (atau setidaknya membantu proses tersebut) rejim-rejim otoriter, sebagian besar mengusung dominasi militer, seperti rejim Soeharto, junta-junta militer di Amerika Latin, dan berbagai tempat lainnya.

Ekspansi Pasar Ala Amerika

Pembukaan akses masuk pasar dengan cara yang militeristik bukanlah metode yang baru bagi imperialisme AS. Bahkan cara ini menjadi ciri dari imperialisme AS dalam sejarah dunia abad 20. Ekspedisi-ekspedisi pembukaan pasar lebih banyak dilakukan AS, dibanding Jerman atau Jepang sebelum Perang Dunia I. Begitu para kapitalis nasionalnya membutuhkan pasar-pasar baru, dengan segera terjadi pengiriman pasukan. Sejarah mencatat bahwa wilayah barat AS, dari Texas sampai California, didapat dengan cara perampasan dari suku-suku Indian Amerika dan Negara Meksiko.

Setelah konsolidasi kapitalisme dalam negerinya dituntaskan melalui Perang Saudara (1861-1865), kapitalisme AS segera memperluas pasarnya, baik melalui penguasaan teritorial dengan agresi maupun dengan membuka paksa pasar-pasar negeri-negeri jauh. Armada Angkatan Laut dan Angkatan Darat AS telah berada di pantai utara Afrika, Filipina, Kepulauan Karibia, dan Cina. Militer AS juga sangat sering terlibat dalam upaya penindasan gerakan-gerakan rakyat miskin, jauh sebelum Perang Dunia I terjadi.

Menjelang perempat akhir abad 19, AS bergabung dengan pasukan koalisi negara-negara imperialis yang masih muda bersatu menghantam kekuatan rakyat Cina yang menolak masuknya barang-barang negeri-negeri imperialis, terutama opium. Konflik yang dikenal sebagai Perang Boxer ini, menghasilkan pembagian wilayah-wilayah pelabuhan daratan Cina di antara para imperialis. Sebelumnya, ekonomi Jepang yang tertutup dipaksa dibuka oleh kehadiran kapal-kapal perang AS yang dipimpin oleh Laksamana Perry.

Dominasi AS di Amerika Latin, secara militer dan terang-terangan, telah dilakukan jauh sebelum Perang Dunia I. Konflik AS melawan rakyat Kuba bukanlah baru dimulai ketika kaum revolusioner di bawah pimpinan Castro dan Che Guevara merebut kekuasaan tahun 1958. Pada akhir abad 19, AS dengan terbuka melibatkan diri berperang bersama Spanyol untuk merebut Kuba. Pada saat itu, ada gerakan revolusioner rakyat Kuba melawan penjajahan Spanyol, yang mana perang tersebut membahayakan stabilitas perdagangan AS di Karibia. Bahkan pada saat itu, perlawanan terhadap penjajah Spanyol sedang meluas di berbagai negara, dalam bentuk yang revolusioner. Itulah yang menyebabkan AS, setelah berhasil meredam dan merepresi perlawanan rakyat Kuba, juga mengirimkan pasukannya ke berbagai negara Amerika Latin seperti Panama, El Salvador, dan lain-lainnya. Kemudian, pemerintahan-pemerintahan boneka pro AS segera didirikan. Namun, setelah Perang Dunia I, AS berulang kali mengirimkan pasukan ke negeri-negeri Amerika Latin untuk meredam pemberontakkan yang dilakukan oleh rakyat terhadap pemerintahan-pemerintahan boneka tersebut.

Setelah Perang Dunia II yang menempatkan AS dan Uni Soviet sebagai pemenang, gerakan revolusioner di negeri-negeri jajahan meluas dan muncul sebagai pemberontakkan pembebasan nasional. Cina, Indonesia, Vietnam, Aljazair, Korea, dan Malaysia, tiba-tiba menjadi ladang subur yang mengandung bibit-bibit pemerintahan pro rakyat, pemerintahan kiri. Satu per satu melepaskan diri dari ikatan kolonialnya dan merdeka. Namun sangat terlihat, kekuatan militer AS dengan segera turut campur untuk meredam gerakan-gerakan pembebasan nasional tersebut. Lepasnya negeri-negeri tersebut dari penjajah lama membuat AS mengirimkan agen-agen sabotase dan pasukan. Di Korea, atas nama Dewan Keamanan PBB, pasukan AS yang dipimpin Jenderal Douglas McArthur menyerang kota-kota yang dikuasai oleh Tentara Rakyat Korea, dan memaksakan pembagian Korea menjadi dua.

Perang Vietnam mungkin menjadi titik balik ekspansi militeristik AS dengan menggunakan penempatan pasukan secara besar-besaran. Berkekuatan setengah juta pasukan wajib militer (conscript) yang didukung oleh armada lautnya, AS mencoba meredam gerakan pembebasan nasional Vietnam. Namun rakyat Vietnam yang sebelumnya berhasil menghancurkan Kolonialisme Perancis, kemudian “menggulung” (meminjam bahasa Pramoedya Ananta Toer) militer superpower AS. Pelajaran dari Vietnam memang membuat taktik intervensi militer AS berbeda, dan semakin mengandalkan senjata jarak jauh dan senjata pemusnah massal. Pengiriman pasukan dalam jumlah besar memiliki resiko yang besar terhadap pemerintah AS sendiri. Setelah Perang Dunia II saja, terjadi gerakan menuntut pemulangan pasukan di antara tentara AS. Ketika Perang Vietnam berlangsung, tekanan rakyat AS yang bersolidaritas dengan rakyat Vietnam berubah menjadi gerakan yang setiap waktu bisa meledak menjadi pemberontakkan revolusioner.

Kini Angkatan Perang AS meliputi 40% dari pembiayaan angkatan perang di seluruh dunia. Sebanding dengan jumlah seluruh biaya angkatan perang 8 negara urutan di bawahnya. Bahkan, Angkatan Perang AS telah membagi dunia menjadi 5 teritorial komando, Komando Utara, Komando Selatan, Komando Eropa, Komando Tengah, dan Komando Pasifik. Dalam laporan deploymen kekuatan yang diterbitkan oleh www.globasecurity.org, sangat jelas terlihat bagaimana kapal-kapal perang AS berpatroli “mengamankan” negeri-negeri yang akan, atau dalam proses dirampok oleh mereka.

Grup-grup tempur AS yang terdiri dari kapal induk dan belasan kapal perang permukaan serta kapal selam, dengan pesawat-pesawat tempur yang mereka bawa, pada esensinya tidak berbeda dengan kapal-kapal ekspedisi militer yang dipakai negara-negara imperialis kuno seperti Inggris pada abad 18-19. Tugasnya sangat jelas, mengamankan akses kepentingan AS atas suatu negeri, dan tentunya mendikte negara manapun yang menentang kepentingan AS. Dalam Quadrennial Defense Report Review 2001, laporan rencana kebijakan militer AS yang dibuat oleh Donald Rumsfeld, sangat jelas menyatakan bahwa salah satu sasaran kerja Departemen Pertahanan AS adalah bagaimana “mengirimkan dan mempertahankan kekuatan AS di lingkungan anti akses (AS) dan penolakan wilayah, serta mengalahkan ancaman-ancaman anti akses dan penolakan wilayah.”

Jika dalam masa Perang Dingin AS mengggunakan pertahanan gertak (deterrence) dengan persenjataan nuklir, maka kini imperial AS menggunakan serangan militer mendahului ancaman (preemptive strike), seperti yang ditegaskan George W. Bush. Kalangan moralis mungkin akan mengajukan tuduhan bahwa Bush sudah kurang waras dan membahayakan tatanan global. Jelas tidak, ini bukan karena ketidakwarasan Bush ataupun sebatas arogansi AS sebagaimana yang dituduhkan banyak pihak. Ini adalah suatu pilihan yang logis bagi sebuah negara imperialis.

Dalam beberapa tahun belakangan, aspek dominasi militer juga telah memasuki ruang luar angkasa, di mana AS telah menghidupkan beberapa proyek “Perang Bintang”nya. Dalam Dokumen Vision 2020 yang disusun USAF dan juga Quadrennial Report 2001, sangat terlihat bagaimana ambisi imperial AS akan terpenuhi setelah adanya penempatan senjata-senjata strategis di luar angkasa.

Candu Lain Dalam Perang: Perkembangan Teknologi

Produksi massal mesin-mesin yang merupakan ciri dari kapitalisme abad 20 ternyata fondasinya terletak pada masa Perang Sipil Amerika Serikat. Sebelumnya pembuatan mesin belum menggunakan teknik cetak komponen-komponennya. Adalah Sammuel Colt yang memperkenalkan teknik cetak komponen mesin, di tengah janjinya kepada para jenderal Union (istilah untuk Pemerintahan Lincoln) memproduksi ribuan senapan dalam waktu singkat.

Ketika Frederick Engels berpolemik melawan Dühring, ia menganalisa hubungan antara militerisme dan perkembangan teknologi dalam kapitalisme. Sejarah menunjukkan bahwa berlangsungnya perang sangat tergantung pada produksi senjata, yang dengan sendirinya tergantung pada kondisi ekonomi negara-negara yang bertikai. Lebih tepatnya, pada perkembangan teknologi dan industri karena menurut Engels “industri tetaplah industri, tak peduli apakah ia dipakai untuk memproduksi atau menghancurkan barang-barang.” Lebih lanjut lagi, Engels mencatat perkembangan senjata sudah jauh berbeda di saat kapitalisme telah mengambil alih dunia. “Kapal perang modern bukan hanya sebatas sebuah produk, melainkan pada saat bersamaan adalah contoh dari industri modern berskala besar, sebuah pabrik mengapung di lautan.”

Dunia kemudian menyaksikan bagaimana Perang Dunia I mendorong pemanfaatan berbagai teknologi yang sebelumnya hanya dimiliki oleh para ilmuwan eksentrik sisa abad sebelumnya. Penggunaan pertama teknologi dirgantara adalah pesawat-pesawat tempur pada Perang Dunia I. Perusahaan Bayer yang kini terkenal di Indonesia dengan produk Baygon, pada masa itu adalah produsen gas syaraf yang digunakan dalam pertempuran-pertempuran parit. Warna perang memang menjadi paling barbar dibandingkan sebelumnya. Hanya untuk mendapatkan jarak 100 meter, dilakukan pertempuran berbulan-bulan, dan karena telah digunakannya senapan mesin, setiap hari untuk 100 meter sial itu jatuh ratusan korban tewas. Teknologi yang digunakan semakin canggih dan menyeramkan. Howitzer, kapal selam, tank dan lainnya membuat target perang bukan hanya sasaran militer, tetapi juga sipil. Namun, semua ini bersifat sebatas memanfaatkan, bukan mendorong munculnya teknologi baru.

Setelah Perang Dunia II, produksi senjata bukan lagi ‘contoh dari industri modern berskala besar’, tapi ia sudah menjadi pusat perkembangan teknologi yang dibutuhkan industri-industri kapitalisme. Perang Dunia II juga menjadi sumber pengembangan teknologi yang sebelumnya tidak akan ada tanpa kebutuhan perang. Komputer dan kalkulator adalah bagian dari hasil pengembangan mesin pemecah kode rahasia. Tidak akan ada alat komunikasi bergerak perorangan seperti handphone tanpa ada pengembangan Handy-Talky untuk keperluan perang. Dapat dikatakan, semua produk teknologi yang sekarang menjadi bagian sehari-hari kita adalah didasarkan pada inovasi-inovasi yang tercipta pada Perang Dunia II.

Akibatnya, kapitalisme semakin tenggelam dalam militerisme. Alih-alih menjanjikan damai dan demokrasi, kapitalisme lebih memilih menciptakan kondisi yang memungkinkan pengembangan senjata lebih lanjut. Apalagi, biaya pengembangan teknologi tersebut akan ditanggung oleh negara. Semasa Perang Dingin, penggunaan produksi dan pengembangan senjata untuk kepentingan kapitalisme semakin hebat. Industri dirgantara, elektronika, dan nuklir menjadi sektor-sektor yang paling diuntungkan oleh pengembangan teknologi senjata semasa Perang Dingin. Bahkan ekonomi yang tumbuh pada akhir 1980an dan sepanjang 1990an adalah ekonomi yang mengandalkan teknologi hasil Perang Dingin. Internet, fungsi sms (dan tentunya pager) pada telepon seluler, dan seterusnya.

Kembalinya Ekonomi Perang

“Banyak waktu dalam abad yang lalu, pertahanan Amerika mengandalkan doktrin penggertakkan (deterrence) dan pengungkungan (containment). Dalam beberapa kasus, strategi tersebut masih dapat berlaku. Tapi ancaman-ancaman baru juga memerlukan pemikiran baru. Penggertakkan-janji melakukan pembalasan besar-besaran terhadap bangsa lain-tak akan berguna untuk melawan jaringan teroris yang tak harus membela bangsa dan rakyat… Pengungkungan tak akan mungkin ketika diktator yang kuat bersenjatakan senjata pemusnah massal dapat meluncurkan senjata atau rudal tersebut ataupun memberikan senjata tersebut pada teroris sekutunya… Jika kita tunggu ancaman-ancaman tersebut mematangkan diri, kita akan terlalu lama menunggu… Perang Melawan Teror tak akan dimenangkan dengan cara bertahan. Kita harus bertempur melawan musuh-musuh kita, ganggu rencana-rencana mereka, dan hadapi ancaman yang terburuk sebelum ancaman tersebut muncul. Dalam dunia yang kita masuki saat ini, satu-satunya jalan yang menuju keamanan adalah bertindak. Dan bangsa Amerika akan bertindak.”
— Pidato Bush di depan generasi baru militeris yang baru lulus dari akademi militer West Point, 1 Juni 2002.

Pidato ini adalah gambaran paling tepat dari semangat kaum militeris Amerika. Bukan sebatas menunggu diserang, kini AS telah menebar ancaman serangan militer ke berbagai negara. Bahkan untuk kasus Iran dan Suriah, AS mampu melakukan serangan segera dengan kekuatan pasukannya yang ditempatkan di Timur Tengah. Dengan dua ratus ribu tentara, dengan 96.000 prajurit tempur dan tambahan 55000 tentara yang menuju daerah Teluk Persia, jelaslah bukanlah direncanakan untuk ‘membebaskan’ Irak. Untuk kasus Korea Utara, beberapa tahun terakhir kira-kira 85.000 prajurit AS ditempatkan di Jepang dan Korea Selatan. Secara keseluruhan, kira-kira setengah juta tentara AS bersama dengan 400 kompleks militer ditempatkan di seluruh belahan dunia. Jelas hal ini menempatkan AS sebagai negara yang paling berkuasa dan paling berpengaruh terhadap negara-negara lain. Bahkan, dengan kekuatan militernya, AS-lah yang paling mampu menjamin keberlangsungan dunia imperialis.

Kondisi krisis yang memuncak pada pertengahan tahun 2001 akhirnya membuat para kapitalis AS kembali mengutamakan kebijakan militerisme. Hal tersebut disebabkan berbagai kebutuhan mendesak para kapitalis untuk menjaga posisi kelas mereka.

Pertama, perlawanan terhadap kapitalisme dalam isu anti globalisasi telah mencapai tingkat mobilisasi massa yang tinggi. Bahkan perlawanan ini telah melahirkan embrio kerja sama antar rakyat dari berbagai negeri untuk melawan kapitalisme dan telah mewujudkan diri dalam mobilisasi puluhan sampai ratusan ribu massa untuk menantang setiap pertemuan para kapitalis dunia. Sampai-sampai pertemuan WTO pernah dipindahkan ke Doha, Qatar, karena rasa takut kaum kapitalis atas militansi perlawanan anti kapitalisme. Kini menyebarluas di seluruh dunia, baik di negara-negara maju ataupun negara dunia ketiga, usaha-usaha untuk merampas demokrasi dengan pemberlakuan undang-undang anti teroris yang mengijinkan pengintaian terhadap organisasi atau individu yang digolongkan berpotensi menjadi teroris, penangkapan atas dasar kecurigaan, dan penahanan tanpa batas. Jika dilihat definisi terorisme yang ada di semua undang-undang, aksi mogok, pemogokkan umum, dan sejenisnya dapat digolongkan sebagai terorisme. Pemerintahan Bush baru-baru ini menambahkan 37 milyar dolar ke anggaran pertahanan dalam negeri yang sudah mencapai 29 milyar USD, seiring dengan pembangunan Departemen Keamanan Dalam Negeri dan penambahan kekuasaan dan tenaga kepolisian.

Kedua, seperti dalam krisis kapitalisme yang melatar belakangi Perang Dunia II, ada kebutuhan kapitalisme untuk menyelamatkan industri-industri besar yang mengalami kelebihan kapasitas produksi dengan mengedepankan kembali pengembangan industri militer. Untuk hal ini, tahun 2003 ini Kongres AS menyetujui penambahan $ 30 milyar atas anggaran militer AS, sehingga mencapai $ 330 milyar (sepuluh kali lipat dari APBN Indonesia). Selain menyelamatkan dunia industri, anggaran militer ini dapat dipastikan membiayai pengembangan-pengembangan teknologi baru, membebaskan para kapitalis besar AS dari biaya pengembangan teknologi industri mereka-karena semua itu akan ditanggung negara dengan uang pajak yang diambil dari rakyat miskin (ingat, di AS kini para kapitalis dibebaskan dari pajak dengan alasan pertumbuhan ekonomi).

Ketiga, kebijakan militerisme ini juga tidak dapat dilepaskan dari upaya mencari sumber-sumber akumulasi modal baru. Upaya tersebut bahkan sejak lama dirumuskan, ketika masa pemerintahan Clinton. Sistem kapitalisme pada negara-negara imperialis adalah sistem yang sangat haus dana segar untuk terus dapat bertahan dan berkembang. Minyak bumi dan komersialisasinya menjadi penentu timbulnya sumber-sumber akumulasi ini. Tanpa dikuasainya minyak bumi Irak, pemulihan ekonomi kapitalisme global, terutama di daerah-daerah jarahan (Asia Tenggara, Afrika Utara, Amerika Latin) akan terus-menerus dalam kondisi suram.

Keempat, kapitalisme global sedang menghadapi krisis legitimasi ideologi yang justru bukan pada negeri-negeri jarahan, tetapi berkembang meluas di dalam negeri-negeri dunia pertama. Karena itu sangat penting bagi AS untuk memusnahkan negara-negara yang menjadi alternatif ideologis terhadap idelogi pasar bebas AS. Penghancuran Korea Utara dan Kuba akan dijadikan bukti yang akan dibawa oleh AS ke rakyat manapun bahwa pasar bebaslah yang akan menang.

Dalam konteks ekonomi AS, seperti halnya yang disampaikan poin kedua di atas, kita akan melihat bahwa pengembangan industri militer AS yang saat ini kembali memuncak telah mengawali ekonomi perang. Bukti yang paling nyata adalah dari anggaran pertahanan yang dicanangkan oleh Bush. Sebelumnya, pada masa Clinton rencana anggaran pertahanan telah meningkat sebanyak $112 milyar (untuk tahun 1999-2003). Sebelum peristiwa 11 September 2001, Kongres AS telah menyepakati $304 milyar untuk tahun 2001. Pada tahun 2002, $351 milyar. Anggaran militer tersebut telah meningkat pada 2003 mencapai $396 milyar dan direncanakan terus meningkat hingga $470 milyar pada tahun 2007. Di luar itu, sejak berkuasanya Bush, proyek-proyek pengembangan senjata baru juga mendapatkan pendanaan yang tidak kalah besar. Untuk program pengembangan pesawat tempur baru, AS akan menghabiskan $ 200 milyar selama sepuluh tahun. Program perlindungan AS terhadap rudal balistik (NMD) akan menghabiskan $ 70 milyar selama 5 tahun.

Dana pertahanan sebesar itu akan menguntungkan segolongan kelompok-kelompok bisnis raksasa (Lockheed Martin, Boeing, Raytheon, Northrop Grumman) yang kini menerima hampir setengah proyek-proyek pesanan Pentagon. Sebelumnya, kelompok-kelompok bisnis tersebut dilahirkan dari merger-merger yang didukung oleh Pentagon dan kapital finansial, yang dimulai sejak tahun 1993. Wajar saja jika postur anggaran pertahanan seperti itu menghasilkan kenaikan harga-harga saham sebesar 10% di perusahaan-perusahaan tersebut (terutama Raytheon dan Northrop Grumman) sepanjang September 2001-Agustus 2003, di saat indeks S&P 500 jatuh sebesar 20%.

Keuntungan lainnya untuk industri senjata adalah pendirian Departemen Keamanan Dalam Negeri. Mereka sudah memiliki kemampuan untuk dengan mudah melakukan pengembangan yang dibutuhkan dalam meningkatkan keamanan jaringan komputer yang dipergunakan oleh transportasi dan telekomunikasi, dan berbagai teknologi yang sebelumnya dikembangkan hanya untuk kepentingan militer dengan gampang diserap oleh pasar keamanan ‘sipil’. Apalagi elit politik AS kini tengah gandrung untuk menguatkan peraturan-peraturan keamanan, yang jelas-jelas menguntungkan industri militer mengingat hubungan erat dan perkoncoan mereka dengan pemerintah yang kini berkuasa.
Peran Pasar Finansial

Ekonomi perang tersebut dibangun dengan konteks berbeda yang terjadi pada masa Perang Dingin. Situasinya berbeda baik secara makroekonomi (pertumbuhan pesat dan kemajuan infrastruktur sosial di negeri-negeri maju) maupun secara geopolitik (AS dan Uni Soviet telah membagi dunia dalam dua kubu). Sejak akhir dekade 1970, kapital finansial telah memapankan dirinya kembali ke posisi dominan. Pasar finansial telah menjadi lembaga sentral kapitalisme pada masa 1980an dan 1990an. Pasar finansial juga telah memungkinkan kapital untuk mengkonsentrasikan kekuasaannya dalam hubungannya dengan kaum buruh dan memudahkan kaum borjuis dan kelas rentenir dunia untuk memperkaya dirinya secara signifikan.

Akan tetapi, baik peningkatan luar biasa dalam tingkat eksploitasi buruh ataupun pembukaan pasar-pasar baru di negeri-negeri Blok Timur tidaklah memulihkan energi muda kapitalisme. Selama dua dekade terakhir, perluasan kapital dan relasi kepemilikan yang di mana perluasan tersebut berdiri di atasnya tidak juga menghasilkan pertumbuhan akumulasi kapital yang signifikan dan berkelanjutan.

Dominasi kapital finansial adalah konsekuensi sekaligus komponen utama dalam situasi ini. Sebabnya, ritme kapital finansial berdasarkan kebutuhan mengantungi keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu sesingkat-singkatnya. Di saat yang bersamaan, cara kerja yang demikian itu memunculkan sosok pemangsa buas dari kapitalisme. Begitu kapital finansial mendorong terjadinya privatisasi dan deregulasi di seluruh dunia, Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin terperosok dalam kekacauan.

Dalam konteks inilah, ‘ekonomi perang’ dan perang tak terbatas yang dilahirkannya terintegrasi dalam berlangsungnya dan ‘kepercayaan’ pasar finansial. Wajarlah analis-analis finansial AS bisa meramalkan sebuah boom pasar saham yang dapat diciptakan oleh ‘pembelian emosional’ saham-saham perusahaan senjata yang terjadi setelah pecahnya perang di Irak. Tentu saja ’emosi’ ini didorong oleh iming-iming pengambil alihan kendali atas minyak Irak.

Dengan begitu, ekonomi predator atau corak penghancuran (berlawanan dengan corak produksi) kini bukan lagi hanya milik kelompok-kelompok bersenjata di Afrika. Ia bukan lagi hanya menampilkan pertarungan atas tambang-tambang intan di Rwanda-Burundi, Pantai Gading, dan negeri-negeri lainnya yang menggunakan pembersihan etnis sebagai bagian dari operasi militer. Ia telah menjadi komponen besar ekonomi dunia, yang menata kembali dunia demi memfasilitasi kerakusan pemilik modal dan rentenir internasional.

Facebook Comments

1 comment for “Ekonomi Perang dan Neoliberalisme

  1. connie
    May 20, 2009 at 7:22 pm

    I have read 1984 too. It was good and almost all the things there are scarily happened…

Leave a Reply