Hidangan untuk Warga Sebuah Imperium

Fast Food Nation: The Dark Side of the All-American Meal
Eric Schlosser
Houghton Mifflin Company
Boston 2001
356 hal

Suatu malam di tahun 2000 saya berjalan bersama seorang aktivis dari United Students Against Sweatshops (USAS), salah satu organisasi yang terlibat dalam kampanye anti-globalisasi di Amerika Serikat. Tahun tersebut gema demonstrasi Seattle November 1999 masih bergaung. Demonstrasi-demonstrasi anti-globalisasi memuncak dalam skala internasional, bahkan aksi-aksi yang memobilisasi massa aktivis dari berbagai negeri begitu marak sampai membuat sebuah pertemuan WTO terpaksa diagendakan di Doha, Qatar. Pada 1 Mei 2000, sebuah restoran McDonald’s, simbol kekuasaan globalisasi, dihancurkan oleh sekelompok penganut anarkisme di London. Bersama massa yang menonton peristiwa itu, mereka membuat api unggun dari papan reklame restoran tersebut, dan menyantap burger ‘gratis’ di Trafalgar Square.

Kami berdiskusi ngalor-ngidul soal globalisasi, kapitalisme global, dan aktivisme sambil menelusuri sepanjang Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Melintasi restoran McDonalds’ di Jalan Thamrin, ia bertanya: “Kenapa tidak membangun saja jaringan waralaba masakan khas Indonesia di seluruh dunia untuk mengalahkan McDonald’s?”

Pertanyaan itu di kemudian hari melintasi jalan Transyogi yang menghubungkan Jakarta dengan Cianjur melalui Jonggol. Di sepanjang jalan itu berbagai kompleks perumahan real-estate bertumbuhan dengan laju yang luar biasa cepat. Namun yang menarik, hal ini dengan segera diikuti dengan berdirinya restoran-restoran cepat saji yang bersaing dengan rumah-rumah makan tradisional. Awalnya hanya ada sebuah restoran McDonald’s, sebuah Pizza Hut, dan sebuah waralaba ala Indonesia, the Rollies beserta Cwie-Mie Malang. Lebih ke dalam ada satu lagi Bakmi Japos. Dalam jangka kurang lebih satu tahun, Kentucky Fried Chicken, Popeye’s, Papa Ron’s, Bolo-Bolo berdesak-desakkan mencoba menarik pelanggan. Benar-benar usaha yang kompetitif.

Usaha ini mulai dirintis kurang lebih empat puluh tahun lalu, dan kini sudah merasuki setiap sudut kehidupan masyarakat Amerika. Awalnya tidak beda dengan para tukang bakso ataupun bahkan hamburger keliling yang sering kita jumpai di perumahan-perumahan ibukota. Citra awalnya juga tak kalah rendah, sebanding dengan saus tomat berbahan bubur kentang, air, penyedap rasa, dan pewarna sintetis yang dipakai dalam ‘industri’ mie ayam pinggir jalan kita. Namun kini ia seolah mengejar para pelanggannya, hidup masyarakat Barat ataupun yang kebarat-baratan seperti tidak akan lepas dari makan cepat saji.

Hal ini tak bisa dilepaskan dari beberapa perubahan mendasar dalam struktur sosial ekonomi masyarakat tersebut. Masa-masa keemasan upah tinggi buruh di dunia Barat yang berakhir pada tahun 1973 mendorong perubahan dalam hubungan rumah tangga. Sejak saat itu, tingkat upah terus menerus menurun sehingga keluarga-keluarga biasa mengalami kesulitan untuk membiayai standar hidup yang telah dicapai sebelumnya. Kebutuhan untuk membayar tagihan pengeluaran rumah tangga memaksa banyak perempuan dan ibu muda meninggalkan keluarga mereka untuk bekerja, tanpa harus terinspirasi oleh feminisme yang pada masa itu juga sedang berkembang pesat. Perubahan peran gender ini terus meningkat, pada tahun 1975 sudah sepertiga dari ibu rumah tangga AS bekerja, kini dua pertiga dari ibu di AS bekerja. Dengan pergeseran peran seperti ini, ‘layanan’ yang biasa diberikan oleh ibu rumah tangga harus digantikan, terutama dalam hal masak-memasak. Perubahan demografik seperti inilah yang menguntungkan industri makanan cepat saji.

Luar biasa memang percepatan jasaboga cepat saji sehingga dapat mendominasi ruang kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika. Pada tahun 1968, hanya ada kira-kira 1000 restoran McDonald’s. Kini, di seluruh dunia terdapat 23.000 restoran waralaba tersebut, dan setiap tahun bertambah kira-kira sekitar 2000 restoran. McDonald’s Corp kemudian menjadi ‘teladan’ industri jasa Amerika yang menciptakan sembilan puluh persen pekerjaan baru di AS. Ia adalah pemilik terbesar jasa eceran di seluruh dunia. Penghasilan terbesarnya ternyata bukanlah dari penjualan makanan cepat saji, melainkan dari pengumpulan sewa waralaba.

Perkembangan bisnis makanan cepat saji tak bisa dilepaskan dari pengubahan citra makanan itu sendiri. Citra menjadi penting untuk mengubah kebiasaan makan masyarakat. Dapat dikatakan perjuangan terbesar dari makanan cepat saji terletak pada penciptaan sekumpulan besar konsumen, yang kecanduannya akan makanan cepat saji dapat memastikan angka penjualan makanan tersebut.

Pada awal abad duapuluh, sebagian besar masyarakat Amerika mencurigai apa yang disebut ‘hamburger’. Ia dianggap hanyalah makanan untuk mereka yang miskin. Banyak orang menganggap hamburger berisi daging busuk yang ditambah dengan pengawet kimia. Sangat jarang hamburger disajikan di restoran-restoran. Citra ini berhasil diubah oleh White Castle, jaringan perusahaan produsen hamburger pertama di AS. Kampanye ‘pemasyarakatan’ hamburger perusahaan ini benar-benar luar biasa banyak akalnya, para pendirinya memanggang hamburger di depan para pelanggan sambil mengatakan bahwa hamburger segar datang dua-empat kali sehari. Dalam kesempatan yang lain, perusahaan ini bahkan mensponsori sebuah percobaan yang melibatkan seorang mahasiswa kedokteran Universitas Minesota yang mencoba hidup selama 13 minggu hanya dengan hamburger dan air. White Castle juga memulai penggunaan nama-nama yang berkonotasi dengan kesehatan ataupun keaslian untuk menamai produk-produknya.

Perjuangan itu tampaknya tidak sia-sia, pembeli hamburger meningkat namun masih sebatas pada kaum laki-laki perkotaan. Perluasan konsumen hamburger kemudian memang lebih banyak dipengaruhi oleh gaya urbanisasi AS pada abad duapuluh: budaya bermobil yang mendorong perkembangan kota-kota di sebelah barat AS. Terlahirlah restoran-restoran ‘drive-in’ mengikuti budaya tersebut, yang sekaligus menempatkan hamburger sebagai salah satu makanan utama masyarakat AS.

Satu generasi silam, tiga perempat makanan yang dikonsumsi di AS dibuat di rumah, kini orang-orang Amerika melahap makanan yang sebagian disajikan di luar rumah, terutama di restoran-restoran cepat saji. Pada tahun 1970 orang Amerika menghabiskan US$ 6 milyar untuk makanan cepat saji. Kini, lebih dari US$ 100 milyar pendapatan orang Amerika amblas masuk ke kantung pemilik restoran cepat saji. Ini artinya orang Amerika menghabiskan uang lebih banyak untuk hamburger, kentang goreng, dan makanan cepat saji lainnya dibandingkan untuk membiayai pendidikan tinggi ataupun membeli komputer, perangkat lunak, atau mobil baru. Jumlah uang untuk mengkonsumsi makanan cepat saji itupun lebih besar daripada pengeluaran untuk menonton film, membeli buku, majalah, koran, video, dan kaset musik digabungkan.

Ketika McDonald’s baru saja berubah menjadi perusahaan waralaba, mengiklankan diri secara nasional masih terlalu mahal. Namun Ray Kroc, pendiri jaringan waralaba tersebut menemukan cara beriklan gratis. Perusahaan tersebut melibatkan diri ke dalam acara-acara amal yang ditujukan kepada anak-anak. Tujuannya adalah membuat McDonald’s menjadi tempat keluarga dan anak-anak.

Begitu namanya dikenal dan aset perusahaan telah mencukupi untuk membiayai iklan di berbagai jenis media, pemasaran McDonald’s tetap terfokus pada anak-anak. “Untuk setiap anak yang suka melihat iklan TV kami dan mengajak kakek-neneknya ke McDonald’s, artinya ada tambahan dua pelanggan baru,” begitu ujar Ray Kroc. Mereka yang pada saat kanak-kanak menjadi langganan McDonald’s, sewaktu dewasa kemudian akan selalu mengenang kenangan indah di McDonald’s dan mengajak anak-anak mereka ke McDonald’s.

Kroc mungkin juga lebih tepat disebut sebagai orang yang mampu melihat jauh ke depan ketika melihat manfaat televisi untuk menciptakan konsumennya. Seorang anak Amerika rata-rata menonton televisi sebanyak 21 jam seminggu, atau kira-kira satu setengah bulan per tahun. Ini belum termasuk bermain komputer, menonton video, atau permainan video seperti Playstation atau X-Box. Di luar sekolah, anak-anak Amerika lebih banyak menonton televisi daripada melakukan kegiatan lain, kecuali tidur. Waralaba ini kini mengudarakan lusinan iklan radio dan televisi setiap hari di AS. Industri makanan cepat saji secara keseluruhan menghabiskan US$ 4 milyar setahun di dunia periklanan.

Hiburan anak-anak lantas dapat dikatakan sebagai alat pemasaran yang diciptakan industri makanan cepat saji. Anak-anak kelas menengah di Jakarta tentu sudah mengenal Nickeledeon, The Simpsons, atau acara-acara televisi kabel seperti Fox Kids Network. Di AS, acara-acara hiburan anak-anak tersebut sudah demikian identik dengan makanan cepat saji sehingga budaya pop anak-anak tidak dapat lagi dibedakan dengan budaya makanan cepat saji. Pada tahun 1996, McDonald’s dan Disney menandatangani perjanjian pemasaran 10 tahun untuk memasarkan mainan-mainan yang populer dari film-film Disney dijual sebagai bagian dari paket penjualan di restoran-restoran McDonald’s. Jika kita pergi ke restoran-restoran McDonald’s di kota-kota besar di saat film Finding Nemo diputar, kita pasti menemukan penjualan tokoh-tokoh film tersebut di sana.

Lebih hebat lagi, skenario film-film Disney juga dipengaruhi oleh kepentingan McDonald’s. Film George the Jungle ditulis ulang ketika dananya disuntik hingga dua kali lipat oleh McDonald’s. Yang ditambahkan adalah adegan tokoh utama film tersebut melahap setangkup BigMac, di bawah pengawasan seorang perwakilan McDonald’s yang datang khusus untuk memastikan BigMac tersebut terlihat dengan jelas.

Selain anak-anak, sasaran pemasaran makanan cepat saji adalah mereka yang disebut ‘pengguna kelas berat’, laki-laki berusia 18-24 tahun yang melahap makanan cepat saji tiga sampai empat kali seminggunya. Iklan-iklan untuk pelanggan jenis ini jelas berbeda, lebih banyak menggunakan guyonan dewasa, kekerasan, dan perempuan cantik. Selain itu, mereka juga merupakan penggemar berbagai bidang olah raga yang dipertontonkan di jaringan-jaringan televisi AS. Karenanya McDonald’s sudah menjalin perjanjian promosi bersama dengan National Basketball Association (NBA), Tricon Global Restaurants (pemilik KFC, Pizza Hut, dan Taco Bell) dengan National Collegiate Athletic Association (NCAA, yang mengadakan pertandingan liga basket antar kampus), dan Denny’s dengan Major League Baseball.

Dampak dari pembangunan citra adalah lekatnya budaya makanan cepat saji dalam pemahaman anak-anak. Sebuah survei menunjukkan bahwa 96 persen anak sekolah AS mengenal Ronald McDonald, hanya Sinterklas yang lebih populer darinya. Dan dua busur emas yang membentuk huruf M McDonald’s kini jauh lebih populer dibandingkan lambang salib agama kristen.

Bisnis waralaba makanan cepat saji adalah kreasi dari generasi entrepreneur yang telah membentuk tradisi pemasaran Amerika. Para pelopornya kebanyakan tidak pernah mengecap bangku kuliahan. Sejak remaja mereka menunjukkan diri sebagai pekerja keras. Pendirian teguh juga menjadi ciri mereka. Buat mereka, kerja keras adalah sesuatu yang utama dan mereka sangat bangga karenanya. Dari pengalaman puluhan tahun yang mereka miliki sebagai salesman jalanan mereka membangun usaha mereka.

Ray Kroc, pendiri jaringan waralaba McDonald’s, sudah mulai bekerja ketika baru masuk SMA. Ia menemukan kesenangan sendiri sebagai penjaja soda, usaha milik pamannya. Ia sangat senang “bisa menjual es krim sundae kepada orang yang datang untuk membeli secangkir kopi.” Bertahun-tahun Kroc menjual biji kopi, buku musik, cangkir kertas, mesin pembuat krim yang bisa menghasilkan milkshake ataupun krim pencukur, sendok es krim, sampai kursi-meja lipat yang menempel di dinding.

Kerja sebagai penjaja mesin milkshake membawanya ke restoran McDonald’s pertama kalinya. Pada tahun 1954, McDonald bersaudara sudah memulai usaha restoran swalayan. Ia heran kenapa McDonald’s membutuhkan delapan mesin yang ia jajakan, padahal mesin itu mampu membuat lima milkshake sekaligus. Begitu ia melihat cara kerja restoran swalayan McDonald’s ia segera tahu jawabannya, bahkan ia segera bisa membayangkan kalau restoran seperti itu ada di setiap perempatan jalan yang ramai oleh orang. Akhir cerita, Kroc berhasil meyakinkan McDonald bersaudara untuk menjual hak waralaba kepadanya.

Lain lagi dengan kisah Harland Sanders. Ia meninggalkan bangku sekolah pada usia 12 tahun. Kemudian ia bekerja sebagai kusir keledai, bekerja di tanah peternakan, dan sempat menjadi pemadam kebakaran di kereta api. Di beberapa kesempatan, ia pernah menjadi pengacara tanpa gelar sarjana hukum, menjadi bidan tanpa punya sertifikat medis, menjual ban, menawarkan asuransi dari rumah ke rumah, sampai punya restoran dan motel yang kemudian ia jual untuk membayar utang-utangnya. Pada umur 65 tahun, ia kembali menjadi salesman jalanan yang menjajakan ‘resep rahasia’ kepada para pemilik restoran. Pada tahun 1952, restoran Kentucky Fried Chicken (KFC) pertama dibuka di Utah. Karena tidak punya uang untuk mempromosikan jaringan restorannya, ia berpakaian seperti seorang kolonel asal Kentucky dengan setelan putih dan dasi tali hitam. Dalam jangka 8 tahun, KFC sudah menjadi jaringan restoran terbesar di AS.

Persaingan ketat antar waralaba dengan segera terjadi ketika masing-masing perusahaan tersebut sudah mengungguli saingan-saingan lokal mereka. Satu per satu restoran drive-in yang populer di jaman 1950an bertumbangan, digantikan dengan restoran-restoran makanan cepat saji. Karena lebih aman dan murah membuka usaha sebagai pemegang waralaba, maka banyak pengusaha rumah makan dengan segera membeli hak waralaba mereka kepada usaha yang sudah terkenal. Persaingan begitu ketatnya, setiap ada satu waralaba membuka rumah makan di satu daerah pemukiman, maka dua atau tiga waralaba lainnya akan ikut membuka di daerah yang sama. Mereka pikir pasti ada pangsa pasar yang besar di sana.

Namun, dasar kesuksesan waralaba adalah terletak pada keseragaman. Menurut berbagai pandangan mengenai masalah waralaba, semua cabang-cabang waralaba haruslah dapat diandalkan untuk memberikan layanan yang seragam. Pelanggan mendatangi merek-merek yang akrab di kepalanya disebabkan oleh sebuah insting yang menghindari hal-hal yang tidak mereka kenal. Sebuah merek memberikan rasa kepastian jika produk-produknya selalu sama di manapun juga.

Suatu hari Ray Kroc geram kepada beberapa pemegang waralaba yang menghambat keseragaman. “…kita tidak bisa mempercayai orang-orang yang bukan penurut,” katanya. “Kita akan buat mereka menjadi penurut dengan cepat… Organisasi ini tidak bisa tunduk pada perseorangan, perseoranganlah yang harus tunduk pada organisasi.”

Dari sekian waralaba yang kini bertahan di AS, McDonald’s adalah yang terbesar dan tersukses. Pada tahun 1970an, perusahaan ini menggunakan helikopter untuk memetakan letak-letak kawasan pemukiman ataupun pusat bisnis baru di mana restoran McDonald’s baru akan dibuka. Kini, mereka sudah menggunakan foto satelit untuk meramalkan kawasan-kawasan tersebut.

Sebagai penyempurnaan dari kesuksesannya, McDonald’s kini memiliki Museum Ray Kroc yang memamerkan kehidupan Kroc. Museum itu mungkin lebih tepat sebagai kuil pemujaan terhadap Kroc, karena foto-foto, rekaman video, dan suara Kroc diabadikan oleh teknologi canggih seperti yang kini digunakan di Disneyland atau Warner Bros Movieland. Selain museum, McDonald’s juga mendirikan Hamburger University, di mana ribuan manajer waralaba baru belajar dan memperoleh gelar sarjana dalam “Hamburgerologi”.

Hari itu bertanggal 30 April 2002, pukul 07.00. Selebaran dan poster ajakan pemogokkan telah mewarnai jalan-jalan protokol Jakarta, untuk memperingati hari buruh sedunia, 1 Mei. Di era keterbukaan terbatas, sudah beberapa kali serikat-serikat buruh melakukan aksi 1 Mei di Jakarta. Setiap tahun jumlah pesertanya semakin meningkat, terlepas dari upaya-upaya ‘pencegahan’ yang dilakukan oleh pemerintah dan aparat kepolisian. Apalagi, aksi-aksi buruh selain aksi 1 Mei juga telah berani melakukan pemblokiran jalan maupun pawai dengan ribuan massa di jalan-jalan utama Jakarta.

Pagi itu mungkin hanyalah pagi yang lain seperti biasanya yang dilalui oleh Fika, pembawa acara obrolan pagi di I-Radio. Pukul 07.00 lainnya untuk memulai acara yang ia bawa bersama Rafiq di bawah arahan Pras, produsernya. Tema obrolan pagi itu menjadi titik penting bagi sebagian besar kelas menengah Jakarta yang agaknya khawatir dengan kemacetan yang diakibatkan oleh aksi peringatan 1 Mei. Namun, yang lebih penting lagi, Pras sedang menanti dua orang perwakilan serikat buruh yang sedang mencoba membangun organisasi di dalam jaringan waralaba McDonald’s.

Beberapa menit selanjutnya, acara obrolan pagi tersebut sudah mengudara namun hanya satu perwakilan dari Komite Aksi Satu Mei yang telah masuk dalam ruang siaran. Dua pegawai McDonald’s telah tiba, namun mereka masih ragu apakah mereka akan masuk ke dalam ruang siaran atau tidak. Persoalan utamanya, gedung yang ditempati I-Radio adalah Gedung Sarinah Thamrin, dan delapan lantai di bawahnya terdapat restoran McDonald’s di mana keduanya bekerja. Restoran waralaba McDonald’s yang pertama kali berdiri di negeri ini tersebut memperdengarkan siaran pagi I-Radio di pengeras suara mereka.

Tampilan gemerlap dan ceria restoran-restoran McDonald’s ataupun waralaba makanan cepat saji lainnya juga menyembunyikan sebuah taring hyena. Di balik meja-meja pemesanan, di balik seragam yang warna-warni, berlaku hubungan eksploitasi yang cukup kejam. Pekerja restoran makanan cepat saji adalah buruh yang dibayar murah. Sebagian besar adalah pekerja paruh waktu yang terdiri dari pelajar sekolah menengah, mahasiswa, pengangguran, ibu rumah tangga. Posisi tawar mereka begitu lemah dan kecil kemungkinan mereka berpikiran untuk membentuk serikat buruh.

Dapur dan mesin-mesin di dalamnya begitu modern sehingga tidak membutuhkan keahlian untuk mengubah makanan setengah masak tadi menjadi makanan kegemaran konsumen. Dengan mudah, perusahaan-perusahaan waralaba makanan cepat saji memberhentikan dan mengganti pekerja mereka. Semaksimal mungkin mesin dan buku manual menggantikan banyak kerja-kerja yang membutuhkan pelatihan. Alasannya, biaya yang dikeluarkan perusahaan tetap kecil, menjaga posisi tawar buruh tetap rendah, dan membuat perusahaan dapat membayar upah dengan murah. Di tengah boom ekonomi AS tahun 1990an, saat pekerja sektor-sektor lain mendapat kenaikan upah, pekerja restoran makanan cepat saji malah mengalami penurunan upah.

Adalah Fred Turner, seorang eksekutif McDonald’s, yang menciptakan sebuah sistem yang ketelitian dan perhatian yang begitu besar pada hal-hal detil. Pada tahun 1958 ia menggabungkan buku petunjuk pelatihan dan pengoperasian, yang menjelaskan bagaimana hampir semua kerja dilakukan di restoran waralaba McDonald’s. Misalnya, hamburger harus selalu diletakkan berjejer enam dengan rapi di atas pemanggang, atau kentang goreng tebalnya harus tepat 0,28 inci. Kini, buku petunjuk yang disebut ‘Kitab Suci’ itu telah berlipat sepuluh jumlah halamannya. Yang diatur juga jauh lebih rinci, dari peralatan apa saja yang harus dipakai sampai bagaimana para pelayan menyapa pelanggan.

McDonald’s termasuk dalam daftar perusahaan-perusahaan yang anti serikat buruh. Puluhan tahun McDonald’s di AS berhasil menghentikan upaya-upaya pembentukkan serikat buruh di restoran-restoran mereka. Caranya bermacam-macam, dari mulai membentuk tim gerak cepat untuk mendatangi restoran yang tercium aktivitas serikat buruh sampai penginterogasian pekerja restoran dengan polygraph, alat pendeteksi kebohongan. Jika pembentukkan serikat buruh gagal dihentikan, dengan mudah McDonald’s menutup restoran tersebut, memecat semua pekerjanya, dan membuka restoran baru tak jauh dari tempat tersebut.

Di antara mereka yang pernah terlibat di sisi kiri jalan perubahan Indonesia, konsep yang disebut “corak produksi masyarakat” mungkin tidak begitu asing. Konsep ini sering dipakai dalam perdebatan-perdebatan landasan perjuangan perubahan. Ia dikembangkan oleh pemikir-pemikir ekonomi abad sembilan belas, terutama di saat pematangan revolusi industri di Eropa dan daratan Amerika Utara. Corak produksi masyarakat adalah analisa mengenai bagaimana sebuah masyarakat ‘mengorganisasikan’ dirinya untuk menciptakan barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat. Bentuk yang paling kasar adalah bagaimana kebutuhan makanan masyarakat tersebut dipenuhi. Ia kemudian dipenuhi oleh relasi sosial yang kompleks, sampai pada bentuk pemilahan masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial yang ditentukan oleh peranan dan posisi hirarkis dalam organisasi sosial masyarakat.

Jalan yang didorong oleh industri makanan cepat saji pada akhirnya menjadi cerminan dari sebuah struktur sosial yang berdiri dalam masyarakat AS. Dalam perjalanan menuju posisi dominan, jasaboga cepat saji mendorong penggunaan teknik-teknik baru dalam memproduksi makanan. Namun bukan sebatas itu saja, ia juga mendorong tumbuhnya sebuah pola eksploitasi baru, sebuah hubungan buruh dan majikan yang baru antara petani kentang dan produsen kentang goreng beku, antara peternak sapi dengan pemilik pabrik pengolahan daging, dan antara buruh dan pemilik pabrik pengolahan daging.

Saat ini McDonald’s adalah pembeli terbesar daging sapi dan kentang. Ia juga menjadi pembeli kedua terbesar produk-produk peternakan ayam. Bahkan jenis ayam yang benar-benar baru dikembangkan agar dapat diproduksi menjadi McNugget. Dengan posisi yang demikian, agroindustri AS menjadi sangat tergantung pada industri makanan cepat saji. Lebih jauh lagi, pengambilan keputusan pembelian yang tersentral pada jaringan restoran besar dan tuntutan mereka agar produk-produk agroindustri distandarisasikan menyebabkan hilangnya kesempatan petani dan peternak kecil. Akibatnya, pasokan makanan AS benar-benar jatuh ke tangan perusahaan-perusahan agroindustri raksasa multinasional yang dapat dihitung dengan jari. Thomas Jefferson, salah seorang presiden AS, pernah berujar bahwa fondasi demokrasi negerinya terletak pada petani dan peternak mandiri. Namun tampaknya hal itu tidak berlaku lagi. Di AS kini lebih banyak narapidana dibandingkan dengan petani dan peternak.

Berkat McDonald’s dan perusahaan-perusahaan makanan cepat saji lainnya, pada tahun 1997 orang Amerika rata-rata memakan kira-kira 15 kilogram kentang. Pasar yang demikian besar itu dipasok oleh segelintir industri kentang goreng canggih. Lewat sudah jaman di mana para pelayan restoran makanan cepat saji menghabiskan waktu berjam-jam mengupas dan memotong kentang.

Awalnya, bisnis kentang goreng merayu para petani untuk hanya menanam kentang. Apalagi rayuan tersebut digombali dengan iming-iming bantuan finansial dan bibit kentang. Namun dalam perkembangannya, atas nama keseragaman kentang goreng, McDonald’s dan jaringan restoran lainnya mengurangi jumlah pemasok kentang goreng beku. Pabrik yang kalah terpaksa tutup.Akhirnya wujud pasar kentang seperti jam pasir, dengan ratusan juta konsumen di bagian bawah dan dua juta petani di bagian atas. Sementara di bagian tengah yang sangat sempit, belasan perusahaan multinasional kentang goreng beku yang mengambil untung dari setiap transaksi.

Peternak sapi juga bernasib sama dengan para petani kentang. Industri daging olahan pertama-tama menghancurkan posisi tawar para peternak dengan cara yang sama dengan industri kentang goreng beku. Penggabungan perusahaan dan penggunaan teknologi tinggi membuat jumlah pabrik-pabrik daging olahan semakin sedikit. Pada tahun 1970, empat perusahaan pengolah daging terkemuka memotong hanya 21 persen sapi AS. Setelah kabinet Reagan membolehkan adanya penggabungan usaha tanpa harus terkena Undang-Undang Anti Trust, kini empat perusahaan pengolah daging memotong 84 persen sapi AS. Keempat perusahaan itu juga kini dapat mengontrol harga jual sapi dengan memelihara sendiri ternak tersebut atau dengan cara mengijonnya. Dengan menguasai 20 persen ternak hidup, kapan saja ada kenaikan harga jual sapi, perusahaan-perusahaan tersebut tinggal melepas sapi-sapi mereka ke pasar.

Milyaran daging burger yang dijual melalui restoran-restoran fastfood setiap tahun di AS diproduksi oleh segelintir pabrik pengolahan daging raksasa. Pabrik-pabrik tersebut biasanya memiliki satu atau lebih kandang khusus untuk menggemukkan sapi sebelum dipotong. Tak tanggung-tanggung, jumlah sapi yang akan digemukkan bisa mencapai puluhan bahkan ratusan ribu. Sapi-sapi itu diberi makan gandum 3000 pon gandum selama tiga bulan agar bertambah berat sebanyak 400 pon.

Begitu siap dipotong, jangan bayangkan seperti sapi-sapi yang akan masuk rumah-rumah jagal di Indonesia. Sejak lama, pabrik pengolahan daging di AS memiliki unit jagal sendiri. Setiap hari ribuan sapi disembelih, dan seorang tukang jagal menyembelih satu sapi setiap sepuluh detik. Setelah itu sistem roda berjalan dan buruh murah akan memproses sapi itu menjadi daging kaleng, daging burger, atau makanan anjing.

Pabrik-pabrik pengolahan daging di AS kini menjadi tempat kerja yang paling berbahaya. Ketika teknologi seharusnya mempermudah kerja manusia, perusahaan-perusahaan pengolah daging memecat buruh-buruh terlatihnya dan memperkerjakan buruh-buruh tidak terlatih. Di AS, sebagian besar dari buruh pabrik pengolah daging adalah buruh-buruh migran yang dibayar murah dan tidak terlatih. Sementara alat-alat yang digunakan, meski mudah pengoperasiannya, tapi berbahaya. Sebagai contoh, setelah seekor sapi disembelih dan diambil isi perutnya, sapi dibelah dengan gergaji mesin.

Ketika sebuah pabrik pengolah daging mampu memproses 5000 sapi satu hari, maka bisa dibayangkan kecepatan kerja yang dibutuhkan untuk para penyembelih dan pemotong daging. Dengan kecepatan kerja dan alat-alat berbahaya yang digunakan, kecelakaan menjadi tak terhindarkan. Setiap pekerja pabrik tersebut dipastikan pernah mengalami kecelakaan ringan atau berat. Sapi-sapi yang tergantung pada gantungan berjalan sesekali jatuh menimpa pemotong daging, karena pekerja yang bertugas menggantung sapi kurang erat mengikat kaki sapi tersebut.

Pada 13 Oktober 2003 sebuah konferensi bertemakan “Berbisnis di Irak: Menggalakan Sektor Swasta” diadakan di London. Pesertanya tak tanggung-tanggung, 145 delegasi yang mewakili berbagai macam investor multinasional. Akan tetapi, reportase-reportase yang memberitakannya memiliki satu kesamaan: McDonald’s akan membuka restorannya di Irak pada tahun 2004.

Benar-benar luar biasa, kini kita telah bisa mengatakan para prajurit AS gugur demi tugasnya membuka McDonald’s di Baghdad. Industri yang sebelumnya berhasil mendominasi pola makan masyarakat AS juga kini ikut serta bertanggung jawab dalam menghancurkan sebuah bangsa. Ketika derap sepatu lars membuat orang Irak mencicipi setungkup BigMac, Eric Schlosser mungkin tepat ketika dalam bukunya yang berjudul ‘Fast Food Nation’ mengutip pepatah lama Amerika: “You are what you eat.”

Facebook Comments

Leave a Reply