MENYEBUT Gerakan Tiga Puluh September (G-30-S), tanpa menyertakan nama Partai Komunis Indonesia (PKI), rupanya selalu membuat gatal telinga sastrawan Taufik Ismail. Atas desakkannya (dan tentunya segolongan orang semacam beliau), Departemen Pendidikan Nasional membatalkan kurikulum pengajaran sejarah tahun 2004 dan menarik buku-buku pelajaran sejarah. Taufik Ismail dikabarkan juga, telah menerbitkan sebuah buku yang isinya diperkirakan membeberkan “dosa-dosa” komunisme.
Continue reading »
The revolution will not be right back after a message
about a white tornado, white lightning, or white people.
You will not have to worry about a dove in your
bedroom, a tiger in your tank, or the giant in your toilet bowl.
The revolution will not go better with Coke.
The revolution will not fight the germs that may cause bad breath.
The revolution will put you in the driver’s seat.
The revolution will not be televised, will not be televised,
will not be televised, will not be televised.
The revolution will be no re-run brothers;
The revolution will be live.
(The Revolution Will Not Be Televised, Gil Scott-Heron)
Continue reading »
Nanti malam (Kamis, 24 Mei 2007), acara Kick Andy di Metro TV akan menghadirkan Mayor Alfredo. Ia adalah salah satu tokoh kunci dalam serangkaian kerusuhan yang diakhiri dengan dicopotnya Mari Alkatiri dari posisi Perdana Menteri Timor Leste. Mayor Alfredo hingga saat ini dinyatakan buron oleh Pemerintah Timor Leste. Talkshow ini mungkin bisa menjadi update atas dua tulisan saya sebelumnya (Setelah Dekolonisasi Dili dan Representasi Berbahaya).
Gerakan transformasi sosial Indonesia, mencapai percepatan tertinggi menjelang dan sesudah bulan-bulan kejatuhan Soeharto. Ratusan ribu orang terlibat aktif di dalamnya, menghasilkan ribuan organisasi massa bertuntutan politis, dan melahirkan krisis dalam sistem kapitalis Indonesia. Harapan-harapan revolusioner pun bermunculan. Semua mata gerakan revolusioner sedunia tertuju ke negeri ini.
Continue reading »
Gerombolan-gerombolan pemuda berparang berkelana di jalan-jalan kota Dili, Timor Leste. Pembunuhan, pembakaran, penjarahan terjadi di berbagai pelosok kota. Kantor-kantor pemerintahan tak luput dari gelombang kekerasan. Unit-unit militer dan polisi negara, yang mestinya mengendalikan situasi, justru malah berbaku tembak.
Salah satu representasi yang berbahaya mengenai Timor Leste bersumber pada para komentator/kolumnis/jurnalis yang mempertanyakan kebijakkan bahasa pemerintah negara tersebut untuk menggunakan Tetum dan Portugis sebagai bahasa resmi. Representasi tersebut memojokkan sebuah pemerintahan nasionalis Alkatiri yang mencoba menahan tekanan kuat dari dua gajah tetangganya, Indonesia dan Australia. Pemberitaan di Jakarta Post dan Kompas, media yang bisa dikatakan paling moderat dalam soal berita luar negeri, melukiskan adanya communication gap antar generasi dan Mari Alkatiri yang elitis.
Continue reading »
Melihat perkembangan dalam berbagai kolom opini dan pernyataan tokoh-tokoh di beberapa media massa saat ini, ada kesan bahwa perbincangan yang paling mendominasi adalah di seputar dua persoalan: penegakkan hukum dan etika-moralitas. Di hadapan para pembaca, pihak yang mengamini penghentian proses hukum atas Soeharto dan yang menolaknya sama-sama mengajak ke arah pertimbangan baik-buruk, adil-tidak, bahkan sampai ke persoalan jasa dan dosa Soeharto sebagai Presiden.
Continue reading »
Roysepta Abimanyu*
Delapan tahun sudah transisi demokratik berjalan di Indonesia. Tuntutan demi tuntutan demokratik dan kerakyatan sudah dikedepankan dan mampu meruntuhkan simbol-simbol kekuasaan otoritarian yang sebelumnya seperti tak tersentuh. Sampai tahun 2003, Soeharto menjadi tuntutan yang ditagih berbagai macam kelompok rakyat. Dwifungsi militer telah disoroti sedemikian rupa sehingga tanpa campur tangan Amerika Serikat dan Perang Global Kontra Terorisme, mustahil Angkatan Darat Indonesia dapat mengirimkan kembali Bintara Pembina Desa ke kehidupan masyarakat.
Continue reading »
1. Introduction
L’organisation d’une Europe de défense s’est déjà commencée depuis le déroulement de La Guerre froide. Elle était une partie de l’Alliance atlantique contre l’Union soviétique et ses pays alliés dans le pacte Varsovie. Les menaces étaient claires, limitées dans un seul bloc de rideau de fer. Mais après l’implosion l’Union soviétique, les menaces se changent. Il n’y a plus de milliers de tanks de l’Armée rouge en Allemagne de l’Est, mais les guerres civiles et ethniques, scissions d’États, crimes organisés entre autres se posent devant et très proche à l’Europe.
D’autre côté, le grand partenaire (les États-Unis) n’a plus les intérêts vitaux dans le théâtre. Pour plusieurs fois, il hésite à prendre l’action demandée par ses pays alliés. C’est pourquoi ces deniers ont “un doute persiste sur l’éventualité d’un engagement américain sur un théâtre européen “.
Le changement des menaces a fait la réorientation politique de l’Europe de défense. Mais, que devient-elle?
Le texte se commence, premièrement, par les objectifs et le développement cité dans les documents pour souligner tel ou tel statut achevé . Et puis, il discute le fonctionnement de l’Europe de défense pour montre son extension contemporaine. Enfin, il nous amène à quelques défis, interne et externe, qui se mettent en face à l’Union dans la gestion d’une Europe de défense.
1. Introduction
The world certainly now faces many grave humanitarian crisis that need large scale cooperation. They have different locations, different source and different extension, from the AIDS crisis that has been menacing the existance of many sub-Saharan African nations to failure of war-devastated countries like Nepal to provide basic health service. Certain infra-state armed conflicts also add the problems, like what has happened in Darfur, Sudan where hundreds of thousands refugees were internally displaced.
To read more

Komentar