preload
Jul 28

Mengurai Benang Kusut dalam Imajinasi BBM

(Ditulis untuk jurnal politik “Bersatu”, dimuat di indoprogress.blogspot.com)

“[…]sepertinya sebanyak 60 persen dari harga minyak saat ini adalah murni spekulasi.”
F. William Engdahl, penulis buku A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New World Order.

“OPEC menentukan harga di depan koma dan para pedagang menentukan yang dibelakangnya.”
Robert Mabro, Institute for Research on Energy, Oxford.

ISU Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia, boleh dibilang telah menjadi alat pengganggu kekuasaan. Siapapun yang menduduki kursi kepresidenan Republik Indonesia, pasti bergetar hatinya jika mesti berhadapan dengan masalah BBM.

Bayang-bayang kejatuhan Presiden Suharto pada 1998, yang didorong oleh aksi massa meluas akibat keputusan menaikkan harga BBM, tampak masih melekat kuat di benak politisi, baik yang loyal kepada pemerintah berkuasa maupun yang bersikap oposisi. Tahun tersebut, memang menjadi akhir masa panjang BBM murah untuk rakyat Indonesia. Sebelumnya, prestise sebagai anggota OPEC, pengekspor minyak, benar-benar terasa dan mewakili imajinasi Indonesia sebagai negeri yang kaya raya akan sumber daya alam. Maka, wajar, jika kini baik pemerintah maupun oposisi nominal yang ada, selalu melakukan perang posisi sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM.

Continue reading »

Tagged with:
Feb 03

Fast Food Nation: The Dark Side of the All-American Meal
Eric Schlosser
Houghton Mifflin Company
Boston 2001
356 hal

Suatu malam di tahun 2000 saya berjalan bersama seorang aktivis dari United Students Against Sweatshops (USAS), salah satu organisasi yang terlibat dalam kampanye anti-globalisasi di Amerika Serikat. Tahun tersebut gema demonstrasi Seattle November 1999 masih bergaung. Demonstrasi-demonstrasi anti-globalisasi memuncak dalam skala internasional, bahkan aksi-aksi yang memobilisasi massa aktivis dari berbagai negeri begitu marak sampai membuat sebuah pertemuan WTO terpaksa diagendakan di Doha, Qatar. Pada 1 Mei 2000, sebuah restoran McDonald’s, simbol kekuasaan globalisasi, dihancurkan oleh sekelompok penganut anarkisme di London. Bersama massa yang menonton peristiwa itu, mereka membuat api unggun dari papan reklame restoran tersebut, dan menyantap burger ‘gratis’ di Trafalgar Square.
Continue reading »

Tagged with: