Tulisan panjang pertama saya mungkin sekilas tidak ada hubungannya dengan geopolitik.
Waktu SMA saya membuat laporan akhir tentang pesawat tempur. Isinya kira-kira A sampai Z: jenis pesawat, kemampuan, persenjataan, dan berbagai hal teknis dan sub-sistem dalam pesawat tempur yang ketika itu menarik perhatian saya.
Pada 10 Agustus 1995, Indonesia baru saja menerbangkan pesawat penumpang yang dinyatakan 100% didesain oleh para insinyur Indonesia. Selain jadi bersemangat untuk membuat laporan sekitar 100 halaman dan di-print pakai printer dot matrix, saya juga jadi berniat masuk jurusan yang kini disebut Teknik Dirgantara ITB.
Namun, di ITB saya malah menulis cerita pendek. Saya bergabung dengan kelompok teater mahasiswa, dan untuk beberapa waktu tulisan saya lebih dekat dengan cerita daripada politik.
Lalu datang krisis 1997, dan Gerakan Mahasiswa 1998.
Jenis tulisan saya berubah cukup drastis. Saya mulai menulis selebaran dan artikel untuk Ganesha, yang saat itu salah satu terbitan bawah tanah mahasiswa ITB. Tulisan tidak lagi sekadar dibuat untuk dibaca. Ia dibuat untuk meyakinkan orang, mengorganisasikan tindakan, menyerang suatu pendapat, atau mempertahankan pendapat yang lain.
Saya kemudian masuk lebih jauh ke dalam dunia politik. Saya berada dalam sebuah gerakan politik yang pada masa itu berhadapan langsung dengan kekuasaan Orde Baru. Politik tidak lagi menjadi sesuatu yang saya baca di koran. Ada organisasi, rapat, mobilisasi, konflik, strategi, perdebatan, kekalahan, dan sesekali kemenangan.
Saya tetap menulis.
Beberapa tulisan kemudian terbit di media independen, media khusus seperti Pantau, dan sesekali di Majalah Tempo dan Suara Pembaruan. Sebagian tulisan sebelum 2007 yang sekarang ada di Geopolitik.org berasal dari masa tersebut dan diterbitkan kembali di sini. Jadi kalau menemukan tulisan yang lebih tua daripada situs ini, tidak perlu curiga mesin waktunya rusak.
Tetapi berada di dalam politik dan memahami politik ternyata dua hal yang berbeda. Saya mulai mempunyai lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Bertemu Geopolitik
Pada 2004–2006 saya mendapat kesempatan mempelajari politik, hubungan internasional dan geopolitik dengan lebih sistematis. Minat terbesar saat itu adalah hubungan internasional dan geopolitik, jadi saya tergabung di Sciences-Po Toulouse. Namun, tempat saya belajar lebih banyak adalah Institut Français de Géopolitique, Université Paris VIII. IFG berkembang dari tradisi geopolitik Prancis yang diasosiasikan dengan Yves Lacoste.
Di sana saya berjumpa dengan sebuah kalimat Lacoste yang terkenal karena menjadi judul buku tipis (pamflet):
« La géographie, ça sert, d’abord, à faire la guerre. »
Geografi, pertama-tama, berguna untuk berperang.
Provokatif, tentu saja. Tetapi yang lebih penting bagi saya justru cara Lacoste mendefinisikan geopolitik:
« Le terme de géopolitique […] désigne en fait tout ce qui concerne les rivalités de pouvoirs ou d’influences sur des territoires et les populations qui y vivent. »
Geopolitik, dengan demikian, adalah perkara rivalitas kekuasaan atau pengaruh atas wilayah dan penduduk yang hidup di dalamnya.
Definisi ini kelihatannya sederhana. Konsekuensinya tidak.
Negara tentu saja penting. Tentara juga. Tetapi negara bukan satu-satunya pemegang kekuasaan, tentara bukan satu-satunya instrumen kekuasaan, dan wilayah yang diperebutkan tidak harus sebesar sebuah negara.
Sebuah kota bisa menjadi ruang geopolitik. Begitu pula perbatasan, pulau, laut, sungai, kawasan industri, perkebunan, tambang, pelabuhan, jalur logistik, bahkan sebuah desa.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih menarik: siapa menginginkan apa di suatu wilayah? Mengapa? Siapa yang mempunyai kemampuan untuk mendapatkannya? Siapa yang menghalangi? Bagaimana masing-masing aktor menggambarkan wilayah tersebut dan kepentingannya atas wilayah itu?
Dan, tentu saja, siapa yang akhirnya menentukan apa yang terjadi.
Saya bukan mahasiswa yang baik, tapi pembelajaran dari IFG berlanjut hingga sekarang.
Sebuah domain pada 2007
Pada 31 Mei 2007 saya mendaftarkan Geopolitik.org.
Saya tidak sedang mendirikan media massa atau think tank. Internet pada masa itu memberi kemungkinan yang jauh lebih sederhana dan bagi saya justru menarik: mempunyai tempat sendiri untuk menulis dan menyimpan apa yang saya kerjakan.
Tulisan-tulisan lama saya pindahkan ke sana. Tulisan baru menyusul.
Ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis. Ada tulisan politik, hubungan internasional, ekonomi politik, sejarah, kekuasaan, perang, pembangunan, dan berbagai hal lain yang kebetulan membuat saya penasaran.
Saya juga mengelompokkan tulisan menurut cara saya mengerjakannya.
Opini menjadi tempat mengembangkan argumen dan pandangan atas suatu persoalan.
Catatan-Studi adalah tempat saya bekerja dengan teori, konsep dan metode: membaca, mencatat, membongkar suatu gagasan, lalu mencoba melihat apa gunanya untuk memahami sesuatu. Lacoste tentu ada di sana, tetapi juga Michel Foucault, Henri Lefebvre, Pierre Bourdieu, dan banyak pemikir lain yang saya temui sepanjang perjalanan.
Buku mencatat perjumpaan saya dengan bacaan.
Sedangkan Studi mempunyai arti yang lebih khusus. Ini adalah penelitian yang dikerjakan secara lebih sistematis, baik atas inisiatif sendiri maupun karena diminta oleh pihak lain.
Tidak semuanya selesai. Tidak semuanya juga masih saya setujui.
Saya sengaja membiarkannya.
Tulisan lama adalah catatan tentang bagaimana saya melihat dunia pada saat tulisan itu dibuat. Mengubah semuanya agar sesuai dengan apa yang saya pikirkan sekarang justru menghilangkan sebagian kegunaan arsip ini.
Lalu saya semakin jarang menulis
Masalahnya kemudian sederhana.
Kalau dalam Bahasa Inggris, “Life happens.” Saya bekerja. Saya menikah dan punya anak.
Dan semuanya menyita jauh lebih banyak waktu daripada yang saya bayangkan ketika membeli sebuah domain pada 2007.
Ironisnya, justru melalui pekerjaan saya mendapat kesempatan melihat lebih dekat banyak hal yang sebelumnya hanya saya baca.
Saya pernah melihat persoalan dari sisi gerakan masyarakat yang mencoba memengaruhi kebijakan. Saya kemudian bekerja dengan kebijakan dan melihat bagaimana sebuah gagasan harus melewati birokrasi, regulasi, anggaran, kepentingan, dan kapasitas institusi sebelum akhirnya menjadi sesuatu di lapangan.
Di kesempatan lain saya berada di dunia usaha, mengurusi organisasi dan operasi, dan kemudian ikut duduk di ruang-ruang tempat keputusan perusahaan dan dewan dibuat.
Pemandangannya berbeda dari setiap sisi meja.
Dari luar, pemerintah mudah disebut sebagai satu aktor bernama “negara”. Setelah melihatnya lebih dekat, negara ternyata terdiri dari kementerian, lembaga, pemerintah daerah, birokrasi, anggaran, peraturan, pejabat dan berbagai kepentingan yang tidak selalu bergerak ke arah yang sama.
Hal serupa terjadi pada perusahaan. “Korporasi” terdengar seperti satu makhluk yang mempunyai satu kehendak. Di ruang rapat, saya menemukan pemegang saham, direksi, operasi, keuangan, pelanggan, pekerja, pemasok, regulator, risiko, teknologi, dan angka-angka yang dapat membuat sebuah keputusan yang kelihatannya sederhana menjadi tidak sederhana sama sekali.
Organisasi masyarakat juga demikian.
Pengalaman berpindah-pindah di antara ruang tersebut akhirnya mengganggu satu metafora geopolitik yang sangat populer.
Catur.
Papan Catur yang Bermasalah
Zbigniew Brzezinski menggunakan metafora The Grand Chessboard untuk membaca posisi Amerika di Eurasia. Metafora itu memang menggoda. Ada papan, pemain, posisi, langkah, dan strategi.
Saya sendiri dulu cukup mudah membayangkan geopolitik sebagai permainan catur antarnegara. Negara adalah pemain; tentara, perusahaan, organisasi, uang dan berbagai sumber daya lainnya menjadi bidak dan buah catur.
Sekarang saya tidak bisa melihatnya sesederhana itu lagi.
Perusahaan tidak selalu menjadi bidak negara. Modal mempunyai logikanya sendiri. Organisasi masyarakat dapat mengubah kebijakan. Pemerintah daerah dapat mempunyai kepentingan berbeda dengan pemerintah pusat. Sebuah kementerian dapat melihat persoalan secara berbeda dari kementerian lainnya. Teknologi menciptakan aktor baru. Bahkan sebuah komunitas kecil dapat mempunyai kemampuan untuk mengganggu rencana pemain yang jauh lebih besar.
Lebih repot lagi, para “bidak” itu dapat mempunyai strategi sendiri.
Dan papan permainannya juga berubah.
Jalan baru mengubah jarak. Pelabuhan mengubah pusat dan pinggiran. Pembangkit listrik mengubah apa yang dapat dilakukan sebuah pulau. Kabel bawah laut, satelit dan pusat data menciptakan geografi baru. Rantai pasok dapat membuat sebuah desa terhubung langsung dengan keputusan perusahaan atau pemerintah ribuan kilometer jauhnya.
Pada titik itu, catur mulai menjadi metafora yang kurang berguna.
Saya kembali kepada Lacoste: rivalitas kekuasaan dan pengaruh atas wilayah dan penduduknya.
Siapa aktornya harus ditemukan, bukan diasumsikan.
Masalah berikutnya: terlalu banyak informasi
Kalau aktornya semakin banyak, persoalan berikutnya segera muncul.
Informasinya juga semakin banyak.
Ketika saya mulai menulis, mencari bahan berarti membaca buku, koran, jurnal, laporan dan dokumen yang berhasil ditemukan. Masalah utamanya sering kali kekurangan informasi.
Sekarang masalahnya hampir terbalik.
Berita datang setiap menit. Pemerintah menerbitkan regulasi dan dokumen. Perusahaan mengeluarkan laporan. Kapal dapat dilacak. Perdagangan meninggalkan data. Citra satelit tersedia. Pernyataan politik tersimpan di internet. Peta, statistik, arsip, dokumen tender, laporan keuangan dan penelitian tersedia dalam jumlah yang tidak mungkin lagi saya baca sendiri.
Sementara itu saya tetap hanya mempunyai dua mata dan 24 jam sehari.
Di sinilah perkembangan komputasi dan kecerdasan artifisial menjadi menarik bagi saya.
Bukan karena mesin akan menggantikan analisis.
Justru karena mesin dapat mengerjakan sebagian pekerjaan yang tidak mungkin lagi dikerjakan seorang manusia sendirian: mengumpulkan dokumen, mengklasifikasikan informasi, mengenali aktor, menyusun kronologi, menemukan hubungan, membandingkan sumber dan membantu mengingat sesuatu yang pernah dibaca bertahun-tahun sebelumnya.
Saya mulai bereksperimen dengan suatu mesin analisis yang bekerja di belakang proses tersebut: membangun korpus, menghubungkan aktor, peristiwa, tempat, organisasi, kebijakan dan kepentingan, lalu menggunakannya untuk membantu menguji sebuah pertanyaan.
Mesin itu tidak perlu mempunyai pendapat politik.
Saya yang harus mempunyai pertanyaan.
Dari tulisan menjadi analisis
Karena itu Geopolitik.org yang sekarang mulai sedikit berbeda dari Geopolitik.org tahun 2007.
Artikel tetap penting. Tetapi sebuah artikel bisa menjadi hasil paling terlihat dari pekerjaan yang jauh lebih besar di belakangnya.
Untuk memahami satu persoalan mungkin diperlukan puluhan dokumen, peta, kronologi, data ekonomi, hubungan antar aktor, regulasi, sejarah, atau perkembangan teknologi.
Kadang hasil akhirnya memang sebuah tulisan. Kadang sebuah peta. Kadang sebuah studi. Kadang sebuah skenario.
Dan kadang pertanyaannya datang dari seseorang atau sebuah organisasi yang harus mengambil keputusan: apa yang sebenarnya sedang terjadi, siapa yang perlu diperhatikan, risiko apa yang mungkin muncul, dan pilihan apa yang tersedia?
Di titik itu batas antara menulis, melakukan penelitian dan memberi nasihat strategis menjadi semakin tipis.
Tidak masalah. Sejak selebaran mahasiswa dulu, tulisan bagi saya memang tidak pernah sepenuhnya terpisah dari tindakan.
Apa yang akan ada di sini?
Saya tidak berniat menjadikan Geopolitik.org ensiklopedia geopolitik.
Sudah terlalu banyak tempat di internet yang dapat menjelaskan Mackinder, Heartland, Rimland, atau mengapa Selat Malaka penting.
Saya lebih tertarik menggunakan geopolitik untuk mengajukan pertanyaan.
- Mengapa sesuatu terjadi di sana dan bukan di tempat lain?
- Siapa yang berkepentingan?
- Bagaimana mereka melihat wilayah yang sama secara berbeda?
- Sumber daya apa yang memungkinkan mereka bertindak?
- Bagaimana keputusan sebuah pemerintah, perusahaan atau organisasi mengubah pilihan aktor lainnya?
- Bagaimana pangan, energi, teknologi, modal dan logistik mengubah hubungan kekuasaan?
- Bagaimana sesuatu yang terjadi di sebuah desa dapat berhubungan dengan perubahan ekonomi dunia?
- Dan pertanyaan yang semakin penting bagi saya sekarang: apa yang mungkin terjadi berikutnya?
Saya tentu tidak menjanjikan ramalan.
Yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan informasi yang lebih baik, melihat hubungan yang sebelumnya tidak terlihat, menyusun beberapa kemungkinan, kemudian terus menguji apakah asumsi yang kita gunakan masih berlaku.
Geopolitik.org akan menjadi tempat saya melakukan itu secara terbuka.
Sebagian melalui tulisan. Sebagian melalui studi. Sebagian mungkin berasal dari pekerjaan yang dilakukan untuk memecahkan persoalan nyata.
Dan sebagian lagi dari eksperimen menggunakan mesin untuk membantu manusia membaca dunia yang sudah terlalu besar untuk dibaca sendirian.
Hampir dua puluh tahun setelah domain ini didaftarkan, saya ternyata kembali ke kebiasaan lama: menemukan sesuatu yang membuat penasaran, membacanya terlalu jauh, lalu menuliskannya.
Bedanya sekarang, bahan bacaannya jauh lebih banyak. Dan saya punya mesin untuk membantu.
Roy Abimanyu
PS. Saya juga baru ngeh kalau jurnal Herodote terbitan IFG itu mempublikasikan edisi berjudul Aviation et géopolitique (2004/3, No 114) tertanggal 12/09/2004. Pas di minggu pertama saya kuliah di sana.