Hikayat Sang Pendongeng

Artikel ini sebelumnya terbit di Majalah Pantau edisi Januari 2004. John le Carré, sang pendongeng Perang Dingin, wafat pada tanggal 12 Desember 2020.

SUATU KETIKA, PENELITI DOKTOR DAVID KELLY DIWAWANCARAI ANDREW GILLIGAN, wartawan BBC. Dalam perbincangan 45 menit ini, Gilligan bertanya mengapa Irak tidak menggunakan senjata biologis dan kimia miliknya. Kelly hanya memaparkan hal-hal teknis saja.

Posisi Kelly sebenarnya mendukung perang. Ini menurut surat klarifikasi kepada atasannya, Doktor Bryan Wells, pada 30 Juni 2003. Menurut surat itu, Kelly meyakini adanya ancaman jika Irak melanjutkan program-program senjata nonkonvensionalnya. Yang jadi masalah, reportase Gilligan dianggap ingin menjatuhkan kabinet Blair, dan Kelly diposisikan sebagai si pembocor.

Kelly tak urung mendapat tekanan dari kanan-kiri. Di sisi lain, kebijakan Inggris atas Irak pelan-pelan kehilangan legitimasi menyusul dilakukannya investigasi internal. Keadaan ini makin menambah berat beban Kelly. Dia sempat diperingatkan Direktur Personalia Departemen Pertahanan Richard Hatfield dan diancam akan diberikan sanksi indisipliner. Sebelum ancaman itu jadi kenyataan, Kelly ditemukan tewas. Bagi kabinet Blair, kematian Kelly bisa berarti banyak hal. Salah satunya, Blair terbebaskan dari tuduhan pemalsuan laporan intelijen yang mendasari penyerbuan Inggris ke Irak.

Membaca ulasan-ulasan berita kasus David Kelly, saya ingat karakter Magnus Pym dan Leo Hartling. Mereka menghilang bersama dokumen-dokumen yang bisa mempermalukan pemerintah Inggris. Pym pejabat Departemen Luar Negeri, sedangkan Harting pengarsip Kedutaan Inggris di Bonn. Keduanya jadi kambing hitam atas kebobrokan dan kebocoran sistem di tempat mereka bekerja. Baik Pym maupun Hartling adalah tokoh-tokoh jelmaan yang lahir dari satu tangan: John le Carré.

Karya-karya awal le Carré berkisar pada dunia intelijen, dan mampu terjual dalam jutaan kopi, selain memenangi anugerah Somerset Maugham Award untuk novelnya The Spy Who Come In From The Cold. Penghargaan itu biasa diberikan kepada penulis muda Inggris.

Tema besar intelijen versi le Carré, dalam 30 tahun karyanya, lebih banyak berkisar pada dongeng Perang Dingin, terutama sepanjang konflik spionase antara Inggris dan (almarhum) Uni Soviet. Hanya satu novel saja yang menceritakan kisah cinta, The Naive and Sentimental Lover.

Karya-karya le Carré selalu penuh kejutan dan kesuraman para tokoh utamanya. Mereka bukanlah jagoan super seperti James Bond, atau cerita-ceritanya dipenuhi oleh aksi-aksi heroik seperti Tom Clancy. George Smiley, tokoh yang sering ditulis kisahnya dalam buku-buku le Carré, adalah seorang laki-laki paruh baya, pendek, punya masalah berat badan, berkacamata tebal, dan belum pernah menembak orang seumur hidupnya. Kolega-koleganya malah lebih bervariasi. Ada Connie Sachs, ratu riset MI6 yang juga seorang dosen di Oxford; Sam Collins, yang menghabiskan hidup mudanya di Asia Tenggara sebelum menjadi bos bisnis rumah judi, atau Toby Esterhease, yang sewaktu pensiun menjadi pedagang furnitur dan barang antik. Yang mungkin mirip dengan Bond adalah Peter Guillam, yang selalu memiliki mobil sport dan terlibat skandal dengan perempuan muda.

Kebanyakan tokoh utamanya mati di akhir cerita, kalau bukan merasa hidupnya sia-sia. Misalkan saja, Magnus Pym yang bunuh diri sebelum agen-agen MI5 sempat menangkapnya, atau Jerry Westerby, tokoh utama dalam The Honourable Schoolboy, yang mati ditembaki oleh agen rahasia Barat lainnya.

Sangat jarang akhir cerita novel-novel le Carré disesaki gemilang kemenangan, biarpun pahit sudah mengawali novel-novelnya. Pengkhianatan jadi nada dominan dari plotnya. Ini memosisikan le Carré sebagai novelis yang berusaha menampilkan Perang Dingin dengan segala kesuraman, kekalahan, dan kekejamannya. Potret tersebut dia kemas dalam frasa-frasa yang terasa satir. Hal ini sekaligus menempatkan novel-novel Le Carré berbeda dari galibnya kisah-kisah spionase yang banyak kita baca. Le Carré bahkan berulang-ulang menyiratkan bahwa pistol kecil Walther PPK yang melegenda bersama James Bond itu tak lebih dari ilusi. Dia tahu bahwa ada peraturan MI6 yang melarang agen-agennya membawa senjata apapun.

Untuk mereka yang terbiasa dengan heroisme dar-der-dor, pasti akan menyatakan le Carré penulis cerita spionase yang payah. Jika Bond diwarnai sifat sebagai “pejantan unggul,” tokoh-tokoh le Carré seringkali dihantui oleh perasaan-perasaan sentimentil. Misalkan saja karakter Barley, pemilik penerbitan yang hobi minum, nekat bernegosiasi dengan agen-agen Rusia untuk bisa membawa keluar Katya, perempuan yang dicintainya. Jerry Westerby nyaris membubarkan operasi besar MI6 karena rasa cintanya pada perempuan simpanan seorang taipan. Atau George Smiley dan agen bernama sandi Karla yang terikat sebuah hubungan melankolis dengan pemantik api bertuliskan “To George from Ann with all my love.”

JOHN LE CARRÉ, NAMA YANG DIGUNAKAN DAVID JOHN MORE CORNWELL. Hidup Le Carré dimulai dari kariernya sebagai diplomat setelah lulus Oxford University. Salah satu jabatan yang pernah dia pegang adalah sekretaris pertama Kedutaan Inggris di Bonn, Jerman. Puluhan tahun le Carré menepis dugaan bahwa dia mantan agen rahasia, namun belakangan dia mengakui telah bergabung dengan dinas rahasia Inggris sejak jadi anggota tentara pendudukan Inggris di Austria. Tugas pertamanya sangat konyol. Dia diperintahkan merekrut mata-mata di antara para pengungsi yang lari dari daerah pendudukan Uni Soviet untuk dikirim kembali ke Blok Timur.

Setelah tugas ketentaraannya berakhir, dia kembali ke kampus, menjadi agen MI5 di Lincoln College untuk mewaspadai perekrutan KGB di kalangan mahasiswa Inggris. Le Carré sempat mengajar di Eton, tapi kemudian bekerja di Kedutaan Inggris di Bonn atas perintah MI6 sebagai sekretaris.

Dia selalu punya satu kata untuk menjelaskan profesi spionasenya: “membosankan.” Menurut pengalamannya, sebagian besar kerja intelijen sangat birokratis, ‘menunggu informasi dan memilah-milahnya. Gambaran penuh aksi yang digambarkan lan Fleming dalam James Bond nyaris jarang terjadi. Demikian pula tumpukan-tumpukan arsip, yang selalu muncul dalam narasi novel-novel le Carré, bukanlah gambaran tipikal dunia intelijen sesungguhnya. Acap teka-teki intelijen yang terjadi di dunia nyata tidak terjawab.

Sewaktu bekerja dengan MI5, dinas rahasia Inggris untuk kontraspionase, le Carré bertemu dengan seseorang yang dia jadikan model untuk tokoh George Smiley. Namanya Lord Clanmorris, yang menulis buku-buku cerita detektif dengan menggunakan nama John Bingham.

Bingham-lah yang menyarankan le Carré untuk menulis. Namun Bingham sama sekali tidak sepakat dengan gambaran dinas rahasia Inggris yang dilukiskan le Carré. Dalam kata pengantar untuk buku Bingham, Five Roundabouts to Heaven, yang diterbitkan Pan Classic Crime tahun 2001, le Carré menulis, “Buat John -dan juga banyak lainnya- klaim maksud baik hanyalah omong kosong. Aku hanyalah seorang bajingan, segolongan dengan bajingan lain seperti Compton McKenzie, Malcolm Muggeridge, dan J.C. Masterman, yang semuanya telah mengkhianati dinas rahasia dengan menulis tentangnya.”

Le Carré lebih beruntung dari Compton Mackenzie, mantan anggota dinas rahasia yang menulis beberapa novel jenaka tentang pemerintah bayangan Inggris, salah satunya berjudul Water in Britain. Buku-buku Mackenzie dibredel dan dia masuk penjara, sementara Le Carré tidak mengalami gangguan apapun dari para espiokrat Inggris.

Yang menarik dari kehidupan le Carré, perkenalannya dengan dunia penyamaran bukanlah saat bergabung menjadi agen rahasia, tetapi justru dari masa kecilnya. Ayahnya, Ronald Cornwell, adalah seorang kriminal dan penipu yang selalu punya trik untuk mendapatkan gaya hidup mewah. Karena ayahnya sering keluar-masuk penjara, terutama karena penipuan lotre, le Carré dan saudaranya terpaksa menyembunyikan identitas mereka.

Sebagai kriminal kelas kakap, yang selalu berhasil menipu bankir dan politisi, Ronald Cornwell punya banyak cara untuk menjerat sasarannya. Dia pernah menggunakan koneksi perempuan-perempuan cantik untuk membuat regu cricket nasional Australia menandatangani 100 tongkat pemukul cricket yang dia beli. Lalu, tongkat-tongkat cricket itu dijadikan hadiah untuk anak-anak para bankir, politisi, ataupun rekanan bisnis lainnya.

KETIKA TINKER TAILOR HAMPIR SELESAI, INGGRIS DAN EROPA TERASA menyesakkan bagi le Carré. Semua yang dia temukan tidak ada yang cocok untuk dijadikan cerita. Dalam kalimatnya, seekor kucing duduk di atas kesetan bukanlah cerita. Seekor kucing duduk di atas kesetan seekor anjing, itu baru cerita. Dia merasa harus membuka horison baru, dan Asia Timur menjadi perhentian le Carré berikutnya. Vientiane, Phnom Penh, Bangkok, dan Hongkong kemudian segera jadi pengembaraannya, dan Klub Koresponden Asing di Hongkong menjadi tempat berteduhnya.

Dia kerap bertemu dengan banyak orang dari belahan dunia. Sebagian mereka berasal dari daerah-daerah bekas koloni Inggris -Australia, Amerika, dan Kanada. Salah seorang yang berkesan bagi le Carré adalah Richard “Dick” Hughes, wartawan The Sunday Times dan sempat menjadi salah satu kolumnis Far Eastern Economic Review.

 Le Carré menjadikan Dick Hughes sebagai model untuk tokoh Craw, dan pada saat bersamaan, mengekspos aktivitas sampingan Hughes: agen rahasia paruh waktu. Mungkin le Carré melakukan libel dalam melukiskan Hughes dalam wujud Craw, tapi Hughes tak keberatan. Ketika le Carré melakukan konfirmasi kepadanya, dia menjawab: “Nak, lakukan saja sampai ke akar- akarnya,” sambil mengingatkan bahwa Fleming juga melakukannya dalam novel You Only Live Twice.

Jalan hidup Hughes memang menarik. Hidupnya bermula sebagai pegawai jawatan kereta api Australia, lalu menjadi juara debat negara bagian Victoria. Variasi hidup Hughes begitu lebar, termasuk menjadi juara tinju kelas ringan dan menjadi aktivis serikat buruh kereta api, sebelum menjadi jurnalis. Pada masanya, dia pionir dalam jurnalisme Australia dalam hal memfokuskan liputan di Asia. Menjelang Perang Dunia l, Hughes nekat berangkat ke Jepang dengan biaya dari tabungannya yang tidak seberapadan pinjaman Au$ 400 dari bosnya, Frank Packer. Mungkin disitulah awal perkenalan Hughes dengan dunia spionase, terutama setelah bertemu dengan Richard Sorge, agen rahasia Rusia.

Liputan terbesar Hughes selama Perang Dingin adalah wawancaranya dengan Guy Burgess dan Donald Maclean, dua mata-mata Rusia berkebangsaan Inggris yang berhasil memegang posisi-posisi kunci di Departemen Luar Negeri dan Dinas Rahasia Kerajaan Inggris. Keduanya ditemui Hughes setelah mereka diketahui berada di Moskow, berhasil meloloskan diri dari para pemburu MI5.

Lukisan Craw yang dibuat le Carré berdasarkan karakter dan pengalaman Hughes adalah bagian dari upayanya untuk mengekspos lebih jauh dunia spionase.

Dan dunia spionase tak hanya konteks Barat versus Rusia. Le Carré juga merasa harus membawa salah satu karakternya, George Smiley, ke Timur Tengah untuk bertarung dengan tokoh Karla. “Tapi saya tidak bisa menemukan satu plotpun di Timur Tengah yang sangat kelam, sangat manipulatif, sangat konyol yang dapat mewadahi konfik tersebut,” komentar le Carré.

Dia merasa tidak ada cerita untuk Smiley di sana. Lagi pula, kesuksesan serial Tinker Tailor Soldier Spy di BBC, di mana Smiley diperankan baik oleh aktor Alec Guinness, telah, “merampas tokoh tersebut dari saya. Sangat sulit untuk menuliskan Smiley setelah Smiley diperankan Guinness menjadi terkenal. Di satu sisi kesuksesan filmnya malah merusak langkah saya.”

Jadilah le Carré mendatangi Israel dan Palestina, untuk membongkar konflik Israel-Palestina dalam kacamata baru. Dia memandang Barat telah mengabaikan aspek-aspek dari konflik berkepanjangan tersebut. Apalagi Golda Meir, perdana menteri Israel pada 1960-an pernah sesumbar, “Bangsa Palestina tidak pernah ada.” The Little Drummer Girl ditulis le Carré pada 1982 setelah serangkaian riset dan kunjungannya ke Israel dan Palestina. Dia berbicara dengan perwira-perwira intelijen militer dan Mossad, selain sempat hidup bersama dengan para pejuang Palestina di kamp Rashiddiyeh, yang terus-menerus diserang militer Israel.

Dia juga memotret trend konflik Barat dengan Blok Timur yang saat itu sudah berwujud dalam terorisme. Dari pemboman, pembajakan pesawat terbang sipil, sampai pembantaian terhadap atlet Israel di Olimpiade Munich 1976. Di sini berkibar nama Bäder-Meinhoff, Carlos the Jackal, Brigade Merah, dan nama kelompok teroris lain yang mengklaim peristiwa-peristiwa tersebut. Sumber perekrutan kelompok-kelompok tersebut sebagian besar adalah bekas-bekas mahasiswa yang pada 1968 terlibat gelombang pemberontakan di berbagai negara maju, atau pada 1970-an kelompok-kelompok anarkis yang hidup dalam generasi hippies. Frustasi terhadap kapitalisme jadi bahan bakarnya.

THE LITTLE DRUMMER GIRL SEMPAT MENGUNDANG PROTES BEBERAPA wartawan Israel, karena dianggap pro-Palestina. Le Carré dituduh anti-Semit karena paparannya dalam buku itu memberi simpati pada para pejuang Palestina. Apalagi, risetnya untuk menyusun novel itu termasuk berbicara dengan Yasser Arafat.

Ceritanya dimulai dengan seorang aktris teater bernama Charlie yang dengan sadar mengubah latar belakang hidupnya demi dapat diterima kelompok anarkis, untuk menyenangkan pacarnya, Alastair. Meski dia tahu, Al bukanlah seorang anarkis yang baik, dalam kehidupan domestik dia adalah seorang fasis.

Tapi bakat akting Charlie, yang benar-benar dia lakukan sehari-hari, menarik sekelompok orang yang mencoba menghentikan gelombang pemboman terhadap orang Yahudi Israel.

Kelompok agen Mossad yang dipimpin oleh Kurtz, yang sudah muak pada badut-badut di Knesset (Parlemen Israel) dan para serdadu Israel yang haus darah. Kurtz, bekas seorang teroris Yahudi sebelum 1948, bosan dengan pemboman yang dilakukan militer Israel terhadap rakyat sipil Palestina.

Bagi mereka, Charlie umpan untuk seorang teroris Palestina, yang bom-bom primitifnya merangkai terror. Sang teroris frustasi dengan perjuangan melawan Israel, apalagi Ketika dia dan adiknya melarikan diri ke wilayah yang dikuasai Suriah. Mereka ditangkap dan disiksa oleh militer Suriah, saudara-saudara Arabnya sendiri. “Sementara itu saudara-saudara Arab membunuh kita, kaum Zionis membunuh kita, kaum Falangis membunuh kita …”

LE CARRÉ MEMANDANG HIDUP SEBAGAI IRONI, DAN ITU TERCERMIN dalam semua dongeng yang dia bukukan. “Kita menangi perang itu. (Tapi) kita sia-siakan perdamaian. Kita belum meningkat menuju kejayaan. Bentuk-bentuk materialisme yang kita gunakan sebagai pembenaran selama jihad anti-komunis kini muncul, mendakwa kita,” ujar le Carré saat diwawancarai Tim Weiner dalam Le Carré On The Most Immoral Premise of All.

Dia menggunakan tokoh-tokoh dalam novel-novelnya untuk menyuarakan ironi yang dia maksudkan itu. Karakter Magnus Pym misalnya, digambarkan le Carré dulunya seorang mahasiswa pandai yang direkrut dinas rahasia Inggris untuk memata-matai mahasiswa pandai lainnya.

Melalui dongengnya tentang Smiley dan Karla, dalam trilogy Tinker Taylor Soldier Spy, The Honourable Schoolboy, dan Smiley People, le Carré mengingatkan orang pada decade 1950-an dan 1960-an. Saat itu Perang Dingin sedang memuncak, dan saat itu pula Inggris mengalami beberapa peristiwa yang memalukan. Sejumah pejabat dinas rahasianya membelot ke Uni Soviet, bahkan lima di antaranya disusupkan jauh sebelum Perang Dingin dimulai.

Guy Burgess, Donald Maclean, dan Kim Philby direkrut di kampus Cambridge oleh NKVD (dinas rahasia Uni Soviet sebelum KGB). Agen Anthony Blunt direkrut oleh badan yang sama ketikan mengunjungi Rusia pada 1933. Agen rahasia yang ditugaskan Ml6 untuk menyusupi KGB, George Blake, malah sudah lama bekerja untuk KGB. Philby bahkan sempat menjadi direktur MI6, sementara karier terakhir Blunt menjadi kurator lukisan-lukisan milik Ratu Inggris dan mendapatkan gelar Sir.

Lewat bingkai cerita tadi, le Carré melihat kemenangan Barat tak lebih dari serangkaian ironi – seperti keruntuhan Uni Soviet yang memerdekakan Azerbaijan, dengan kemungkinan pembantaian warga Armenia atau bangkitnya fundamentalisme lslam di republik-republik Asia Tengah. Sampai disini le Carré sepertinya hendak mengatakan bahwa imperium Barat akan menghadapi lebih banyak musuh dari kemenangannya selama ini.

Seiring dengan bergeraknya politik dunia ke arah berakhinya Perang Dingin, Ie Carré mencari ironi lain, umpamanya dalam medium konfik NATO-Pakta Warsawa. Dan ketika konfik ini usai, le Carré memusatkan perhatian pada wacana antigloblisasi. Dia memperlihatkan sikap ini pada novel terakhirnya, The Constant Gardener. Dalam novel ini, dia mengisahkan Justin Quayle, seorang diplomat biasa di Konsultat Inggris untuk Kenya. Waktu luangnya dihabiskan untuk merawat taman di rumahnya. Istrinya, Tessa,adalah aktivis yang terlibat dalam pengawasan bantuan obat-obatan untuk masyarakat miskin Kenya. Dypraxa obat mutakhir untuk TBC, dibagi-bagikan oleh The House of Three Bees sebagai bahan uji coba yang murah di Kenya. Syahdan, pemerintahan diktator Moi akan mudah membereskan jika ada”kekacauan” akibat efek samping obat yang belum benar-benar teruji itu.

Ketika Tessa dan temannya, Doktor Arnold Bluhm, dibunuh, kehidupan diplomat dan pertamanan Quayle berhenti. Dari seorang birokrat konsulat yang pendiam dan patuh pada tugas-tugasnya, Quayle berhenti bekerja dan menyusuri semua jejak Tessa dan Bluhm sebelum dibunuh. Setelah ditarik ke London, dia menghilang untuk mengetahui siapa yang membunuh Tessa dan apa penyebabnya. Namun, seperti beberapa tokoh le Carré dalam novel-novel terbaiknya, Quayle mengalami hal yang sama seperti Tessa.

Kasus-kasus kematian akibat Dypraxa, yang membuat Tessa, Bluhm, dan akhirnya Quayle dibunuh, kembali jadi teka-teki abadi. Mereka yang terlibat tetap bebas. Keneth Curtiss si pemilik The House of Three Bees mendapatkan gelar kebangsawanan dan diangkat menjadi anggota The House of Lords. Sir Bernard Pellegrin dari Kementrian Luar Negeri Inggris mengambil pensiun dini untuk menjadi manajer di Karel Vita Hudson, produsen Dypraxa.

The Constant Gardener membawa le Carré ke dalam alur tema mengenai bagaimana perusahaan-perusahaan obat internasional menggunakan negara dunia ketiga seperti Kenya sebagai laboratorium. Inspirasinya sangat jelas, berasal dari gejolak internasional yang kini terjadi: gerakan antiglobalisasi. Dalam penutup The Constant Gardener le Carré dengan tegas menyatakan bahwa apa yang ditulisnya tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang terjadi dalam dunia nyata.

About the author

Leave a Reply