Penulis: Roy Abimanyu

Ekonomi Perang dan Neoliberalisme

“war is peace,
ignorance is strength,
freedom is slavery.”
Slogan Big Brother dalam 1984, karya George Orwell

Iklan

Everlasting woes – The economy will not recover under current policies

Indonesia, ‘The model pupil of developing countries’, as the World Bank once put it, is now looking into a deep pit.

After six years of crisis, there are no signs of recovery for Indonesia. Key economic infrastructure has continued to degrade. Parts of many cities, especially outside Java, are now experiencing regular electricity blackouts, as the power capacity drops due to lack of maintenance or to just bad, uncoordinated, planning. The railways have seen a 64 per cent increase in accidents due to ageing tracks and facilities.

So what has happened to the Indonesian Miracle?

Mempertimbangkan Kembali Strategi Pembangunan ala IMF

* Agustus 2003, dimuat Tempo dalam versi teredit

Kicking Away The Ladder: Development Strategy in Historical Perspective Dr Ha-Joon Chang Anthem Press, London, 2002 vi +187 hal

Di tengah kontroversi mengenai perpanjangan kontrak Indonesia dengan IMF, rasanya janggal jika tidak menelusuri kebijakan-kebijakan yang ‘dipaksakan’ oleh IMF kepada Pemerintah Indonesia. Benarkah paket reformasi yang berada di dalam ‘koper’ IMF akan membawa Indonesia keluar dari krisis, sehingga begitu pentingnya Indonesia ‘lulus’ sekolah IMF, menggunakan bahasa Syahril Sabirin di Kompas, 22 April 2003? Kontroversi ini juga tidak lepas dari mencuatnya kritik terhadap ‘menu’ kebijakan-kebijakan IMF, terutama dari Joseph Stiglitz, penerima Hadiah Nobel dan mantan Wakil Presiden Bank Dunia. Dalam bukunya Globalization and Its Discontents, Joe Stiglitz melukiskan dampak-dampak akibat kegagalan konseptual dari paket kebijakan yang diberikan IMF kepada ‘pasien-pasiennya’.

Hal ini diperburuk dengan dijadikannya IMF oleh banyak negara donor ataupun negara penerima ‘bantuan’ sebagai juri yang mengadili baik atau buruknya kebijakan-kebijakan pembangunan suatu negara. Bahkan ‘menu’ kebijakan itu sangat terlihat dipaksakan, jika dikaitkan dengan posisi tawar yang lemah dari negara pemohon bantuan. Tidaklah mengherankan jika banyak pihak memandang bahwa krisis utang luar negeri yang kini terjadi di berbagai negara dunia ketiga adalah ‘jalan baru’ imperialisme negara maju.

Serangan Atas Irak, Dominasi Global AS, dan Langkah Rekolonisasi Dunia Ketiga

Dua Kepentingan Imperialis

Pada saat artikel ini ditulis, dua buah proposal resolusi Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa tengah diajukan. Yang pertama adalah proposal penggunaan serangan militer untuk melucuti “senjata pemusnah massal” yang dimiliki oleh Irak. Sebuah proposal yang sebenarnya sebatas mencari legitimasi badan internasional tersebut dan dukungan dari negara-negara imperialis lainnya. Meskipun begitu, dengan ataupun tanpa resolusi Dewan Keamanan, Pemerintahan Bush dan Blair menyatakan akan tetap melakukan serangan. Sedangkan proposal kedua berasal dari para “penentang perang”, Perancis dan Jerman, yang mengajukan solusi damai atas Irak. Meski berbeda sikap dalam penyelesaian problem Irak, kedua proposal sangat jelas mengatakan bahwa terdapat pelanggaran terhadap Resolusi 1441Dewan Keamanan PBB, yang menyebutkan bahwa Irak harus memusnahkan semua program-program persenjataan nuklir, biologi, dan kimia.

Perang, Solusi Kapitalistik; Solusi Rakyat Miskin?

* diterbitkan di Pembebasan 7, 2003, dan di Jurnal Keadilan Global 02 Tahun 1 – 2003

Perang, Menuju Kehancuran Berikutnya Kapitalisme

Tidak ada istilah yang paling tepat untuk menjelaskan kecenderungan kapitalisme global saat ini kecuali penjajahan kembali (rekolonialisasi). Dengan sisa-sisa resesi yang masih berlanjut-sebagai akibat akut krisis kelebihan kapasitas produksi dan tingkat penumpukkan modal di atas kertas dan gelembung modal (financial bubble)-maka tidak ada jalan lain bagi kapitalisme global kecuali mengalihkan semua poros perampasan kerjanya ke dalam penguasaan langsung. Mengambil alih langsung semua aset-aset ekonomi dunia ketiga, lengkap dengan pemerintahannya. Jalan neoliberal tidak cukup ampuh menyelamatkan mereka dari krisis, reformasi-reformasi ekonomi politik bernuansa pasar di negeri-negeri dunia ketiga tidak lagi cukup untuk membiayai mesin-mesin ekonomi yang haus sumber daya alam, dan kompetisi antar imperialis yang haus perluasan pasar. Tidak. Tidak cukup. Negeri terbelakang harus diambil alih. Cakar-cakar imperialis harus kukuh menancap di negeri terbelakang agar tubuh mereka, negara-negara imperialis itu, yang sudah penuh kanker perjuangan kelas tidak terlalu cepat runtuh diterpa badai krisis yang akan terus datang bergelombang.

How The Triumphant Americans Have Changed Our World (Again)

A regime had fallen apart weeks ago, as its armed forces ceased to exist. Fierce resistance, heavy urban fighting, as offered and promised by Saddam and his P.R minister, are proven to be a whole daydream that only had been effectively illussioning many of Indonesian military commentators (while most of them are former TNI top-brass). Triumphant American soldiers, on foot, in their jeeps, tanks and APCs, were replacing photographs and news on civillian casualties (the collateral damage). As if there were no accountability of the fact that the bloods shed for the Iraqi Freedom were truly of those whom are claimed to be freed.

Perang Di Irak, Perang Di Aceh

*Pembebasan 8, 2003

Militerisme AS Demi Berlangsungnya Kapitalisme Global

Tak lama setelah dikuasainya Irak oleh AS dan sekutu-sekutunya, Rejim Megawati-Hamzah seperti tak mau ketinggalan dalam gerbong genderang perang kapitalis terhadap rakyat miskin. Tanggal 19 Mei 2003, Pemerintah RI menyatakan Aceh di bawah kekuasaan darurat militer dan unit-unit TNI dan Polri dengan segera bergerak maju menghantam daerah-daerah yang dikatakan sebagai basis GAM.