Kategori: Opini

Berbicara Kembali Tentang Kesadaran Politik (Kelas)

Gerakan transformasi sosial Indonesia, mencapai percepatan tertinggi menjelang dan sesudah bulan-bulan kejatuhan Soeharto. Ratusan ribu orang terlibat aktif di dalamnya, menghasilkan ribuan organisasi massa bertuntutan politis, dan melahirkan krisis dalam sistem kapitalis Indonesia. Harapan-harapan revolusioner pun bermunculan. Semua mata gerakan revolusioner sedunia tertuju ke negeri ini.

Representasi Berbahaya

Salah satu representasi yang berbahaya mengenai Timor Leste bersumber pada para komentator/kolumnis/jurnalis yang mempertanyakan kebijakkan bahasa pemerintah negara tersebut untuk menggunakan Tetum dan Portugis sebagai bahasa resmi. Representasi tersebut memojokkan sebuah pemerintahan nasionalis Alkatiri yang mencoba menahan tekanan kuat dari dua gajah tetangganya, Indonesia dan Australia. Pemberitaan di Jakarta Post dan Kompas, media yang bisa dikatakan paling moderat dalam soal berita luar negeri, melukiskan adanya communication gap antar generasi dan Mari Alkatiri yang elitis.

Adili Soeharto, Evaluasi Perkembangan Historis Indonesia

Melihat perkembangan dalam berbagai kolom opini dan pernyataan tokoh-tokoh di beberapa media massa saat ini, ada kesan bahwa perbincangan yang paling mendominasi adalah di seputar dua persoalan: penegakkan hukum dan etika-moralitas. Di hadapan para pembaca, pihak yang mengamini penghentian proses hukum atas Soeharto dan yang menolaknya sama-sama mengajak ke arah pertimbangan baik-buruk, adil-tidak, bahkan sampai ke persoalan jasa dan dosa Soeharto sebagai Presiden.

Keresahan Rakyat, Populisme, dan Fondasi (Baru) Fasisme di Indonesia

Roysepta Abimanyu*

Delapan tahun sudah transisi demokratik berjalan di Indonesia. Tuntutan demi tuntutan demokratik dan kerakyatan sudah dikedepankan dan mampu meruntuhkan simbol-simbol kekuasaan otoritarian yang sebelumnya seperti tak tersentuh. Sampai tahun 2003, Soeharto menjadi tuntutan yang ditagih berbagai macam kelompok rakyat. Dwifungsi militer telah disoroti sedemikian rupa sehingga tanpa campur tangan Amerika Serikat dan Perang Global Kontra Terorisme, mustahil Angkatan Darat Indonesia dapat mengirimkan kembali Bintara Pembina Desa ke kehidupan masyarakat.

AMBALAT: Gunboat Diplomacy, Para Sukarelawan, dan Nasionalisme

Menambah kontribusi soal Ambalat, ada baiknya membuka di tiga isu fundamental yang mencuat di berbagai media massa Indonesia.

1. Soal Gunboat diplomacy

Kemarin (08/03/2005) di Sinar Harapan, seorang pakar Keamanan Maritim bernama Alman Helvas Ali menulis kolom opini tentang ketegangan laut di Ambalat “Diplomasi Angkatan Laut” (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0503/08/opi01.html). Sang pakar berkata, tindakan yang diambil TNI-AL sudah benar, sebagai langkah yang disebut gunboat diplomacy. Sebenarnya tidak ada yang spesial di kolom opini tersebut, sebatas memamerkan pengetahuan teknis sang penulis. Hanya saja ada beberapa garis argumen yang menarik: