Keresahan Rakyat, Populisme, dan Fondasi (Baru) Fasisme di Indonesia

Roysepta Abimanyu*

Delapan tahun sudah transisi demokratik berjalan di Indonesia. Tuntutan demi tuntutan demokratik dan kerakyatan sudah dikedepankan dan mampu meruntuhkan simbol-simbol kekuasaan otoritarian yang sebelumnya seperti tak tersentuh. Sampai tahun 2003, Soeharto menjadi tuntutan yang ditagih berbagai macam kelompok rakyat. Dwifungsi militer telah disoroti sedemikian rupa sehingga tanpa campur tangan Amerika Serikat dan Perang Global Kontra Terorisme, mustahil Angkatan Darat Indonesia dapat mengirimkan kembali Bintara Pembina Desa ke kehidupan masyarakat.

West African Crisis

Introduction During the 1990s, international news had been coloured by African asymmetric civil and multi-states wars. One of the hotspots was in Western Africa, where abundant natural and mineral resources and weak states induced local […]

AMBALAT: Gunboat Diplomacy, Para Sukarelawan, dan Nasionalisme

Menambah kontribusi soal Ambalat, ada baiknya membuka di tiga isu fundamental yang mencuat di berbagai media massa Indonesia.

1. Soal Gunboat diplomacy

Kemarin (08/03/2005) di Sinar Harapan, seorang pakar Keamanan Maritim bernama Alman Helvas Ali menulis kolom opini tentang ketegangan laut di Ambalat “Diplomasi Angkatan Laut” (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0503/08/opi01.html). Sang pakar berkata, tindakan yang diambil TNI-AL sudah benar, sebagai langkah yang disebut gunboat diplomacy. Sebenarnya tidak ada yang spesial di kolom opini tersebut, sebatas memamerkan pengetahuan teknis sang penulis. Hanya saja ada beberapa garis argumen yang menarik: