Tag: Indonesia

Setelah Dekolonisasi Dili

Gerombolan-gerombolan pemuda berparang berkelana di jalan-jalan kota Dili, Timor Leste. Pembunuhan, pembakaran, penjarahan terjadi di berbagai pelosok kota. Kantor-kantor pemerintahan tak luput dari gelombang kekerasan. Unit-unit militer dan polisi negara, yang mestinya mengendalikan situasi, justru malah berbaku tembak.

Iklan

Representasi Berbahaya

Salah satu representasi yang berbahaya mengenai Timor Leste bersumber pada para komentator/kolumnis/jurnalis yang mempertanyakan kebijakkan bahasa pemerintah negara tersebut untuk menggunakan Tetum dan Portugis sebagai bahasa resmi. Representasi tersebut memojokkan sebuah pemerintahan nasionalis Alkatiri yang mencoba menahan tekanan kuat dari dua gajah tetangganya, Indonesia dan Australia. Pemberitaan di Jakarta Post dan Kompas, media yang bisa dikatakan paling moderat dalam soal berita luar negeri, melukiskan adanya communication gap antar generasi dan Mari Alkatiri yang elitis.

Adili Soeharto, Evaluasi Perkembangan Historis Indonesia

Melihat perkembangan dalam berbagai kolom opini dan pernyataan tokoh-tokoh di beberapa media massa saat ini, ada kesan bahwa perbincangan yang paling mendominasi adalah di seputar dua persoalan: penegakkan hukum dan etika-moralitas. Di hadapan para pembaca, pihak yang mengamini penghentian proses hukum atas Soeharto dan yang menolaknya sama-sama mengajak ke arah pertimbangan baik-buruk, adil-tidak, bahkan sampai ke persoalan jasa dan dosa Soeharto sebagai Presiden.

Keresahan Rakyat, Populisme, dan Fondasi (Baru) Fasisme di Indonesia

Roysepta Abimanyu*

Delapan tahun sudah transisi demokratik berjalan di Indonesia. Tuntutan demi tuntutan demokratik dan kerakyatan sudah dikedepankan dan mampu meruntuhkan simbol-simbol kekuasaan otoritarian yang sebelumnya seperti tak tersentuh. Sampai tahun 2003, Soeharto menjadi tuntutan yang ditagih berbagai macam kelompok rakyat. Dwifungsi militer telah disoroti sedemikian rupa sehingga tanpa campur tangan Amerika Serikat dan Perang Global Kontra Terorisme, mustahil Angkatan Darat Indonesia dapat mengirimkan kembali Bintara Pembina Desa ke kehidupan masyarakat.

AMBALAT: Gunboat Diplomacy, Para Sukarelawan, dan Nasionalisme

Menambah kontribusi soal Ambalat, ada baiknya membuka di tiga isu fundamental yang mencuat di berbagai media massa Indonesia.

1. Soal Gunboat diplomacy

Kemarin (08/03/2005) di Sinar Harapan, seorang pakar Keamanan Maritim bernama Alman Helvas Ali menulis kolom opini tentang ketegangan laut di Ambalat “Diplomasi Angkatan Laut” (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0503/08/opi01.html). Sang pakar berkata, tindakan yang diambil TNI-AL sudah benar, sebagai langkah yang disebut gunboat diplomacy. Sebenarnya tidak ada yang spesial di kolom opini tersebut, sebatas memamerkan pengetahuan teknis sang penulis. Hanya saja ada beberapa garis argumen yang menarik:

Everlasting woes – The economy will not recover under current policies

Indonesia, ‘The model pupil of developing countries’, as the World Bank once put it, is now looking into a deep pit.

After six years of crisis, there are no signs of recovery for Indonesia. Key economic infrastructure has continued to degrade. Parts of many cities, especially outside Java, are now experiencing regular electricity blackouts, as the power capacity drops due to lack of maintenance or to just bad, uncoordinated, planning. The railways have seen a 64 per cent increase in accidents due to ageing tracks and facilities.

So what has happened to the Indonesian Miracle?

Perang Di Irak, Perang Di Aceh

*Pembebasan 8, 2003

Militerisme AS Demi Berlangsungnya Kapitalisme Global

Tak lama setelah dikuasainya Irak oleh AS dan sekutu-sekutunya, Rejim Megawati-Hamzah seperti tak mau ketinggalan dalam gerbong genderang perang kapitalis terhadap rakyat miskin. Tanggal 19 Mei 2003, Pemerintah RI menyatakan Aceh di bawah kekuasaan darurat militer dan unit-unit TNI dan Polri dengan segera bergerak maju menghantam daerah-daerah yang dikatakan sebagai basis GAM.