Tag: neoliberalisme

Baca Selengkapnya

Ulasan Buku Vedi Hadiz: Islamic Populism in Indonesia and the Middle East

Vedi Hadiz mencoba melihat sebuah trend politik global dari populisme yang kini menjadi tantangan pada berbagai negeri. Ia menawarkan pendekatan baru dalam mempelajari perpolitikan Islam: kecenderungan jangka panjang gerakan Islam dari kacamata sosiologi historis dan politik ekonomi, dengan pendekatan komparatif. Risetnya dilakukan di beberapa negeri berpenduduk mayoritas Muslim: Indonesia, Mesir dan Turki.

Iklan

Everlasting woes – The economy will not recover under current policies

Indonesia, ‘The model pupil of developing countries’, as the World Bank once put it, is now looking into a deep pit.

After six years of crisis, there are no signs of recovery for Indonesia. Key economic infrastructure has continued to degrade. Parts of many cities, especially outside Java, are now experiencing regular electricity blackouts, as the power capacity drops due to lack of maintenance or to just bad, uncoordinated, planning. The railways have seen a 64 per cent increase in accidents due to ageing tracks and facilities.

So what has happened to the Indonesian Miracle?

Mempertimbangkan Kembali Strategi Pembangunan ala IMF

* Agustus 2003, dimuat Tempo dalam versi teredit

Kicking Away The Ladder: Development Strategy in Historical Perspective Dr Ha-Joon Chang Anthem Press, London, 2002 vi +187 hal

Di tengah kontroversi mengenai perpanjangan kontrak Indonesia dengan IMF, rasanya janggal jika tidak menelusuri kebijakan-kebijakan yang ‘dipaksakan’ oleh IMF kepada Pemerintah Indonesia. Benarkah paket reformasi yang berada di dalam ‘koper’ IMF akan membawa Indonesia keluar dari krisis, sehingga begitu pentingnya Indonesia ‘lulus’ sekolah IMF, menggunakan bahasa Syahril Sabirin di Kompas, 22 April 2003? Kontroversi ini juga tidak lepas dari mencuatnya kritik terhadap ‘menu’ kebijakan-kebijakan IMF, terutama dari Joseph Stiglitz, penerima Hadiah Nobel dan mantan Wakil Presiden Bank Dunia. Dalam bukunya Globalization and Its Discontents, Joe Stiglitz melukiskan dampak-dampak akibat kegagalan konseptual dari paket kebijakan yang diberikan IMF kepada ‘pasien-pasiennya’.

Hal ini diperburuk dengan dijadikannya IMF oleh banyak negara donor ataupun negara penerima ‘bantuan’ sebagai juri yang mengadili baik atau buruknya kebijakan-kebijakan pembangunan suatu negara. Bahkan ‘menu’ kebijakan itu sangat terlihat dipaksakan, jika dikaitkan dengan posisi tawar yang lemah dari negara pemohon bantuan. Tidaklah mengherankan jika banyak pihak memandang bahwa krisis utang luar negeri yang kini terjadi di berbagai negara dunia ketiga adalah ‘jalan baru’ imperialisme negara maju.