Tag: United-States

Serangan Atas Irak, Dominasi Global AS, dan Langkah Rekolonisasi Dunia Ketiga

Dua Kepentingan Imperialis

Pada saat artikel ini ditulis, dua buah proposal resolusi Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa tengah diajukan. Yang pertama adalah proposal penggunaan serangan militer untuk melucuti “senjata pemusnah massal” yang dimiliki oleh Irak. Sebuah proposal yang sebenarnya sebatas mencari legitimasi badan internasional tersebut dan dukungan dari negara-negara imperialis lainnya. Meskipun begitu, dengan ataupun tanpa resolusi Dewan Keamanan, Pemerintahan Bush dan Blair menyatakan akan tetap melakukan serangan. Sedangkan proposal kedua berasal dari para “penentang perang”, Perancis dan Jerman, yang mengajukan solusi damai atas Irak. Meski berbeda sikap dalam penyelesaian problem Irak, kedua proposal sangat jelas mengatakan bahwa terdapat pelanggaran terhadap Resolusi 1441Dewan Keamanan PBB, yang menyebutkan bahwa Irak harus memusnahkan semua program-program persenjataan nuklir, biologi, dan kimia.

Iklan

Perang, Solusi Kapitalistik; Solusi Rakyat Miskin?

* diterbitkan di Pembebasan 7, 2003, dan di Jurnal Keadilan Global 02 Tahun 1 – 2003

Perang, Menuju Kehancuran Berikutnya Kapitalisme

Tidak ada istilah yang paling tepat untuk menjelaskan kecenderungan kapitalisme global saat ini kecuali penjajahan kembali (rekolonialisasi). Dengan sisa-sisa resesi yang masih berlanjut-sebagai akibat akut krisis kelebihan kapasitas produksi dan tingkat penumpukkan modal di atas kertas dan gelembung modal (financial bubble)-maka tidak ada jalan lain bagi kapitalisme global kecuali mengalihkan semua poros perampasan kerjanya ke dalam penguasaan langsung. Mengambil alih langsung semua aset-aset ekonomi dunia ketiga, lengkap dengan pemerintahannya. Jalan neoliberal tidak cukup ampuh menyelamatkan mereka dari krisis, reformasi-reformasi ekonomi politik bernuansa pasar di negeri-negeri dunia ketiga tidak lagi cukup untuk membiayai mesin-mesin ekonomi yang haus sumber daya alam, dan kompetisi antar imperialis yang haus perluasan pasar. Tidak. Tidak cukup. Negeri terbelakang harus diambil alih. Cakar-cakar imperialis harus kukuh menancap di negeri terbelakang agar tubuh mereka, negara-negara imperialis itu, yang sudah penuh kanker perjuangan kelas tidak terlalu cepat runtuh diterpa badai krisis yang akan terus datang bergelombang.

How The Triumphant Americans Have Changed Our World (Again)

A regime had fallen apart weeks ago, as its armed forces ceased to exist. Fierce resistance, heavy urban fighting, as offered and promised by Saddam and his P.R minister, are proven to be a whole daydream that only had been effectively illussioning many of Indonesian military commentators (while most of them are former TNI top-brass). Triumphant American soldiers, on foot, in their jeeps, tanks and APCs, were replacing photographs and news on civillian casualties (the collateral damage). As if there were no accountability of the fact that the bloods shed for the Iraqi Freedom were truly of those whom are claimed to be freed.

Perang Di Irak, Perang Di Aceh

*Pembebasan 8, 2003

Militerisme AS Demi Berlangsungnya Kapitalisme Global

Tak lama setelah dikuasainya Irak oleh AS dan sekutu-sekutunya, Rejim Megawati-Hamzah seperti tak mau ketinggalan dalam gerbong genderang perang kapitalis terhadap rakyat miskin. Tanggal 19 Mei 2003, Pemerintah RI menyatakan Aceh di bawah kekuasaan darurat militer dan unit-unit TNI dan Polri dengan segera bergerak maju menghantam daerah-daerah yang dikatakan sebagai basis GAM.

Perkembangan Globalisasi: Kembalinya Militerisme

Pada kuartal pertama tahun 2002, semua media kapitalis, baik di Indonesia, maupun dunia, beramai-ramai mengabarkan sebuah berita: ekonomi dunia pulih. Indeks pasar-pasar saham berhasil kembali ke indeks sebelum 9 September, 2001. Indeks konsumsi dan industri juga meningkat yang, dalam buku-buku ekonomi liberal (yang bangkrut itu), dilihat sebagai peningkatan aktivitas ekonomi yang positif. Resesi telah berakhir, kata banyak ekonom. Resesi, yang paling mirip dengan situasi tahun 1929 dan paling lunak, telah berakhir, begitu teriak para pendukung globalisasi.