Penulis: Roy Abimanyu

Baca Selengkapnya

Menggali Genealogi dan Arkeologi Kekuasaan – Catatan dan Komentar (Bagian 1)

Buku yang ditulis Stuart Elden, Profesor Teori Politik dan Geografi Universitas Warwick dan Universitas Monash, bermaksud mengkonsolidasikan catatan-catatan yang dimilikinya untuk memahami awalan dan perubahan yang dilalui oleh pemikiran Foucault tentang kekuasaan.

Iklan
Baca Selengkapnya

Perang sebagai Pisau Analisa Politik (Bagian 2)

(lanjutan Catatan kuliah Michel Foucault “Il faut défendre la société” 21 Januari 1976, College de France, Paris)

Poin penting pada akhir bagian sebelumnya adalah pembalikkan tesis terkenal Clausewitz, yang menjadi: “politik adalah kelanjutan dari perang dengan cara-cara lain.” Foucault berargumen sangatlah mungkin sebenarnya Clausewitz membalikkan tesis tersebut dalam memformulasikan tesis terkenalnya.

Baca Selengkapnya

Ulasan Buku Vedi Hadiz: Islamic Populism in Indonesia and the Middle East

Vedi Hadiz mencoba melihat sebuah trend politik global dari populisme yang kini menjadi tantangan pada berbagai negeri. Ia menawarkan pendekatan baru dalam mempelajari perpolitikan Islam: kecenderungan jangka panjang gerakan Islam dari kacamata sosiologi historis dan politik ekonomi, dengan pendekatan komparatif. Risetnya dilakukan di beberapa negeri berpenduduk mayoritas Muslim: Indonesia, Mesir dan Turki.

Baca Selengkapnya

Mari Tinggalkan Teori Hak/Kedaulatan

Catatan kuliah Michel Foucault “Il faut défendre la société”, 14 Januari 1976, College de France, Paris.

Kita telah tiba pada semacam persimpangan untuk meninggalkan atau melanjutkan “ekonomisme” dalam menganalisa kekuasaan. Perkembangan teknologi kekuasaan terlihat terlalu kompleks untuk dianalisa melalui kacamata “ekonomisme” yang mengandaikan kekuasaan adalah hasil dari transaksi (teori kontrak sosial) maupun sebatas alat produksi dan reproduksi relasi ekonomi kapitalisme.

Baca Selengkapnya

Taming the Leviathan

 

Indonesia’s Presidential Election 2014 is probably a landmark moment in the country’s democracy. Never before in the last decade saw a big surge of public political participation. Thousands of volunteers’ organisations from villages to the national stage sprouted like mushrooms in rainy seasons. A combination between the hope of a new beginning and the fear of past dictatorship propelled the apolitical citizens to take side in supporting the winning pair Joko Widodo – Jusuf Kalla (Jokowi-JK).