Catatan atas Il faut défendre la société

Bagaimana kita mempelajari kekuasaan dari pertarungan yang membentuknya? Pertanyaan ini menghubungkan catatan-catatan pembelajaran saya atas Il faut défendre la société, kuliah Michel Foucault di Collège de France pada 1976. Ditulis sejak 2009, rangkaian ini masih berlangsung. Tulisan ini menjadi pengantar yang dapat terus diperluas seiring bertambahnya catatan.

Pemberontakkan Pengetahuan Melawan Rejim Baru membaca kuliah 7 Januari melalui pergulatan politik Indonesia pada 2009. Fokusnya adalah pengetahuan yang dikubur oleh penjelasan resmi atau didiskualifikasi sebagai tidak ilmiah. Pengalaman warga dan ingatan perlawanan menjadi titik berangkat untuk memeriksa bagaimana klaim kekuasaan digugat. Tantangannya: menjelaskan bagaimana pengetahuan yang terpencar memperoleh kekuatan politik.

Mari Tinggalkan Teori Hak/Kedaulatan mengikuti kuliah 14 Januari dengan mengalihkan perhatian kepada teknik dominasi. Analisa bergerak dari praktik setempat menuju mekanisme kekuasaan yang lebih luas. Pengakuan hak dapat berlangsung bersama pengawasan dan pendisiplinan; karena itu, pertanyaan tentang legitimasi perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan tentang bagaimana kekuasaan bekerja.

Kuliah 21 Januari dibahas dalam tiga tulisan yang perlu dibaca sebagai satu rangkaian:

  • Menemukan Perang sebagai Pisau Analisa Politik merumuskan pertanyaan dasarnya: dapatkah perang membantu menjelaskan hubungan kekuasaan? Perang di sini masih merupakan kemungkinan analitis yang harus diuji.
  • Perang sebagai Pisau Analisa Politik—Bagian 2 menelusuri kemunculan diskursus yang menemukan kelanjutan perang di dalam hukum dan ketertiban. Paradoksnya, diskursus tersebut berkembang ketika negara semakin memusatkan pengelolaan perang.
  • Karakter Diskursus Perang Permanen membedah keberpihakan pengujarnya, hubungan pengetahuan dengan mitos, serta perubahan diskursus perjuangan ras menjadi rasisme negara. Bahasa perlawanan ternyata dapat diambil alih untuk membenarkan dominasi.

Gerak ketiganya menentukan: dari pengujian metode, menuju sejarah diskursus, lalu pemeriksaan atas perubahan fungsi politiknya. Membacanya sebatas semboyan “politik adalah kelanjutan perang” akan menghilangkan persoalan terpenting tersebut.

Sejarah dan Kontra-Sejarah melanjutkan pembacaan ke kuliah 28 Januari. Sejarah dapat mengukuhkan kekuasaan melalui kisah kesinambungan dan kejayaan. Kontra-sejarah membuka penaklukan serta kekalahan yang disembunyikannya. Namun kontra-sejarah juga dapat digunakan berbagai pihak, termasuk untuk mempertahankan privilese. Keberpihakan suatu kisah perlu diperiksa melalui penggunaannya.

Sampai di sini, pembelajaran menyisakan pertanyaan yang akan dibawa ke catatan berikutnya: bagaimana pengetahuan menjadi instrumen pertarungan, bagaimana instrumen itu berpindah tangan, dan bagaimana seruan membela masyarakat dapat sekaligus menentukan siapa yang harus disingkirkan darinya?

Silahkan menunggu beberapa waktu untuk membaca catatan saya selanjutnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check also

View Archive [ -> ]