- Sebuah catatan perjalanan inisiatif Kementerian Koperasi dan Pertamina NRE
Pada 1881, Thomas Alva Edison mengutus perwakilannya menyeberangi Atlantik. Tujuannya London.
Bukan tempat yang aneh untuk menggalang modal pada akhir abad ke-19.
London adalah pusat keuangan dunia. Modal dari kota itu membiayai kereta api, pelabuhan, tambang, perkebunan dan berbagai proyek infrastruktur sampai ke tempat-tempat yang sangat jauh dari Inggris. Jika Edison ingin meyakinkan dunia bahwa listrik bukan sekadar eksperimen laboratorium, London adalah salah satu tempat terbaik untuk menang.
Yang hendak dijual Edison memang jauh lebih besar daripada sebuah bola lampu. Ia sedang mencoba menjual sebuah sistem.
Pada Januari 1882, sebuah pembangkit kecil mulai beroperasi di Holborn Viaduct. Lokasinya dipilih dengan cermat. Di bawah jalan sudah terdapat saluran yang memungkinkan kabel listrik dipasang tanpa harus membongkar. Tidak jauh dari Fleet Street, pusat surat kabar Inggris. Di sekitarnya ada kantor, toko, restoran dan berbagai kegiatan komersial yang dapat menjadi pelanggan listrik. Singkatnya, Holborn adalah tempat yang bagus untuk membuat orang melihat masa depan.
Lampu-lampu menyala dengan listrik yang dihasilkan di satu tempat dan dialirkan melalui kabel kepada banyak pengguna. Orang tidak perlu mempunyai generator sendiri untuk memperoleh listrik. Sebuah pembangkit dapat melayani sebuah kawasan.
Pada hari ini, ide Edison kedengarannya biasa saja. Pada 1882, itu sebuah bisnis baru.
Edison perlu menunjukkan bahwa listrik tidak hanya dapat dihasilkan. Listrik harus dapat didistribusikan, diukur penggunaannya, dijual kepada pelanggan dan menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membiayai sistem yang membuat semua itu mungkin.
Para calon investor di London tidak sedang diminta membiayai lampu yang bisa menyala. Edison mau mereka membayangkan sebuah industri.
Beberapa bulan kemudian, pada September 1882, Edison membuka Pearl Street Station di Lower Manhattan, New York.
Pearl Street berada di salah satu kawasan dengan kegiatan ekonomi paling padat di Amerika Serikat. Ada bank, kantor, toko, percetakan dan berbagai usaha yang membutuhkan penerangan. Ada aktivitas ekonomi yang terus berlangsung setelah matahari terbenam. Ada calon pelanggan yang mempunyai kebutuhan terhadap listrik dan, yang tidak kalah penting, siap membayar.
Edison tidak membangun pembangkitnya di tempat yang kosong. Ia membangun listrik di atas ekonomi yang sudah hidup.
Saya baru memahami pentingnya bagian dari sejarah Edison itu ketika kami mulai memikirkan listrik di Pulau Sembur. Inspirasinya, Presiden Prabowo Subianto mencanangkan membangun 100 GW energi surya pada Agustus 2025.
Pulau Sembur Laut berada di Kelurahan Galang Baru, Batam. Tidak sampai dua ratus keluarga tinggal di sana. Sebagian besar hidup dari laut. Sejak Indonesia Merdeka, tak pernah menikmati listrik PLN. Sempat ada genset diesel pemberian CSR, namun hanya terbatas tenaga dan waktu menyala. Sudah lewat setengah dekade, genset rusak dan tak lama berubah menjadi rupiah besi tua.
Ketika kemudian muncul kesempatan membangun pembangkit listrik tenaga surya, persoalannya sekilas terlihat sebagai persoalan teknologi.
Ada matahari. Kita memasang modul surya. Modul surya menghasilkan listrik. Baterai menyimpan energi agar listrik tetap tersedia ketika matahari tidak bersinar.
Sistem yang dirancang juga tidak kecil. Sekitar 1 Mega Watt peak (MWp) pembangkit tenaga surya dengan battery energy storage system (BESS) dibangun untuk kegiatan produktif warga nelayan dan keluarganya. Bukan untuk penerangan semata, bukan untuk membuat warga menjadi sebatas konsumen listrik.
Pertanyaannya, kenapa harus seperti itu?
Secara teknis, membangun PLTS dapat mudah diperhitungkan. Berapa energi yang dapat dihasilkan dalam sehari. Berapa kapasitas baterai yang diperlukan. Berapa beban rumah tangga. Berapa panjang jaringan distribusi. Berapa daya yang tersedia ketika matahari tenggelam.
Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh perhitungan teknis.
Siapa yang dapat memastikan agar sistem ini tetap bekerja sepuluh atau dua puluh tahun lagi? Banyak PLTS mangkrak di berbagai lokasi di Indonesia.
Modul photovoltaic (modul surya atau modul PV) memang mempunyai umur panjang. Tetapi inverter tidak hidup selamanya. Baterai pada waktunya harus diganti. Jaringan membutuhkan pemeliharaan. Ada operator yang harus bekerja. Ada komponen yang akan rusak.
Uang dapat membayar pembangunan pembangkit. Tapi belum tentu cukup uang untuk memastikan pembangkit tersebut bertahan hingga habis usia modul PV-nya.
Di sebuah kota besar, persoalan ini relatif mudah disembunyikan oleh skala. Jutaan pelanggan menggunakan listrik untuk jutaan kegiatan. Rumah tangga, pabrik, hotel, pusat perbelanjaan, kantor, restoran dan bengkel berbagi sistem kelistrikan yang sama. Sebagian menggunakan listrik pada pagi hari, sebagian pada malam hari. Sebagian menggunakannya untuk kenyamanan, sebagian untuk menghasilkan uang.
Pulau kecil tidak mempunyai kemewahan seperti itu.
Ekonomi sebuah PLTS kecil sangat dekat dengan ekonomi masyarakat yang dilayaninya.
Kalau kegiatan ekonomi masyarakat kecil, penggunaan listrik juga terbatas. Kalau sebagian besar listrik hanya digunakan beberapa jam pada malam hari, aset pembangkit yang mahal tidak banyak menghasilkan nilai ekonomi sepanjang hari. Kalau pendapatan masyarakat rendah, kemampuan membayar listrik juga terbatas.
Pada akhirnya, keberlanjutan pembangkit bertemu dengan keberlanjutan ekonomi pulau. Di situlah Edison kembali menjadi menarik.
Edison pergi ke London dan kemudian membangun Pearl Street di Manhattan karena ia mencari tempat dengan kegiatan ekonomi yang cukup padat untuk menopang sebuah sistem listrik baru.
Kami menghadapi persoalan yang hampir terbalik di Sembur. Kami tidak bisa menunggu ekonomi pulau menjadi besar terlebih dahulu baru kemudian membangun listrik. Kami harus menggunakan listrik untuk membesarkan ekonomi pulau.
Satu Paket PLTS, Pabrik Es, dan Cold Storage
Kalau ingin mengetahui untuk apa listrik seharusnya digunakan di Sembur, kita harus melihat bagaimana orang di sana mencari nafkah. Mereka menangkap ikan.
Dan ikan mempunyai persoalan yang sangat sederhana: sejak diangkat dari laut, waktu mulai bekerja melawan nelayan.
Tanpa es yang cukup, kualitas ikan turun. Nelayan harus segera menjual hasil tangkapannya. Kemampuan memilih pembeli menjadi kecil. Kemampuan menunggu harga yang lebih baik hampir tidak ada. Nelayan akhirnya memilih untuk membatasi waktu melaut dan jumlah tangkapan.
Ketiadaan energi kemudian muncul dalam bentuk yang tidak selalu kita sebut sebagai persoalan energi. Ia muncul sebagai ikan yang cepat rusak. Ia muncul sebagai harga jual yang rendah. Ia muncul sebagai ketergantungan kepada pembeli yang mempunyai es, cold storage, kapal atau akses pasar. Ia akhirnya muncul sebagai lemahnya posisi tawar nelayan.
Karena itu, salah satu usaha pertama yang kami persiapkan bukan toko listrik dan bukan pula sekadar penjualan listrik kepada rumah tangga. Kami mempersiapkan produksi es. Target awalnya sekitar dua ton per hari.
Mesin es akan menggunakan listrik dari PLTS untuk menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan hampir setiap hari oleh nelayan. Listrik yang sebelumnya hanya sebuah satuan kilowatt-hour mulai mempunyai bentuk lain. Ia menjadi es yang dapat dibawa ke perahu. Es menjaga ikan tetap segar lebih lama. Ikan yang lebih terjaga kualitasnya memberi nelayan waktu lebih panjang sebelum harus menjual.
Beberapa jam tambahan itu mempunyai nilai ekonomi. Tetapi kemudian kami menyadari bahwa membuat es saja tidak cukup.
Kalau koperasi hanya menjual es kepada nelayan, kita memang telah menciptakan sebuah usaha produktif yang menggunakan listrik. Tetapi struktur perdagangan ikan tidak banyak berubah. Nelayan tetap pergi sendiri-sendiri membawa ikan ke pasar.
Maka pembicaraan bergerak lebih jauh. Mengapa koperasi tidak membeli atau mengagregasi ikan anggota?
Kalau ikan dapat dikumpulkan, volumenya menjadi lebih besar. Kalau kualitasnya dapat dijaga dengan es dan cold storage, waktu untuk mencari pembeli menjadi lebih panjang. Kalau volume dan kualitas dapat dijaga, koperasi dapat berbicara dengan pedagang yang lebih besar, restoran, hotel, pengolah ikan atau pasar di tempat lain.
Listrik kemudian mulai bekerja jauh di luar kabel.
Energi yang dihasilkan panel menggerakkan mesin es. Es membantu mempertahankan kualitas ikan. Penyimpanan dingin memberi waktu. Waktu memperbesar pilihan pasar. Agregasi memperbesar volume. Volume yang lebih besar memperbaiki posisi koperasi ketika berhadapan dengan pembeli.
Pada akhirnya yang berubah bukan hanya cara Sembur memperoleh listrik. Yang mulai berubah adalah cara Sembur menjual ikan. Di sinilah hubungan antara listrik dan ekonomi menjadi menarik.
Pada awalnya kita membutuhkan kegiatan ekonomi warga nelayan agar pembangkit dapat dipastikan keberlanjutannya.
Tetapi ketika listrik mulai digunakan untuk produksi, listrik itu sendiri mengubah kegiatan ekonomi warga nelayan itu sendiri.
Mesin es bekerja lebih lama dan menggunakan listrik. Cold storage membutuhkan listrik sepanjang hari. Kalau perdagangan ikan berkembang, kebutuhan pendinginan bertambah. Kalau pendapatan nelayan meningkat, konsumsi rumah tangga ikut tumbuh.
Kemudian mungkin muncul usaha lain.
Sebagian warga mungkin akan membeli freezer. Bengkel nelayan mulai menggunakan peralatan listrik. Pengolahan ikan menjadi mungkin dilakukan di pulau. Air bersih dapat dipompa atau diproses dengan listrik. Peralatan komunikasi dan internet dapat digunakan lebih luas.
Suatu hari mungkin kapal-kapal kecil menggunakan motor listrik dan mengisi baterainya ketika kembali ke pulau. Sebuah kapal listrik seperti itu juga sedang diuji di Pulau Sembur.
Kita tidak mengetahui seluruh usaha yang akan muncul. Dan memang tidak perlu.
Kota-kota yang pertama kali memperoleh listrik juga tidak mengetahui semua kegunaan listrik yang kemudian lahir. Yang penting adalah memulai sebuah lingkaran ekonomi.
Kegiatan produktif membuat listrik mempunyai nilai. Pendapatan dari kegiatan itu menciptakan kemampuan membayar listrik. Pembayaran membantu menyediakan biaya untuk mengoperasikan dan memelihara sistem energi. Listrik yang semakin andal kemudian memungkinkan lebih banyak kegiatan produktif muncul. Kegiatan baru meningkatkan pendapatan masyarakat dan sekaligus memperbesar kebutuhan terhadap energi.
Listrik menghidupi ekonomi. Ekonomi menghidupi listrik. Keduanya tumbuh bersama.
Bukan sekadar menghitung kilowatt hour (kWh)
Karena itu saya semakin merasa ada sesuatu yang kurang dalam cara kita melakukan studi kelayakan pembangkit listrik skala kecil.
Kita sangat pandai menghitung energi. Kita menghitung radiasi matahari. Kapasitas panel. Efisiensi inverter. Degradasi baterai. Beban puncak. Konsumsi rumah tangga. Biaya investasi. Biaya operasi.
Semua itu diperlukan. Tetapi untuk sebuah pulau kecil, ada perhitungan lain yang sama pentingnya.
Apa yang diproduksi masyarakat? Berapa nilainya? Mengapa nilainya rendah?
Di bagian mana nilai ekonomi hilang dari pulau? Apa yang sekarang tidak dapat mereka produksi karena tidak tersedia listrik? Berapa banyak nilai tambahan yang dapat tinggal di pulau kalau energi tersedia? Siapa yang akan menangkap nilai tambahan itu? Dan berapa bagian yang dapat kembali untuk menjaga sistem energi tetap bekerja?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak terdapat pada nameplate peralatan dan instrumen PLTS.
Tetapi mungkin justru di sanalah kelayakan sebuah pembangkit ditentukan.
Holborn akhirnya bukan keberhasilan komersial besar bagi Edison. Pembangkit itu hanya beroperasi beberapa tahun.
Tetapi mungkin justru itu yang membuat ceritanya berguna.
Holborn adalah tempat untuk mencoba sebuah sistem. Edison dan para investornya tidak hanya belajar apakah generator dapat membuat lampu menyala. Mereka belajar bagaimana pembangkit, jaringan, pelanggan dan ekonomi harus disusun agar listrik dapat menjadi sebuah industri.
Pearl Street datang kemudian.
Hampir satu setengah abad setelah Holborn, teknologi kita jauh berbeda.
Edison membutuhkan batu bara, mesin uap dan dinamo. Kami mempunyai matahari, modul photovoltaic, inverter dan baterai.
Tetapi persoalan dasarnya ternyata tidak sepenuhnya berubah.
Pembangkit listrik tidak bertahan hanya karena ia mampu menghasilkan listrik. Ia membutuhkan kehidupan ekonomi di sekelilingnya.
Perbedaannya, Edison memilih London dan New York karena kehidupan ekonomi itu sudah tersedia. Ia menempatkan listrik di tengah ekonomi yang sudah padat dan membuktikan bahwa energi baru tersebut dapat menjadi bisnis.
Di Sembur, kami mencoba sesuatu yang sedikit berbeda. Ekonominya belum besar. Tetapi sumber ekonominya ada.
Ada laut. Ada ikan. Ada nelayan yang setiap hari pergi bekerja. Ada nilai ekonomi yang selama ini hilang karena keterbatasan es, penyimpanan, agregasi dan akses pasar.
Maka kami mengambil jalan yang kelihatannya lebih panjang.
Kami tidak berhenti pada pembangunan PLTS. Kami ikut memikirkan mesin es dan. cold storage. Setelah itu kami masuk ke persoalan bagaimana koperasi mengagregasi dan memperdagangkan ikan.
Kami ingin listrik itu tetap ada setelah proyek pembangunan selesai. Karena itu urutannya akan terlihat terbalik.
Orang akan melihat bagaimana tersedianya energi membuat nelayan dapat mempertahankan kualitas ikan, bagaimana koperasi dapat masuk lebih jauh ke perdagangan, bagaimana lebih banyak nilai ekonomi tinggal di pulau, bagaimana pendapatan menciptakan usaha-usaha baru, dan bagaimana usaha-usaha itu pada gilirannya membuat sistem energi pulau semakin layak.
Edison pergi ke London untuk membuktikan bahwa listrik dapat hidup dari sebuah ekonomi. Di Sembur, kami ingin sebuah ekonomi dapat tumbuh bersama listriknya. Dimulai dengan Merdeka dari Kegelapan, mencapai Merdeka dari Kemiskinan.
Leave a Reply