Peta, Berkas, dan Sebuah Cara Membaca Pertarungan Kekuasaan

(Republikasi dari artikel saya di akun Linkedin saya)

BAYANGKAN SEBUAH PELABUHAN YANG TIBA-TIBA DISEBUT STRATEGIS. Di atas peta, tempat itu cuma lekukan pantai, beberapa dermaga, gudang, jalan, dan titik-titik kecil yang menandai permukiman. Tetapi seorang perwira militer melihatnya sebagai jalur suplai. Pengusaha melihat potensi gerbang ekspor. Pemerintah daerah membayangkan pajak dan pekerjaan. Nelayan menganggapnya sebagai simbol ruang hidup yang menyempit. Negara tetangga mungkin menilainya sebagai pangkalan militer asing yang terlalu dekat dengan wilayahnya.

Pelabuhannya satu. Ruang yang diperebutkan ternyata banyak.

Masalahnya bertambah rumit ketika sebuah keputusan harus dijalankan. Ada izin, peta konsesi, standar keselamatan, pagar, kamera, data kependudukan, perusahaan pengangkutan, kantor bea cukai, dan petugas yang memeriksa berbagai formulir. Sebuah keputusan yang tampak keren di ibu kota bisa tersendat hanya karena berkas tak ditandatangani, jalan tak sanggup dilewati truk, atau sistem data menolak sebuah nama.

Di titik itulah kita dibawa kepada dua cara membaca dunia. Yang pertama datang dari Yves Lacoste dan tradisi Institut Français de Géopolitique (IFG): metode diatope. Yang kedua datang dari Bruno Latour: Actor-Network Theory atau ANT. Yang satu membantu menjelaskan mengapa sebuah tempat diperebutkan. Yang lain membongkar bagaimana perebutan itu benar-benar bekerja.

Sekilas, kedua konsep tersebut sering tampak akrab. Keduanya sama-sama tidak menyukai penjelasan yang terlalu mudah. Tapi mereka bukan saudara kembar.

LACOSTE MEMULAI DARI KECURIGAAN TERHADAP ILMU GEOGRAFI YANG BERLAGAK NETRAL. Sebuah region, wilayah, atau daerah acap diperlakukan seolah batas dan maknanya sudah tersedia. Analis tinggal datang, memberi nama, lalu mengisinya dengan penduduk, ekonomi, dan politik. Bagi Lacoste, cara semacam itu justru bisa menyembunyikan persoalan.

Setiap tempat berada di dalam beberapa himpunan (ensemble) spasial sekaligus. Sebuah lembah dapat menjadi wilayah administratif, jalur logistik, daerah pertanian, ruang simbolik, kawasan militer, dan bagian dari sistem sungai yang melintasi perbatasan. Batas setiap himpunan tidak sama. Ukurannya juga tidak sama. Yang menyatukan semuanya hanya satu hal: mereka bersilangan pada tempat yang sedang kita bicarakan.

Metode diatope dipakai untuk menata pembacaan atas persilangan tadi. Analis memisahkan himpunan-himpunan ruang yang relevan, menempatkannya pada beberapa ordre de grandeur (orde besaran atau skala peta), lalu mencari hubungan di dalam dan di antara orde tersebut. Peta lokal menunjukkan satu masalah. Peta nasional dapat menunjukkan masalah lain. Peta berskala di antara kedua skala itu mungkin membalik arti keduanya. Peta berskala belahan bumi (hemisphere) malah bisa menunjukkan keterkaitan antar masalah-masalah tersebut.

Perubahan skala, karena itu, bukan pekerjaan memperbesar dan memperkecil gambar seperti memainkan lensa kamera. Perubahan skala adalah perubahan pertanyaan. Sebuah jalan pendek bisa tampak remeh pada peta nasional, tapi menentukan pada peta operasi militer. Sebuah pulau kecil tampak seperti noktah di samudra, sampai seseorang menyadari bahwa kapal, kabel, atau yurisdiksi laut harus melewatinya.

Lacoste menyebut tingkatan itu sebagai orde besaran. Berbagai skala peta yang di-zoom in dan zoom out disusun untuk menjadi metode penalaran. Jumlah tingkatnya tidak saklek. Yang penting adalah disiplin untuk memperlihatkan himpunan ruang mana yang sedang dibaca, apa yang tampak pada tingkat itu, dan bagaimana ia berhubungan dengan tingkat lainnya.

Di sinilah diatope berbeda dari peta yang hanya dipasang untuk mempercantik laporan. Melalui peta, seorang analis mengajukan hipotesis: kekuatan ada di sini, jalur penting lewat sana, kelompok ini menganggap batasnya berada di situ. Hipotesis tersebut kemudian harus diuji dengan sumber, wawancara, kerja lapangan, dan kemudian menyusun kembali peta. Jika kenyataan menolak peta pertama, petanya yang harus digambar ulang. Kenyataan tak punya kewajiban menyesuaikan diri dengan legenda kartografis.

Geopolitik Lacoste sendiri berpusat pada rivalitas kekuasaan dan pengaruh atas sebuah wilayah dan populasi manusia yang hidup di sana. Maka pertanyaannya tidak berhenti pada, “Apa yang ada di tempat ini?” Pertanyaan yang lebih tajam adalah: siapa menginginkan apa, wilayah mana yang dipersoalkan, pada skala apa persaingan berlangsung, dan representasi apa yang membuat para aktor merasa tindakannya masuk akal?

Suatu tempat menjadi strategis bukan semata-mata karena koordinatnya. Ia menjadi strategis karena berbagai susunan teritorial membuatnya dapat dikunci, dihubungkan, dipertahankan, atau diganggu. Letak memang penting. Tapi letak tanpa rivalitas hanya geometri.

Dalam perkembangan IFG, metode ini tidak berhenti pada rumusan awal Lacoste. Béatrice Giblin memperluas pemakaiannya lewat studi kasus, pengajaran, dan kerja editorial jurnal Hérodote. Konflik dibaca dari tempat terjadinya, perluasan pengaruhnya, para aktor yang bertarung, konteks sosial-ekonominya, dan representasi yang mereka pegang dan sebarluaskan. Waktu pun masuk ke dalam pembacaan. Sebuah konflik tidak hanya diatopik, berlapis dalam ruang, tetapi sering juga diakronik, berlapis dalam sejarah.

Barbara Loyer kemudian menyusun sistematisasi metode tersebut sebagai perangkat pedagogis dan operasional. Batas ruang tidak boleh diasumsikan. Ia harus dibangun sesuai masalah. Mahasiswa dapat memulai dengan hipotesis kartografis, turun ke lapangan, mengumpulkan keterangan, lalu menggambar ulang peta. Peta pertama bukan kesimpulan. Ia membimbing analis dalam membuktikan hipotesis dan kemudian merepresentasikan realitas lapangan dalam laporan dan kartografi.

Jika diringkas, kerja diatope bergerak seperti ini: tentukan persoalan dan tempatnya; kenali aktor serta rivalitasnya; pisahkan himpunan-himpunan spasial yang relevan; susun orde besarannya; periksa persilangan pada setiap orde; hubungkan satu orde dengan orde lain; lalu uji semuanya terhadap bukti. Urutan ini terlihat sederhana. Pelaksanaannya sering memiliki cerita yang berbeda.

Seorang analis bisa saja mudah tergoda memilih satu skala yang tampak paling dramatis. Konflik lokal lantas disebut akibat perebutan global. Atau sebaliknya, rivalitas regional diciutkan menjadi pertengkaran dua elite setempat. Diatope meminta kita menahan godaan itu. Tidak ada skala yang otomatis menjadi sumber kebenaran utama.

BRUNO LATOUR DATANG DENGAN KECURIGAAN LAIN. Jika Lacoste mencurigai ruang yang sudah dianggap jelas, Latour mencurigai kata sosial yang terlalu mudah dipakai sebagai jawaban. Sebuah kebijakan gagal karena struktur sosial. Sebuah kelompok bergerak karena budaya. Sebuah keputusan ditaati karena kekuasaan. Penjelasannya terdengar besar. Justru karena itu, ia bisa tidak menjelaskan apa-apa.

Bagi Latour, yang sosial bukan bahan gaib yang berada di belakang peristiwa. Yang sosial adalah gerak menghubungkan kembali unsur-unsur yang berbeda. Tugas analis bukan menyebut masyarakat atau konteks setiap kali menemui kebuntuan, melainkan mengikuti bagaimana relasi dibentuk, diterjemahkan, dipertahankan, dan kadang-kadang bubar.

Itu sebabnya Actor-Network Theory (ANT) lebih berguna dipahami sebagai cara menelusuri asosiasi daripada membangun teori agung tentang masyarakat. Latour meminta analis berjalan tanpa tergesa-gesa. Jangan langsung melompat menentukan siapa aktor utama. Jangan pula menganggap kelompok, skala, dan struktur telah ajeg sebelum penyelidikan dimulai. Ikuti jejaknya.

Ada lima sumber ketidakpastian yang diperhatikan seorang analis. Pertama, sebuah kelompok tidak pernah final; ia harus terus menerus dibentuk. Kelompok itu juga harus menemukan juru bicaranya, yang akan mengekspresikan keberadaan kelompok tersebut. Sekelompok pelajar SMK yang terlibat bentrokan fisik dengan aparat keamanan dalam satu peristiwa tentunya bukan terdiri dari orang-orang yang sama dalam bentrokan tahun-tahun sesudahnya. Namun profil pelajar SMK yang memposting video siaran langsung, akan menjadi keterwakilan dari kelompok pelajar SMK tersebut.

Kedua, sebuah tindakan tidak pernah sepenuhnya berasal dari kesadaran utuh si pelaku; banyak agensi yang telah ada turut menentukan pilihan cara, alasan, dan tujuan tindakan tersebut. Kembali ke pembahasan sekelompok pelajar SMK tadi, bisa saja mereka memang ingin hadir dalam sebuah demonstrasi. Tapi dari mulai struktur negara menopang keberadaan SMK, kebijakan ekonomi tertentu atau keputusan raksasa bisnis tertentu membuat harapan masa depan mereka hilang, dan pola menangani demonstrasi dari kepolisian juga turut menentukan tindakan bentrokan tersebut.

Ketiga, objek bisa saja menjadi partisipan dalam tindakan. Seringkali, sebuah objek dibentuk untuk memenuhi sebuah kehendak. Seperti kehendak mengendalikan lalu-lintas dari kecelakaan dan kemacetan, pemerintah mengalokasikan dana untuk membangun lampu merah dan rambu-rambu lalu lintas. Keputusan dan pembentukan objeknya mungkin sudah bertahun-tahun silam, tapi kehendak ataupun perwujudan agensi mengendalikan lalu-lintasnya masih memengaruhi berbagai tindakan mikro para pengemudi dan pejalan kaki.

Keempat, fakta lebih tepat diperlakukan sebagai matters of concern, sesuatu yang dirakit dan dipertahankan, bukan benda jadi yang tanpa asal usul ataupun kegunaan. Misal, negara mengendalikan perbatasan. Itu adalah sebuah matters of fact, semua orang tahu bahwa perbatasan dikendalikan negara. Akan tetapi, ekspresi semacam itu adalah ekspresi yang tidak menangkap keseluruhan realita sosial dari perbatasan. Dalam matters of concern, analis akan memperhatikan melalui instrumen apakah, seperti patroli, peta, undang-undang, pos pemeriksaan, basis data, jalan, perjanjian, kerja sama lokal, dan kemampuan penegakan, yang membuat pengendalian tersebut efektif—atau justru menunjukkan bahwa pengendalian itu hanya bersifat parsial?

Dan kelima, laporan penelitian (account) itu sendiri adalah sebuah tantangan berisiko karena analis selalu tergoda membuat dunia lebih bagus daripada yang ditemuinya. Analis juga selalu tergoda membuat laporan mendekati teoritisasi yang sempurna, memamerkan kausalitas yang tak terbantahkan dan seterusnya. Ambisi semacam itu bisa jadi akan menutupi kenyataan yang sebenarnya tidak tertata, centang perenang. Di lain sisi, analis dapat saja bermain aman, bolak-balik menggunakan mantra-mantra yang sudah dipercayai oleh lembaga dan komunitas pengetahuan: budaya, karakter masyarakat, generasi dan seterusnya.

Untuk dapat menyusun ulang analisis sosial (reassembling the social), Latour mengajukan konsep oligoptikon dan panorama dalam menelusuri dunia sosial.

Oligoptikon adalah sebuah pengawasan (gaze) yang sempit, parsial, terpecah dalam berbagai fokus, namun dapat mendapatkan gambaran umum dari realitas. Contoh, ruang kendali operasi lalu-lintas di sebuah kota tidak memiliki semua informasi, namun berfokus pada informasi-informasi yang diasumsikan dapat mewakili keseluruhan realitas seperti feed CCTV, data kepadatan pada lampu merah, data sirkulasi bus, dan seterusnya.

Konsep kedua adalah panorama, yang merupakan sebuah wawasan bahwa semua realitas dapat diamati dan dipahami secara sekaligus. Contohnya: presentasi tentang “keadaan dunia”, Peta yang mengklaim menggambarkan seluruh sistem geopolitik, narasi besar tentang globalisasi, model yang membagi masyarakat menjadi kelas-kelas besar, atau pidato Presiden AS “State of the Union” atau Presiden Indonesia pada sidang gabungan MPR, DPR, dan DPD.

Kemudian, Latour membedakan act, action, agent, dan agency. Act adalah kejadian ketika sesuatu berbuat atau mengubah keadaan. Action adalah rangkaian tindakan yang berlangsung. Agent ialah entitas yang terbukti ikut membuat perubahan. Agency adalah kapasitas membuat perubahan tadi. Agent tidak harus manusia. Formulir, jalan, perangkat lunak, pagar, standar, dan arsip dapat ikut mengarahkan tindakan.

Ini bukan berarti sebuah formulir punya niat politik atau sebuah jalan diam-diam menyusun manifesto. Maksudnya lebih sederhana: singkirkan formulir atau jalan tadi, lalu lihat apakah rangkaian tindakan berubah. Jika berubah, benda itu tidak pantas diperlakukan sebagai latar belakang yang pasif.

Istilah actor-network lahir dari pokok tersebut. Seorang aktor tak pernah berdiri sendirian. Menteri memerlukan kementerian, berkas, anggaran, aparat, aturan, dan orang-orang yang mau mengakui tanda tangannya. Negara yang kelihatan kukuh dari kejauhan ternyata harus hadir melalui ribuan sambungan kecil. Sebagian sambungan kuat. Sebagian lain diganjal meja yang goyah dan komputer yang tak pernah diperbarui.

ANT juga membedakan intermediary dan mediator. Intermediary hanya membawa sesuatu tanpa mengubahnya. Mediator menerjemahkan, membelokkan, memperbanyak, atau mengganggu apa yang lewat. Sebuah pidato mungkin hanya mengulang perintah. Tapi pidato yang mengubah koalisi menjadi mediator. Sebuah sistem data mungkin sekadar menyimpan nama. Tapi ketika sistem itu menentukan siapa yang mendapat akses, ia ikut mengubah tindakan.

Kekuasaan, dari sudut ini, tidak boleh dipakai sebagai cadangan jawaban. Jika seseorang berkuasa, analisis harus memperlihatkan bagaimana kekuasaan itu dijalankan. Arsip apa yang mengesahkannya? Aparat mana yang mematuhinya? Standar apa yang membuat keputusan dapat diulang? Infrastruktur apa yang memperpanjang jangkauannya? Kekuasaan yang tidak memiliki kendaraan konkret mungkin cuma pidato dengan pengeras suara.

Pergantian dari matters of fact (fakta mentah) menuju matters of concern (persoalan yang diperdebatkan) kerap keliru disamakan dengan relativisme. Padahal, Bruno Latour sama sekali tidak bermaksud menyangkal eksistensi kenyataan. Sebaliknya, ia mengajak kita menengok proses di balik layar—segala tenaga, biaya, dan kerja keras yang menopang sebuah fakta hingga berdiri kokoh.

Laboratorium, instrumen ilmiah, kumpulan data, silang pendapat, serta kelembagaan adalah elemen-elemen penopang yang membuat fakta mampu bertahan. Kenyataan tidak lantas menjadi rapuh hanya karena ia dirakit; sama seperti jembatan fisik yang dibangun dari berbagai komponen, namun kita tetap meyakini kekuatannya agar tidak runtuh.

Kemudian ada risky accounts. Sebuah laporan yang baik tidak menutupi kontroversi hanya supaya penulisnya tampak pintar. Jejak, kegagalan, titik putus, dan mediator harus tetap terlihat. Bila semua hal di dalam laporan bergerak mulus menuju kesimpulan yang sudah diketahui sejak halaman pertama, mungkin yang kita baca bukan penyelidikan. Mungkin itu hanya kesimpulan yang menyamar sebagai perjalanan.

Latour juga meminta analisis tetap flat. Bukan karena dunia sungguh datar atau skala tidak penting. Ia hanya melarang analis melompat dari interaksi lokal menuju struktur global tanpa menunjukkan jembatannya. Yang global harus tiba melalui sesuatu: kabel, hukum, data, standar, uang, kendaraan, organisasi, atau rantai komando. Jika tidak ada yang membawa global ke suatu tempat, kata global hanya melayang di atas kertas.

Kekuatan ANT terletak pada kemampuannya membongkar rantai pelaksanaan. Siapa mengotorisasi siapa? Dokumen mana yang mengunci keputusan? Perangkat apa yang menyaring pilihan? Pada titik mana jaringan macet? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat tindakan yang semula tampak tunggal pecah menjadi serangkaian mediasi.

Retracing gaya ANT akan tampak seperti menarik kesimpulan dari Aktor-Jaringan, namun ia tidak otomatis memberi teori wilayah, rivalitas teritorial, atau distribusi kendali ruang. Seorang analis dapat menelusuri jaringan dengan sangat teliti dan tetap kehilangan pertanyaan strategis: siapa sedang memperebutkan apa?

DI SINILAH LACOSTE DAN LATOUR BISA BERTEMU, MESKI MEREKA TIDAK PERLU DIGABUNGKAN. Keduanya menolak abstraksi malas. Lacoste menolak region sebagai kotak alami. Latour menolak society dan context sebagai sebab siap pakai. IFG tidak mau dikurung satu skala. ANT tidak mau tindakan dikurung satu aktor.

Mereka juga sama-sama memperlakukan representasi secara serius. Bagi IFG, peta dan bayangan tentang wilayah dapat menggerakkan mobilisasi, legitimasi, dan ketakutan. Bagi ANT, peta, klasifikasi, standar, dan dokumen dapat menjadi mediator. Representasi bukan hiasan. Kadang-kadang ia justru alat yang membuat tindakan mungkin dilakukan.

Tapi titik tolak keduanya berbeda. IFG memulai dengan rivalitas kekuasaan atas wilayah. ANT memulai dengan ketidakpastian tentang siapa atau apa yang bertindak. IFG relatif siap menamai negara, partai, milisi, atau komunitas bila posisi rival mereka perlu dipetakan. ANT akan bertanya bagaimana kelompok itu dibentuk, siapa yang menjadi juru bicaranya, dan perangkat apa yang membuatnya dapat bertindak sebagai satu kesatuan.

Perbedaan berikutnya menyangkut skala. Diatope memisahkan orde besaran agar artikulasi teritorial dapat dibaca. ANT meratakan medan untuk menelusuri bagaimana efek skala dibuat. Bagi IFG, tingkat lokal, nasional, dan regional perlu dibedakan. Bagi ANT, label-label itu belum cukup sebelum kita tahu apa yang menghubungkan satu situs dengan situs lain.

Karena itu ANT dapat memperkaya analisis geopolitik seperti diatope.

Diatope menyusun medan: tempat mana yang penting, himpunan ruang apa yang bersilangan, siapa yang bersaing, dan pada skala apa. ANT masuk setelah itu untuk membongkar rantai operasional: izin, standar, arsip, perangkat, organisasi, data, serta manusia yang membuat kendali hadir dalam praktik. IFG menunjukkan pertaruhan. ANT menunjukkan mekanikanya.

Keduanya ini berguna untuk membaca pelabuhan, perbatasan, sistem migrasi, koridor sumber daya, jaringan logistik, atau tata kelola digital. Diatope dapat menunjukkan mengapa sebuah situs menjadi strategis. ANT dapat menunjukkan mengapa keputusan atas situs itu berhasil, berubah, atau berhenti di tengah jalan.

Sebaliknya, IFG menjaga ANT agar tidak jatuh ke dalam kerataan strategis. Jaringan tidak dengan sendirinya menjelaskan antagonisme. Keterhubungan tidak selalu berarti kendali. Banyaknya garis pada bagan juga tidak membuktikan bahwa semua aktor memiliki daya yang sama. Ada pihak yang menguasai wilayah, senjata, hukum, anggaran, dan akses. Asimetri semacam itu harus dinamai.

Urutan kerjanya dapat dibuat cukup jelas. Mulailah dengan isu teritorial, aktor rival, dan pertaruhannya. Susun diatope awal: himpunan spasial, orde besaran, hubungan internal-eksternal, serta representasi yang bertentangan. Uji peta itu dengan sumber dan lapangan. Setelah medan direvisi, telusuri rantai operasionalnya memakai ANT. Cari mediator, objek, inskripsi, institusi, arsip, dan titik putus. Kemudian kembali ke IFG untuk menilai arti strategis dari semua yang ditemukan.

Ada beberapa pagar yang perlu dipasang. Diatope bukan latar multiskalar tanpa aktor. ANT bukan peta pemangku kepentingan yang dekoratif. Kedekatan ruang tidak otomatis membuktikan sebab-akibat. Keterhubungan jaringan tidak otomatis membuktikan strategi yang koheren. Objek dapat memiliki agency dalam arti analitis, tapi tidak berarti ia mempunyai kepentingan politik seperti manusia atau organisasi. Sebaliknya, negara dan komunitas tidak boleh dianggap aktor yang sepenuhnya stabil tanpa melihat bagaimana keduanya dirakit.

Pertanyaan terakhir adalah kedaulatan. Sebuah deklarasi, referendum, atau pidato nasional belum dengan sendirinya menjadi penguasaan efektif atas wilayah. Kedaulatan harus dijalankan oleh aktor yang dapat dinamai, melalui institusi, hukum, administrasi, kemampuan fiskal, polisi, logistik, dan kontrol atas sirkulasi. Bendera mudah digambar. Kehadiran negara jauh lebih mahal.

Diatope membantu menjelaskan di wilayah mana kedaulatan dipertaruhkan, skala mana yang menentukan, dan himpunan spasial apa yang bersilangan. ANT membuka cara kedaulatan itu dioperasikan: lewat peta, arsip, kantor, badan publik, jaringan pelayanan, perangkat teknis, dan rantai keputusan. Yang satu memperlihatkan medan rivalitas. Yang lain memeriksa apakah klaim kuasa benar-benar memiliki kaki untuk berjalan.

Maka saya memakai diatope untuk mengetahui siapa memperebutkan apa, pada skala mana, dan di dalam susunan teritorial seperti apa. Saya memakai ANT untuk melihat bagaimana kuasa itu dibuat bekerja, diterjemahkan, dipertahankan, atau digagalkan. Peta memberi medan. Jejaring memberi gerak.

Dan sebuah analisis memerlukan keduanya, terutama ketika dunia nyata menolak berdiri diam di dalam kotak-kotak yang kita buat sendiri.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check also

View Archive [ -> ]