Catatan kuliah Michel Foucault, Il faut défendre la société, 28 Januari 1976, Collège de France, Paris.
Dalam kuliah sebelumnya timbul kesalahpahaman bahwa MF bermaksud menghikayatkan sejarah rasisme. Dalam pembukaan kuliah ini, MF menegaskan bahwa ia bermaksud menengahkan sejarah diskursus perjuangan ras atau perang antar-ras.
Bagi MF, rasisme atau diskursus rasis hanyalah salah satu momen atau episode yang sangat khusus atau spesifik dalam sejarah diskursus perjuangan ras ataupun perang antar-ras.
Menurut MF, diskursus perjuangan ras atau pergulatan/peperangan antar-ras muncul sebagai kontra-sejarah. Jika dihubungkan dengan catatan sebelumnya, ini sekaligus merupakan sebuah perspektif analisis terhadap kekuasaan.
Lalu kenapa disebut sebagai kontra-sejarah?
Sejarah sebagai Ritus Kekuasaan
Dalam pandangan MF, sejak zaman Romawi Kuno (antiquité), sejarah adalah ritus kekuasaan. Diskursus sejarah, diskursus para sejarawan, dengan segala praktiknya yang bercerita kisah (histoire), adalah semacam seremoni atau upacara yang harus diproduksi untuk dua hal: menjustifikasi kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan tersebut.
Menurut MF, sejarah memiliki dua peran.
Peran pertama yaitu menghubungkan manusia dengan kesinambungan hukum. Dengan kata lain, menghubungkan secara yuridis manusia dengan keberlanjutan atau pewarisan kekuasaan.
Peran kedua adalah membuat manusia terpesona dengan kehebatan atau kejayaan penguasa.
Dengan kedua peran tersebut, sejarah adalah operator sekaligus intensifikator kekuasaan.
Peran ganda sejarah tersebut dapat kita temukan dalam tiga poros tradisional diskursus historis.
Poros genealogis menceritakan asal-usul kerajaan dan mengungkap para pendiri kerajaan. Kerja genealogis ini menceritakan segala perilaku mereka menjadi cerminan nilai-nilai kepahlawanan dan keadilan. Poros sejarah ini bertugas menyatakan keberlangsungan kekuasaan yang tidak terputus dan menunjukkan kekuatan tak tercerabut yang dimilikinya saat ini.
Genealogi bertugas membesarkan nama para raja dan pangeran yang mewariskan takhta: kejayaan raja-raja masa silam adalah fondasi dari hak para penerusnya.
Poros kedua adalah tugas atau fungsi memorisasi. Praktik ini ditemukan dalam kerja-kerja pencatatan peristiwa secara kronik oleh para annalist. Kerja ini juga memperkuat kekuasaan dengan menunjukkan bahwa segala peristiwa dan perilaku para penguasa atau raja bukanlah hal remeh-temeh, bukan sesuatu yang sepele.
Semua perilaku dan peristiwa seputar mereka sangat berharga dan harus diingat, dicatat, dan dijaga dalam ingatan. Karena itu, sejarah adalah pengabadian penguasa dalam monumen yang membuat kehendak tersebut terus-menerus hadir.
Poros ketiga berfungsi sebagai intensifikasi kekuasaan melalui sirkulasi contoh atau panutan. Yang dimaksud Foucault dengan example bukanlah sekadar teladan moral, melainkan hukum yang dihidupkan kembali (loi vivante ou ressuscitée).
Dengan cara ini, masa kini dapat dihakimi berdasarkan figur atau peristiwa lampau dan dipaksa tunduk pada hukum yang seolah masih hidup.
Contoh atau panutan bekerja sebagai hukum dalam bentuk kemuliaan (la gloire faite loi), yakni hukum yang beroperasi melalui nama besar, reputasi, atau kejayaan historis.
Kekuatan contoh ada pada kegemilangan sebuah nama—Napoleon, Diponegoro, 1945, dan seterusnya—yang diangkat sebagai ukuran legitimasi. Dalam mekanisme ini, contoh berfungsi seperti “titik cahaya” yang terus memperkuat kekuasaan, sebab ia menjadikan masa kini terikat pada ketentuan yang berasal dari masa lalu tanpa perlu hadir sebagai hukum tertulis.
Menurut Foucault, praktik ketiga poros kesejarahan tersebut berlangsung sejak zaman Romawi sampai Abad Pertengahan di Eropa.
Secara skematik, bentuk-bentuk praktik sejarah itu mempunyai dua fungsi:
- menghubungkan, dalam makna menundukkan atau menaklukkan melalui memastikan kewajiban-kewajiban;
- menyilaukan, dalam makna meningkatkan kilauan kekuasaan.
MF bahkan menyandingkan kedua aspek tersebut dalam agama-agama Romawi dan secara umum Indo-Eropa. Di satu sisi terdapat aspek yuridis; di sisi lain, kilauan kekuasaan berfungsi magis. MF mencontohkan Jupiter, dewa tertinggi Romawi, sebagai dewa sentral yang menghubungkan sekaligus dewa penghancur.
Artinya, sejarah bukan hanya imaji, tetapi juga prosedur reinvigorasi kekuasaan.
Sejarah adalah diskursus kekuasaan: secara sekaligus menuntut kepatuhan dan memukau, meneror, melumpuhkan. Praktik sejarah “Jupiterian” adalah praktik yang terus berlangsung dari berbagai kekuasaan sejak zaman Romawi hingga Abad Pertengahan. Tidak ada perbedaan atau diskontinuitas antara sejarah Romawi dan sejarah Abad Pertengahan.
Munculnya Kontra-Sejarah
Dengan pemaparan tersebut, MF ingin menunjukkan praktik sejarah baru yang muncul pada bagian terakhir Abad Pertengahan.
Praktik sejarah baru ini tidak lagi merupakan diskursus kedaulatan. Ini adalah diskursus tentang ras-ras, tentang pertarungan antar-ras di dalam bangsa-bangsa dan hukum-hukum. Dengan begitu, praktik ini adalah antitesis dari praktik sebelumnya, praktik yang untuk pertama kalinya anti-Romawi.
Apa pembedanya?
Untuk pertama kalinya sejarah mengidentifikasi raja tidak lagi sebagai perangkum sebuah bangsa. Raja bukan lagi penghubung, tetapi penakluk.
Postulatnya adalah: sejarah si besar pasti juga memiliki sejarah si kecil; sejarah si kuat juga pasti memiliki sejarah si lemah.
Sejarah satu pihak bukanlah sejarah pihak yang lain.
Kemenangan Norman dalam Pertempuran Hastings adalah sejarah takluknya bangsawan Saxon. Kemenangan para bangsawan Frank dan Clovis adalah sejarah kalahnya, ditaklukkannya, dan diperbudaknya para bangsawan Galia-Romawi.
Jika dilihat dari sisi kekuasaan, muncul hak, hukum, dan kewajiban. Namun dari sisi lainnya, semuanya dapat dibaca sebagai kesewenang-wenangan, kekerasan, dan perampasan.
Kepemilikan lahan oleh raja dan para bangsawan besar serta segala hak upeti dapat digambarkan sebagai aksi kekerasan, penjarahan, dan pampasan perang yang ditarik paksa dari populasi yang ditaklukkan.
Akibatnya, diskursus sejarah kedaulatan menjadi gagal dan hukum memperlihatkan wajah gandanya: kemenangan satu pihak dan kekalahan pihak lainnya.
Karena itu sejarah perjuangan ras adalah kontra-sejarah.
Kontra-sejarah tidak hanya memutus ketunggalan kedaulatan dan hukum, tetapi juga memutus keberlangsungan kejayaan.
Ia menunjukkan bahwa cahaya yang sebelumnya dianggap memukau, membakukan, dan melumpuhkan tubuh sosial sebenarnya merupakan cahaya yang menerangi satu bagian tubuh sosial sambil membuat bagian lainnya berada dalam bayang-bayang kegelapan.
Kontra-sejarah yang berdiskursus perjuangan ras muncul dari sisi gelap dan berbicara dengan berpihak pada sisi gelap tersebut.
Awalnya, kontra-sejarah adalah diskursus dari mereka yang tidak mempunyai kejayaan atau mereka yang terampas kejayaannya. Mereka selama ini berada di sisi yang tidak terlihat dan dalam kesunyian.
Yang membedakan kontra-sejarah dengan sejarah adalah tidak dibutuhkannya genealogi dan keemasan masa lalu.
Kontra-sejarah menginterupsi sejarah bukan dengan mencari kejayaan dan keemasan masa lalu, tetapi dengan menemukan penderitaan dan kekalahan para leluhur. Membuka tabir melalui berbagai kisah epik, mistik, atau religius.
Kontra-sejarah mengandalkan kekalahan daripada kemenangan, sambil menjanjikan tibanya tanah yang dijanjikan ataupun dipulihkannya hak dan kejayaan masa lalu yang hilang.
Karena itu, diskursus kontra-sejarah akan lebih mirip dengan sejarah mistik-religius Yahudi dibandingkan sejarah politik-legenda Romawi. Lebih dekat ke Injil dibandingkan catatan Titus Livius.
MF juga mengingatkan bahwa pada Abad Pertengahan, Injil digunakan sebagai platform protes moral, religius, dan politik kepada kekuasaan raja ataupun despotisme Gereja.
Yerusalem adalah perlawanan terhadap Babilonia, terhadap Roma.
Injil adalah senjata mereka yang tertindas, instrumen pemberontakan: melawan hukum para raja yang lalim, melawan kedigdayaan Gereja.
Karena itu tidak mengherankan jika pada masa Reformasi dan Revolusi Inggris muncul sebentuk sejarah yang tegas melawan sejarah kedaulatan raja—sejarah Romawi. Bentuknya menyerupai kisah Injil dengan penubuatan, harapan, dan janji.
Membongkar Apa yang Disembunyikan Sejarah
Dalam kontra-sejarah, fungsi memori dari sejarah berubah arah.
Dari memastikan tidak dilupakannya hal-hal yang tidak boleh dilupakan, menjadi membongkar hal-hal yang disembunyikan sejarah penguasa.
Misalnya, dapat dipahami bahwa William the Conqueror sebenarnya tidak ingin disebut Sang Penakluk. Sebab ia ingin menyembunyikan muasal kekuasaannya: kekuasaan yang ia jalankan di Inggris berasal dari penaklukan atas para bangsawan Saxon.
Ia ingin tampil sebagai pewaris sah raja-raja sebelumnya.
Dengan menyembunyikan gelar Sang Penakluk, William ingin kejayaannya dijadikan hikayat, tetapi tidak ingin kejayaannya menguak kekalahan pihak lainnya.
Jadi, kontra-sejarah mengambil peran menguak kenyataan: hukum menipu, para raja bersembunyi, kekuasaan membangun ilusi, dan sejarah berdusta.
Kontra-sejarah ataupun sejarah pergulatan ras bukan hanya sebentuk kritik atas kekuasaan, para raja, dan kepalsuan sejarah. Kontra-sejarah menyerang dan merebut klaim.
Jika sejarah tipe Romawi mendamaikan masyarakat, menjustifikasi kekuasaan dan menciptakan keteraturan (order), kontra-sejarah mengibarkan bendera perang terhadap kekuasaan, para raja, dan sejarah mereka.
Di awal Abad Pertengahan semua kerajaan Eropa mengklaim dirinya sebagai sepupu dan penerus Roma melalui hikayat anak-anak Raja Priam dari Troya.
Kemunculan kontra-sejarah atau sejarah pergulatan ras mulai mencatatkan invasi Frank atas Galia-Romawi ataupun mengingatkan kegetiran para bangsawan Saxon atas penindasan oleh para bangsawan Norman.
Kontra-sejarah adalah panggilan pemberontakan, aba-aba kebangkitan.
Kontra-sejarah juga memunculkan berbagai subjek seperti Frank, Celtic, Galia, Saxon, Norman. Dimunculkan juga orang-orang dari utara dan orang-orang dari tengah, para penjajah dan yang dijajah, para penakluk dan yang ditaklukkan.
Berbagai bangsa Eropa kemudian mulai terbentuk dari penelusuran baru terhadap ingatan dan nenek moyang.
Kontra-Sejarah Tidak Dimiliki Satu Pihak
Ada beberapa catatan MF sebagai kesimpulan.
Pertama, MF menekankan bahwa keliru jika diskursus perjuangan ras dianggap secara otomatis dan sepenuhnya milik mereka yang tertindas, seolah-olah sejak awal ia adalah diskursus kaum terhisap, diskursus rakyat, atau sejarah yang semata dituntut dan diucapkan oleh rakyat.
Menurut MF, justru yang harus dilihat adalah besarnya daya sirkulasi diskursus ini, kemampuannya untuk berubah bentuk, serta sifatnya yang polyvalen secara strategis.
Mula-mula ia bisa terlihat dalam tema-tema eskatologis atau dalam mitos-mitos yang mengiringi gerakan-gerakan populer pada paruh kedua Abad Pertengahan. Tetapi sangat cepat ia juga muncul dalam bentuk erudisi historis, roman populer, bahkan spekulasi kosmo-biologis.
Dalam waktu lama ia menjadi diskursus dari berbagai oposisi, berpindah-pindah dengan cepat dari satu kubu ke kubu lain, dan dipakai sebagai instrumen kritik serta perjuangan melawan suatu bentuk kekuasaan.
Karena itu, diskursus ini tidak tinggal pada satu pihak saja.
Ia pernah melayani pemikiran radikal Inggris pada masa revolusi abad ke-17. Namun beberapa tahun sesudahnya, dengan sedikit perubahan, ia juga dapat melayani reaksi aristokratik Prancis melawan kekuasaan Louis XIV.
Pada awal abad ke-19 ia berkaitan dengan proyek pasca-revolusioner untuk akhirnya menulis sejarah yang subjek sejatinya adalah rakyat. Tetapi tak lama sesudah itu ia juga bisa dipakai untuk mendiskualifikasi apa yang disebut sebagai ras-ras bawahan di daerah kolonial.
Jadi, asal-usulnya di akhir Abad Pertengahan tidak cukup untuk memastikan bahwa ia hanya akan berfungsi secara politik dalam satu arah.
Kedua, MF menambahkan bahwa dalam diskursus tentang perang ras ini, istilah “ras” memang muncul cukup awal, tetapi kata ini belum dikunci pada makna biologis yang stabil. Meski demikian, ia juga bukan kata yang sepenuhnya mengambang.
Yang ditunjuk kata “ras” di sini adalah semacam belahan historiko-politik yang cukup luas, tetapi relatif tetap.
Orang menyebut keberadaan dua ras ketika yang sedang diceritakan adalah dua kelompok yang tidak memiliki asal-usul lokal yang sama; dua kelompok yang, setidaknya pada mulanya, tidak mempunyai bahasa yang sama dan sering kali juga tidak menganut agama yang sama.
Orang juga akan berkata ada dua ras ketika dua kelompok itu baru membentuk kesatuan politik dengan harga perang, invasi, penaklukan, pertempuran, kemenangan dan kekalahan; singkatnya melalui kekerasan.
Ikatan di antara mereka dibentuk melalui perang itu sendiri.
Dan akhirnya, orang akan berkata ada dua ras ketika dua kelompok yang hidup berdampingan itu tidak sungguh-sungguh melebur karena masih ada perbedaan-perbedaan, ketimpangan-ketimpangan, dan barikade-barikade yang dipelihara oleh privilese, adat, hukum, distribusi kekayaan, dan cara kekuasaan dijalankan.
Ketiga, dari sini MF mengatakan bahwa kita dapat mengenali dua morfologi besar, dua fokus utama, atau dua fungsi politik dari diskursus historis.
Di satu sisi ada sejarah Romawi tentang kedaulatan, dan di sisi lain ada sejarah biblikal tentang penaklukan dan pengasingan.
Namun perbedaan di antara keduanya bukan sekadar perbedaan antara diskursus resmi dan diskursus kasar atau dusun.
Foucault menegaskan bahwa sejarah yang menempatkan dirinya pada tugas membongkar rahasia dan mendemistifikasi kekuasaan ternyata menghasilkan pengetahuan tidak kalah banyak dari sejarah yang berusaha menyusun kembali yurisprudensi kekuasaan yang besar dan tidak terputus-putus itu.
Bahkan, menurutnya, momen-momen paling subur dalam pembentukan pengetahuan sejarah di Eropa justru lahir dari semacam interferensi atau benturan antara sejarah kedaulatan dan sejarah perjuangan ras.
Contohnya, pada awal abad ke-17 di Inggris, ketika diskursus tentang invasi dan ketidakadilan besar Norman terhadap Saxon beririsan dengan kerja historis para yuris monarkis yang sedang menuliskan kesinambungan kekuasaan raja-raja Inggris.
Persilangan dua praktik historis ini meledakkan satu medan pengetahuan baru.
Hal serupa terjadi pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 di Prancis, ketika kaum bangsawan mulai menulis genealogi mereka bukan lagi dalam bentuk kesinambungan, melainkan dalam bentuk privilese yang dahulu mereka miliki, kemudian hilang, dan kemudian hendak direbut kembali.
Riset-riset historis pada poros ini lalu berinterferensi dengan historiografi monarki Prancis yang dibentuk di bawah Louis XIV, dan dari situ kembali terjadi perluasan besar pengetahuan sejarah.
Demikian juga pada awal abad ke-19, ketika diskursus tentang sejarah rakyat, sejarah penaklukan mereka, sejarah Galia dan Frank, petani dan tiers état, berpotongan dengan sejarah yuridis tentang rezim-rezim.
Jadi, produksi pengetahuan sejarah tumbuh dari tabrakan terus-menerus antara sejarah kedaulatan dan sejarah perjuangan ras.
Keempat, Foucault menunjukkan bahwa di tengah atau justru melalui berbagai interferensi itu, diskursus revolusioner jelas lebih berpihak pada sisi sejarah yang biblikal, atau lebih tepatnya sejarah-tuntutan dan sejarah-pemberontakan.
Baik dalam Inggris abad ke-17 maupun di Prancis dan Eropa abad ke-19, ide tentang revolusi tidak bisa dipisahkan dari kemunculan praktik kontra-sejarah ini.
Sebab apa arti proyek revolusioner jika tidak ada lebih dulu pembacaan atas ketimpangan, ketidakseimbangan, ketidakadilan, dan kekerasan yang bekerja di bawah tatanan hukum, di dalam tatanan hukum, dan justru melalui tatanan hukum itu?
Apa arti proyek revolusioner jika tidak ada kehendak untuk menyingkap kembali perang yang nyata, perang yang pernah terjadi dan masih terus berlangsung, tetapi sengaja dibungkam dan ditutupi oleh ketertiban diam dari kekuasaan?
Dan apa arti praksis serta wacana revolusioner jika tidak ada usaha untuk mengaktifkan kembali perang itu melalui pengetahuan historis yang tepat, sekaligus menjadikan pengetahuan itu sebagai instrumen di dalam perang tersebut dan sebagai unsur taktis dalam pergulatan yang sedang dijalankan?
Karena itu, proyek revolusioner di sini selalu mengandung horizon pembalikan hubungan kekuatan dan perpindahan yang menentukan dalam pelaksanaan kekuasaan.
Dari Perjuangan Ras ke Rasisme
Foucault lalu menunjukkan bagaimana, pada paruh pertama abad ke-19, diskursus perjuangan ras mulai diperebutkan kembali.
Di satu sisi ia bergerak menuju diskursus revolusioner dan perlahan digantikan oleh gagasan perjuangan kelas.
Tetapi di sisi lain, diskursus yang sama dicoba untuk dikode ulang dalam bahasa biologis dan medis.
Dari sinilah, menurut MF, rasisme mulai lahir sebagai bentuk baru dari kontra-sejarah yang sudah kehilangan dimensi historisnya.
Perubahan pokoknya adalah ini: tema perang historis diganti dengan tema perjuangan biologis untuk hidup.
Masyarakat tidak lagi dipahami sebagai dua ras yang berhadapan karena sejarah penaklukan, melainkan sebagai satu tubuh sosial yang secara biologis dianggap tunggal, tetapi terancam oleh unsur-unsur asing, devian, atau menyimpang.
Maka negara yang sebelumnya tampil sebagai alat ketidakadilan satu ras atas ras lain kini dibalik menjadi pelindung integritas, superioritas, dan kemurnian ras.
Karena itu, bagi MF, rasisme bukan sekadar tambahan ideologis yang menempel dari luar pada politik anti-revolusioner.
Ia justru merupakan pembalikan dari diskursus revolusioner itu sendiri.
Jika dulu diskursus perjuangan ras dipakai untuk melawan sejarah kedaulatan Romawi, maka kini diskursus tentang ras dalam bentuk tunggal dipakai kembali oleh negara untuk memperkuat kedaulatannya.
Di sini terjadi peralihan: dari hukum ke norma,
dari yuridis ke biologis,
dari pluralitas ras ke ras tunggal,
dan dari proyek pembebasan ke obsesi kemurnian.
Rasisme Negara: Nazi dan Uni Soviet
MF kemudian menambahkan bahwa pada abad ke-20 bentuk ini berkembang menjadi rasisme negara, dan ia melihat dua transformasi utamanya.
Yang pertama adalah bentuk Nazi, yang menggabungkan rasisme negara dengan mitologi populer, legenda perang ras, heroisme, nubuat, dan imajinasi apokaliptik.
Yang kedua adalah bentuk Soviet, yang bergerak lebih diam-diam dan scientistic: diskursus perjuangan kelas diserap ke dalam mekanisme polisi dan higienisme sosial, sehingga musuh kelas dibaca sebagai bahaya biologis, sebagai yang sakit, menyimpang, atau gila, dan karena itu harus dieliminasi seperti musuh ras.
Jadi, diskursus perjuangan ras memiliki sekaligus kemenangan dan keburukan.
Di satu sisi ia memutus kesadaran sejarah yang berpusat pada kedaulatan dan membuka sejarah tentang penaklukan, pembebasan, dan revolusi.
Tetapi di sisi lain ia juga bisa direbut kembali oleh negara dan diubah menjadi bahasa administrasi, normalisasi, dan pemurnian.
Karena itu pertanyaan akhirnya bukan lagi sekadar apa yang di dalam sejarah memuji Roma, tetapi juga:
bagaimana Roma, dalam bentuk baru, dapat menaklukkan revolusi itu sendiri.
Leave a Reply