Foucault dan Geopolitik: Eksposisi Berseri tentang Kekuasaan

Sejujurnya, saya temukan nama Foucault cukup lama, tapi sekian lama juga saya mengabaikannya.

Pada satu sore, sekitar 11 tahun silam, di tengah menunggu salah satu sesi kursus politik yang diadakan di tempat kos salah satu peserta, saya menemukan sebuah buku, “Introducing Foucault”. Akan tetapi komik tersebut masih kalah menarik dengan judul lain dalam seri yang sama, Introducing Marx, yang kebetulan salah satu bagian dari karyanya akan kamu bahas sore itu. Saya tidak terlalu ingat apa topik spesifik sore itu, yang pasti mengenai ekonomi politik, dan kami telah berhari-hari mengunyah halaman demi halaman sebuah diktat mengenai kapitalisme. Foucault menjadi tidak menarik, menjadi bagian dari sekelompok intelektual yang dengan cap “posmo”, kami – para peserta kursus- akan menghindari membaca karya-karya mereka.

Kali kedua saya menemukan nama Foucault, adalah ketika di saat mempelajari Geopolitik. Buku Geraroid O Tuathail, Critical Geopolitics, memperkenalkan saya kepada “pengaruh” Foucault ke dalam studi Geopolitik, khususnya kepada perkembangan Institut Français de Géopolitique (IFG) yang dipelopori Yves Lacoste, dan merupakan tempat saya mengikuti studi geopolitik. O Tuathail mencoba memperlihatkan aliran pengaruh ini: Edisi pertama Hérodote, jurnal berkala IFG, memuat secara spesial wawancara dengan Foucault. Relasi lainnya, kelompok akademisi geografi yang di kemudian hari membentuk IFG dan juga Foucault adalah para pengajar dalam sebuah universitas eksperimental (Université de Vincennes, kini Université Paris 8).

Hanya saja saya tidak se-antusias O Tuathail soal Foucault dan IFG. Deleuze, Lacan, Guattari, Badiou juga tercatat sebagai pengajar di sana. Kenapa tidak sekalian membahas mereka? Tanggapan dari akademisi yang terhubung dengan Hérodote, yang diperlihatkan dalam buku Space, Knowledge, and Power; Foucault and Geography oleh J.W Crampton et al juga belum cukup memuaskan. Tapi saya kembali teringatkan, serial ini hanyalah sebuah eksposisi pemikiran. Saya tidak sedang membangun sebuah teori atau mencari suatu teori untuk menjelaskan keseluruhan peristiwa dunia. Saya ingin menempatkan Foucault dan para penerjemahnya sebagai sekumpulan alat yang praktis, meski bukan model tipsani (kutip sana dan sini), dalam berpikir dan melakukan analisa geopolitik.

Mengapa karya Foucault?

Meminjam Yves Lacoste, term geopolitik merujuk kepada hal-hal yang berkaitan dengan pertarungan (atau persaingan) antar kekuasaan dan pengaruh di atas berbagai wilayah dan populasi yang hidup di atasnya. Artinya kita akan bicara banyak soal kekuasaan, pengaruh, wilayah/territori, dan populasi.

Pada umumnya, istilah kekuasaan dalam geopolitik akan selalu dikaitkan langsung dengan negara. Wajar saja, sedari awal ia diperkenalkan, sebagian besar diskusinya adalah mengenai negara, wilayah, dan populasi. Alam berpikirnya masih yuridis, seputar konsep kedaulatan yang tercipta ratusan tahun sebelumnya setelah Perjanjian Westphalia. Dan sialnya, pengaruh Darwin juga cukup kuat. Tangan yang memegang pena yang menuliskan kata “geopolitik” (bahasa Jerman) adalah milik Rudolf Kjellen, geografer kelahiran Swedia yang menghabiskan waktu belajarnya di bawah Friedrich Ratzel, ahli biologi yang beralih profesi menjadi geografer dan etnografer, yang ditangannya kata “Lebensraum”, wilayah hidup, ditorehkan. Buku sejarah SMA mengajarkan kita bahwa doktrin “Lebensraum” adalah milik Nazi Jerman, sebuah gerakan yang mengagungkan negara totalitarian. Lengkap sudah asal-muasal geopolitik sebagai kerangka berpikir kenegaraan…

Tapi dengan mempelajari perjalanan studi geopolitik dari waktu ke waktu, seperti yang diungkapkan O Tuathail dalam bukunya Critical Geopolitics, kita dapat melihat mengapa riset-riset Foucault yang ditelurkan dalam berbagai kuliah umum (selama 15 tahun di College de France) dan buku-bukunya menjadi relevan. Notion kekuasaan yang digunakan Foucault menjadi penting untuk membongkar kerangka diskursus kenegaraan yang mendominasi pembahasan geopolitik. Konsep yang tak perlu menjadi sempurna tersebut membuka mata kita untuk memasukkan perlawanan terhadap kebijakan negara sebagai bagian yang harus dianalisa dalam studi geopolitik. Ia juga dapat membuka halaman-halaman baru dalam pencarian bentuk-bentuk perlawanan yang dapat membongkar status quo berbagai sistem yang sebenarnya rapuh tapi bertahan melalui instrumen-instrumen administrasi dan kekerasan seperti neoliberalisme.

Dalam kerangka konsep kekuasaan tadi, pembahasan mengenai territorialitas (upaya perorangan atau kelompok untuk mempengaruhi atau menegakkan kendali atas sebuah wilayah) menjadi lebih luas. Perencanaan perkotaan, misalnya, bukan lagi sebatas keahlian yang harus dimonopoli oleh para teknokrat yang selalu mencari restu para politisi, namun bisa menjadi ruang pertempuran antara mereka yang beraspirasi dominan, mengasumsikan kota seperti halnya halaman belakang mereka (gardening gaze), melawan mereka yang harus disingkirkan, yang harus ditendang dari kota karena mengganggu kerapian, ketertiban, ataupun keindahan kota.

Apa yang bisa didapat?

Jika kita mencari totalitas teoritik, universalitas, dan lain sebagainya, pembahasan karya Foucault tidak akan cocok. Undangan Foucault dalam Kuliah Pembuka “Il faut défendre la société” (”Masyarakat harus dipertahankan”, judul yang agak aneh sebenarnya), tanggal 7 Januari 1976, berlaku untuk mereka yang sedang mencari perangkat praktis dalam eksplorasi mengenai efek-efek kekuasaan dalam masyarakat.

Eksposisi yang akan saya lakukan sebenarnya menelusuri kuliah-kuliah umum yang diberikan Foucault antara tahun 1976-1979. Kuliah-kuliah ini terpilah dalam tiga tema utama: Il faut défendre la société; Securité, territoire, et population; dan La naissance de biopolitique.

Tema pertama diberikan antara Januari-Maret 1976, berkisar mengenai konsepsi dan konstitusi kekuasaan dan pengetahuan, menariknya dengan fokus pada pembalikkan kalimat terkenal von Clausewitz, menjadi “politik adalah kelanjutan dari perang dalam alat-alat yang lain”.

Tema kedua, kelanjutan dari tahun sebelumnya, diberikan antara Januari-April 1978, berkutat pada instrumen-instrumen kekuasaan dalam notion biopower, sebuah konsep yang mengetengahkan bahwa mulai akhir abad 17, negara-negara Eropa Barat mulai menjadikan aspek-aspek kehidupan sebagai objek kekuasaan.

Tema ketiga, diberikan setiap minggu pada Januari-April 1979, merujuk pada konsep biopolitik dan kaitannya dengan, cukup mengejutkan, neo-liberalisme. Cukup mengejutkan, karena Foucault telah bicara tentang neo-liberalisme, tepat sebelum pemerintahan Thatcher dan Reagan. Dan tampaknya masih belum banyak orang yang mengkaitkan Foucault dengan kritik terhadap neo-liberalisme. Dan bahkan para periset atau pemikir “Foucauldian” terlihat sangat jarang membicarakan eksposisi Foucault tentang neo-liberalisme.

Akhir kata, eksposisi berseri ini adalah eksplorasi saya dalam tiga tema karya Foucault. Saya jelas mengharapkan adanya perubahan dalam metode analisa yang saya gunakan di akhir perjalanan ini.

Facebook Comments

2 comments for “Foucault dan Geopolitik: Eksposisi Berseri tentang Kekuasaan

  1. admin
    September 29, 2009 at 12:05 am

    Berikut adalah tanggapan yang masuk ke catatan yang sama di Facebook:

    Harry Wibowo (Sabtu, 26/09/2009)

    Roy,

    meski tanpa acuan langsung Ben Anderson pada Foucolt, aku jadi ingat dan menangkap kemiripan 'metoda' analisisnya terhadap konsep kekuasaan Jawa, terutama dalam “The Idea of Power in Javanese Culture.” (1972) dgn konsep2 Foucolt tentang "teknologi kuasa", "biopower", "power/knowledge". Meski mungkin dengan 'implikasi' yg berkebalikandi antara Foucolt – Anderson: deconstructionist – constructionist (?) normalization – rationalization (?) Someday, ingin komentar/ ulasanmu soal ini. Salam hangat.

    Aboeprijadi Santoso (Sabtu, 26/09/2009)

    Ben Anderson seingat saya di "The Idea .." itu cerita ttg Raja Jawa yg membuat perempuan idamannya tiba2 menikmati orgasme, pdhal perempuan itu secara fysik jauh dr Raja itu. Dia lagi di pasar, Rajanya ada di istana. Ini ide 'kuasa' yg lahir, menjelma di ranah privasi lantas juga berperan di ranah kenegaraan Saya kira Foucault juga melihat genesis dari fenomena kuasa itu juga dari ranah privasi. 'Author', 'author-ship' menjadi awal mula 'kuasa' tanpa si author, penulis dari tulisan apa pun menyadarinya. Di TimTim pejuang Fretilin melihat 'ulik' (jimat utk bisa menghilang) sbg suatu keunggulannya (dgn kata lain leverage, kemenangan kuasanya) atas penjajah ABRI. Menarik, cuma sayang Foucault pd zamannya agak dijauhkan dr pustaka Anglo-Saxon. tabik dulu.

    Harry Wibowo (Sabtu, 26/09/2009)

    ralat, maaf keliru menulis eja, seharusnya "Foucault".

    Tossi, mengingatkan, izinkan saya kutipkan beberapa ungkapan Ben dari "The Idea..": “power in traditional Javanese political thought is seen as an intangible, mysterious, and divine energy that animates the universe… [dan] manifested in every aspect of the natural world, in stones, trees, clouds, and fire.”

    Tafsir saya terhadap "The Idea of Power.." -nya Ben: kuasa dalam konsep budaya Jawa = energi, seperti tunduk pada hukum thermodinamika: kesimbanagn enerji (entropy). Mungkin beda dgn Foucault, di mana kuasa bersifat produktif, diproduksi, dimainkan seperti teknologi…? Entahlah…? Ini common sense saya.

Leave a Reply