Indonesia vs Malaysia: Sengketa Siapa Yang lebih Melayu

BERITA-berita “pertarungan” Indonesia-Malaysia kini bak tiada habisnya. Sepertinya, setiap sekian minggu akan muncul di berbagai media cetak dan elektronik Indonesia kisah-kisah keagresifan dan ketamakan Negeri Jiran tersebut. Mulai dari perlakuan RELA terhadap Warga Negara Indonesia, dipatenkannya batik oleh perusahaan Malaysia, situs blog ihateindon.blogspot.com, dan yang terkini, kolektor-kolektor Malaysia dituduh oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) melakukan pencurian naskah-naskah kebudayaan Melayu di Nusantara.

Seperti kita ketahui bersama, goresan awal dari konflik antara dua nasion ini terletak pada menangnya Malaysia dalam kontes siapa yang boleh memiliki dua pulau Sipadan dan Ligitan. Kelanjutan dari peristiwa tersebut adalah minggu-minggu tegang di perairan Ambalat yang puncaknya adalah “tabrakan” antara dua kapal perang masing-masing dari kedua negara. Di sisi lain, tak bisa dilepaskan juga dari memori kita peristiwa eksodus besar-besaran buruh migran Indonesia ke Nunukan, sebuah kota kecil perbatasan di Kalimantan Timur. Menariknya, masalah representasi Malaysia di Indonesia ini sebenarnya bergerak dari berbagai faktor yang sama sekali awalnya tak berhubungan, namun secara bersamaan menunjukkan adanya cacat besar pada nasionalisme masing-masing negeri. Dan ini tampaknya tak disadari oleh banyak pihak. Beberapa waktu lalu, Majalah Tempo terbit dengan judul “Encik Maunya Apa?”. Tulisan ini berupaya mengidentifikasi faktor-faktor tersebut.

Krisis Lapangan Pekerjaan

Kasus-kasus kekerasan yang dialami oleh warga negara Indonesia di Malaysia yang diberitakan akhir-akhir ini sebenarnya adalah sebuah gejala dari sebuah persoalan yang cukup signifikan di Malaysia dan Indonesia.

Banyak warga Malaysia, terutama dari etnik Melayu, yakin bahwa orang Indonesia hanyalah sumber masalah, pelaku “jenayah” alias tindak kriminal, dan lain sebagainya. Berita-berita di koran-koran sensasional Malaysia juga memperkuat kesan ini dengan menghubungkan kasus-kasus kriminal yang tak terselesaikan dengan keberadaan buruh migran Indonesia.

Mengapa representasi “Indon=Jenayah” menjadi kuat di Malaysia? Salah satu alasannya adalah adanya 1,5 juta buruh migran Indonesia dari total 2 jutaan buruh migran di seluruh Malaysia. Negeri Jiran ini sendiri berpenduduk sekitar 23 juta, artinya buruh migran Indonesia bisa mencapai 10% jumlah populasi dewasa Malaysia. Representasi “Indon=Jenayah” kemudian sangat jelas adalah cerminan dari kompetisi lapangan pekerjaan di Malaysia, di mana banyak warga Malaysia, terutama dari etnik Melayu, merasa tersingkirkan.

Menurut Majalah Economist, angka pengangguran di Malaysia mencapai 3,5 persen, jauh di bawah Indonesia yang mencapai 9,8 persen. Namun banyaknya anggota aktif RELA, milisi binaan Kementrian Hal Ehwal Dalam Negeri, menunjukkan banyaknya warga Malaysia yang tersingkir dalam pasar tenaga kerja. Belakangan, Pemerintah Malaysia memutuskan untuk membayar RM 4 dan menurut Komandan Rela Datuk Zaidon Asmuni, anggota RELA bekerja setidaknya 8 jam sehari tanpa lembur. Bukan sesuatu yang baru di dunia ini, para pengangguran dibujuk untuk masuk ke dalam milisi buatan pemerintah. Indonesia juga telah melakukan hal yang sama dengan pembentukkan Kamra dan Satpol PP, dengan tugas-tugas dan terkadang kebrutalan yang sama.

Kembali mengenai 1,5 juta buruh migran Indonesia di Malaysia, sumber utama dari fakta ini adalah ketidakmampuan ekonomi Indonesia dalam menyediakan lapangan pekerjaan dengan pendapatan yang layak. Sebagian besar buruh migran Indonesia berasal dari wilayah-wilayah semi perkotaan semi pedesaan, wilayah-wilayah dimana ekonomi pedesaan masih mendominasi sementara pertumbuhan penduduk dan tempat tinggalnya sudah perkotaan. Kota-kota kecil di Jawa adalah daerah asal sebagian besar buruh migran, di mana lapangan pekerjaan tidak lagi memadai untuk angkatan kerjanya.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyadari benar besarnya pendapatan masuk yang dapat diperoleh dari buruh migran. Ini yang membuat “ekspor” buruh migran menjadi bagian dari “strategi” pendapatan nasional. Ini bisa kita lihat dari spanduk-spanduk “Selamat Datang Pahlawan Devisa” di berbagai bandara internasional Indonesia, dan keberadaan terminal khusus buruh migran di Bandara Soekarno Hatta. Daripada membangun industri nasional yang menyerap tenaga kerja dengan upah yang layak, pemerintah memilih mendapatkan devisa dari “ekspor” tenaga kerja.

Tekanan terhadap Rejim UMNO

Faktor lainnya yang turut mendorong pertarungan ini adalah tekanan terhadap kekuasaan UMNO dari berbagai elemen masyarakat. UMNO merupakan organisasi politik yang berdiri untuk mendapatkan perlindungan-perlindungan khusus etnis Melayu dalam berhadapan dengan etnis India dan Cina. Sejarah perkembangan UMNO sendiri adalah kelanjutan dari organisasi serupa yang meminta hak-hak khusus tersebut dari pemerintah kolonial Inggris. Ketika sebagian besar etnis Cina bersimpati dengan gerakan kemerdekaan yang dipimpin oleh pemberontakkan Partai Komunis Malaya, pemerintah kolonial Inggris memberikan konsesi kemerdekaan kepada elit Melayu.

Tuntutan-tuntutan demokratik yang dikumandangkan mulai menggerogoti legitimasi kekuasaan UMNO. Belakangan ini Malaysia mengalami demonstrasi-demonstrasi besar yang menuntut kebebasan demokratis yang lebih luas dalam bentuk Pemilihan Umum yang bersih. Kalangan minoritas, seperti etnik keturunan India, juga melakukan aksi-aksi protes untuk mengedepankan kepentingan mereka yang selama ini yang berada di bawah diskriminasi pro-Melayu.

Dalam posisi demikian, UMNO berupaya untuk memperkuat legitimasinya dengan mencari dukungan dari etnis Melayu. Di sinilah pemerintah yang didominasi UMNO mencoba menegaskan peran mereka sebagai pelindung etnis Melayu. Pemerintah mulai mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang secara visual dapat dianggap melindungi etnis Melayu, ini juga yang menjelaskan mengapa begitu banyak wewenang yang diberikan kepada RELA. Kedua, adanya kecenderungan untuk membentuk identitas nasional yang mendukung kesan tersebut.

Sengketa Nasionalisme

Di tengah sebuah dorongan untuk melegitimasi pemerintahan yang berlandaskan diskriminasi pro Melayu, sangat wajar jika akan muncul dorongan-dorongan lain untuk melegitimasi ke-Melayu-an Malaysia. Seperti halnya nasionalisme Indonesia pada masa kini, nasionalisme Malaysia merupakan nasionalisme resmi yang didesakkan oleh elit sebagai reaksi terhadap nasionalisme popular yang berlandaskan gerakan sosial untuk kemerdekaan. Nasionalisme resmi sangat mengandalkan klaim-klaim masa lalu, mencari-cari di dalam tradisi hal-hal yang mengesahkan sebuah masyarakat adalah sebuah bangsa yang sudah ada dari dahulu kala.

Dalam kasus Malaysia, memang hal tersebut terkait juga dengan industri pariwisata yang mengandalkan identitas keunikan sebagai elemen pemasarannya. Ini membuat adanya semacam insentif untuk mewujudkan identitas tersebut dengan menggunakan misalnya lagu “Rasa Sayange” ataupun dipatenkannya batik Malaysia.

Persoalannya kemudian, Indonesia sebagai negeri yang bertetangga dengan Malaysia juga memiliki pengaruh kebudayaan Melayu yang sangat kuat, bahkan menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Nasionalisme Indonesia juga tak kalah resminya dengan nasionalisme Malaysia. Sebagian besar orang Indonesia telah “didoktrin” dengan kebanggaan nasional yang berlandaskan pada klaim-klaim masa silam, termasuk juga elemen-elemen kebudayaan seperti lagu “Rasa Sayange” dan seni membatik. Jika seluruh elemen kebudayaan Melayu sudah diklaim oleh Malaysia, apalagi yang dimiliki Indonesia yang bisa diklaim sebagai akar dari bangsa Indonesia?

Sengketa Indonesia-Malaysia sebenarnya menunjukkan bahwa nasionalisme yang dominan baik di Indonesia dan Malaysia sebenarnya tidak memiliki dasar apa-apa untuk masa depan. Klaim berdirinya bangsa Malaysia dan Indonesia hanyalah fantasi tentang masa lampau, itulah sebabnya akan selalu muncul konflik di antara kedua negeri.***

Technorati Tags: , ,

Facebook Comments

13 comments for “Indonesia vs Malaysia: Sengketa Siapa Yang lebih Melayu

  1. August 19, 2008 at 8:05 am

    Salam

    Permasalahan ekonomi Indonesia yang tidak pulih serta jumlah tenaga kerja kasar perlu menjadi perhatian pemerintah.

    Arsip National Geographic 1955, Indonesia Sang Raksasa Muda, NG Edisi Agustus 2008.
    Menyebutkan Indonesia yang bersemangat untuk membangun negara sesudah perang melawan agresi militer Belanda 1947-1949. Indonesia dengan potensi SDA yang lengkap membuka perhelatan akbar anti kolonialisme, Konferensi Asia Afrika, 1955.

    Ada kutipan pernyataan di majalah itu “Jawa masa lalu dan Sumatra masa depan”, saya pikir peristiwa PRRI dan Permesta 1957 terjadi sesudah intelektual-intelektual indonesia membaca majalah tersebut. Majalah tersebut terbatas jumlahnya saat itu dan hanya kalangan tertentu yang dapat mengakses majalah tersebut.

    SDA di Jawa sudah di keruk oleh Belanda, jalur jalan dan jalan kereta api untuk menghubungkan sentra perkebunan dan pertanian sudah terbentuk. Sementara di Sumatra infrastruktur belumlah lengkap dan SDM masih terbatas.

    Masih banyak pekerjaan rumah untuk membangun Sumatra lebih baik, menata perencanaan, upah yang layak, asuransi yang memuaskan, penyiapan akomodasi yang layak, pendidikan dan kesehatan yang baik, sarana perumahan yang sehat bagi pekerja. Muscle gain and brain gain dari tenaga yang terlatih dan terdidik dari Malaysia dapat dimanfaatkan membangun Sumatra, tanah air sendiri tanpa konotasi Indon atau Jenayah.

    Salam

    A U G I
    augispot.blogspot.com

  2. nothing 2 display
    May 17, 2010 at 3:17 pm

    sory to say..
    UMNO mmprtahankn Melayu bukn sbb nk publisiti murahn..
    tetapi sudah perjanjian pada saat orang Cina dan India berkeputusan untuk tinggal tetap di sini..ketika perjanjian itu belum lagi merdeka..
    MEREKA perlu setuju mengakui KEISTIMEWAAN ORANG MELAYU…
    jadi tiada sebab kenapa mereka tak boleh terima keistimewaan orang melayu, walhal nenek moyang mereka telah bersetuju untuk memenuhi semua syarat yang bagi kami cukup untuk meletakkan Malaysia ke ambang penjajahan baru..tapi kami tak kisah,kami berfikiran luas..
    kerana mahukan perpaduan,kami rela membenarkan cina dan india menjadi warganegara Malaysia..
    tidak cukupkah pengorbanan rakyat Melayu??
    adakah kami terpaksa menyerahkan segala-galanya termasuk sekeping tanah yang tak ternilai harga ni kepada mereka semata-mata untuk memuaskan hati anda??
    FIKIRLAH!!
    sedangkan anda sendiri tidak dapat menerima kami orang melayu yg memang berasal dr Indonesia,inikan pula nak menerima orang yang lain kaum dengan anda…

    • May 27, 2010 at 3:28 am

      Bisa anda perjelas perjanjian yang dimaksud? Siapakah yang memfasilitasi perjanjian tersebut, apakah kekuasaan kolonial Inggris? Ataukah salah satu kesultanan yang kini menjadi bagian Federasi Malaysia?

      By the way, diskusi ini perlu diletakkan dalam tataran indvidu menilai sebuah bangsa, bukan individu mewakili bangsa (misal, sebagai Presiden Republik Indonesia). Jadi tidak ada urusannya dengan kepuasan hati dan lain sebagainya.

  3. Udin Petot
    August 26, 2010 at 8:23 am

    Maaf jika saya ikut tukar pendapat disini..kebetulan aktifitas saya selalu berhubungan dengan Malaysia..saya merasa selama ini saya diberlakukan wajar dan diterima di malaysia…saya suka bertukar pendapat ttg hal ini dgn teman2 di Malaysia..teman2 disana tak menapik ketika di tanya apakah turun temurun mereka banyak yg bersal dari berbagai suku di Indonesia…bahkan mereka cukup bangga mengatakan hal spt itu..
    ..jd pemahaman orangnya yg biasanya berbeda2 tergantung Influece,didikan orang tua,pendidikan formal lingkungan dll…tentu sangat beragam ketika ditanya tentang hal ini…
    ..bagi saya politik adalah alat penguasa yg ingin program2 dan doktrinnya tercapai..tentu ini kergantung siapa yg berada diatas Panggung…berbagai isu mengenai Etnis,budaya,..dan bahaya 2yg akan mengancam selalu di jadikan tameng untuk bs mengalihkan object yg dituju…
    …saya setuju dgn Umno tentang prioritas Melayu yg memang harus berdiri diatas tanah mereka sendiri…spt halnya Japan, Korea,India,China…mereka pun melakukan hal yang sama…lalu dimana dan siapa bangsa Melayu itu ?…Bangsa Melayu sebenarnya tersebar dari Indonesia hingga perbatasan Thailand…ini yg dinamakan bangsa serumpun..cuma berlainan Ideologi karena dibatasi oleh Politik…
    ..membicarakan tenteng Kesultanan ada baiknya kita jg membicarakan sejarah,…jauh sebelum indonesia merdeka , malaysia berdiri..sudah ada Kesultanan Melaka, Kesultanan Johor,Kesulatanan Pahang dan sebagainya…tetapi jauh lebih lama lagi di tanah Sumatra sudah ada Kesultanan Sriwijaya kemudian di tanah jawa ada Kesultanan Mataram , Majapahit ,di sulawesi ada Kesultanan Tidore..dan lain2..(maaf saya tidak berdiskusi ttg detail sejarah disini)
    ..tapi intinya adalah telah terjadi komunikasi baik itu perdagangan,agama,budaya pada di zaman itu..dan itu sudah berlangsung ribuan tahun…
    ..jadi ada sebab akibat disini…pertukaran budaya lokal,cara komunikasi,transaksi,pemahaman agama dll…
    ..generasi kita adalah hasil dari generasi2 sebelum kita…tinggal bagaimana kita memandangnya masing2..
    ..tentu kita perlu berdiskusi,berdiplomasi,ber Argumentasi…cuma hendaknya disertai dengan bobot kualitas ,databse yg benar sebelumnya agar Arogansi,merasa benar sendiri bs di kesampingkan..jangan pula kita mempertahankan sesuatu argumen yg belum tentu benar dan kemudia kita pertahankan mati2an..itu sama saja kita berjalan tanpa pakai celana sambil marah2 tapi kita gak tahu "burung" kita bergelantung…sekina dan terimakasih..

    -Udin Petot-

    • Rio
      September 1, 2010 at 8:08 am

      Saya setuju dgn anda! Seperti halnya etnis tionghoa di Indonesia yang turun-menurun mewariskan kebudayaan mereka kepada anak cucu-nya. Bagaimana pula jika RRC mengecam penggunaan Barongsai di negara kita? *Sebagai renungan..

    • September 1, 2010 at 4:07 pm

      saya setuju sama sampeyan, tapi kalau masalah kedaulatan itu harga mati bung

  4. arik
    August 30, 2010 at 9:46 pm

    aq hax ingin blang kpd pmerintah yg tegas. sperti era bung karno. ganyang malaysia. krn qta lbh baik msti berdori daripada harga dri bangsa d injak injak

  5. yulius
    September 1, 2010 at 8:18 am

    sya ska dngan komen anda,,,,, dlu bangsa qta mendapat jlukan macan asia, tp skrang hanyalah knangan masa lalu yg cma qta bsa ingat….. stelah perjuangan pra pahlawan ntuk memerdekakan bangsa ni, hanyalah sia-sia klau stu perstu dri mlik bangsa ni di ambil ngra lain…..

  6. dodol
    September 1, 2010 at 11:24 am

    saya setuju kalo kita ingin memerangi malaysia malah saya tunggu, tapi kita juga harus mengambil suatu point bahwa negara kita kurang menghargai apa yang dipunyai…
    kita selalu menganggap remeh permasalahan dan tidak menghargai hasil karya dan sejarah…
    kalo kita lihat permasalahan ini ada kepentingan politik nya ….
    contoh : negara luar yang mengambil pasir kita secara ilegal … siapakah yang kenyang tentu pejabat kita dan yang berkepentingan…makanya tidak ada tindakan tegas terhadap penjahat2 ilegal tsbt krn hukum kita hanya berlaku bagi rakyat kecil saja..bagi pejabat bullshit itu hukum…semua di rekayasa..

  7. dodol
    September 1, 2010 at 11:30 am

    terkadang saya berfikir tidak adakah orang pintar dan jujur di negara ini karena saya lihat semua hanya sandiwara…hanya mementingkan kepentingan diri sendiri…penguasa hanya berfikir bagaimana cara mengalirkan uang ke kantongnya…contoh kasus century yang gak pernah selesai dan emang gak akan pernah selesai karena banyak pejabat yang terkait…artinya kkn di negara kita sudah berakar…
    masalah perbatasan di kalimantan … lebih nyaman dan murah kehidupan di malaysia dibandingkan indonesia…lebih dihargai mereka di malaysia daripada di indonesia….jadi

  8. dodol
    September 1, 2010 at 11:37 am

    dulu kita bangga rakyat malaysia banyak yang menimba ilmu ke indonesia…sekarang malah terbalik bahkan kualitas pendidikan disana lebih baik daripada indonesia…kasihan…kasihan…kasihan…
    penilaian saya adalah tidak orang yang pintar dan jujur di pemerintahan indonesia….mereka semua hanya berpikir bagaimana cara mengembalikan modal mereka yang habis saat mereka ingin menduduki sebuah jabatan…contoh anggota dewan kita kalo soal uang yang akan dibagikan mereka bersemangat n hadir selalu tapi coba kalo ngomongin masalah rakyat n korupsi gak pernah selesai dan selalu absen(alpa)…kalo penilaian saya pemerintahan kita n dewan kita pintar nya hanya satu….yaitu ngabisin duit rakyat…mainin perempuan…

  9. dandanggulo
    September 2, 2010 at 9:33 am

    Indonesia dan Malaysia memiliki banyak persamaan budaya, karakter, sikap, bahasa, agama dll antaranya pada Jaman Majapahit ketika dibersatukannya Nusantara wilayahnya meliputi Malaysia sekitarnya,, jadi orang Malaysia yg leluhurnya berasal dari Indonesia ( Melayu )masih saudara kita. Dan biasanya kalau dg saudara sendiri sering ribut-ribut, maka manfaatkan persamaan-persamaan diantara 2 bangsa untuk menyelesaikan masalah, kalau ada perbedaan-perbedaan dan itu kemudian jadi masalah karena diduga ada kegiatan asing yang sengaja untuk menimbulkan keresahan, permusuhan yg akhirnya akan melemahkan 2 bangsa. jadi waspadalah, jangan emosional,dan kalau sudah menyangkut keutuhan NKRI harus dibela sampai mati.

  10. bayu sentana
    September 2, 2010 at 9:50 pm

    Saya setuju dengan Furi, klo soal kedaulatan itu HARGA MAT!!!!!!!